Shalat Tahiyatul Masjid Menurut Syariat Agama Islam

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan umatnya untuk melakukan shalat dua rakaat saat memasuki masjid. Akan tetapi faktanya sebagian besar masyarakat melakukan shalat dua rakaat tahiyatul masjid ini ketika datang ke masjid untuk shalat saja. Sedangkan jika tidak ada tujuan untuk shalat berjamaah biasanya tidak ada yang melakukan shalat tahiyatul masjid.

Pertanyaannya, sebenarnya apakah shalat tahiyatul masjid itu hanya dilakukan ketika kita datang ke masjid untuk melakukan shalat saja? Bagaimana jika datang ke masjid karena ada urusan atau hanya sekedar beristirahat di masjid, apakah juga termasuk diperintahkan untuk melakukan shalat tahiyatul masjid?

Shalat tahiyatul masjid memang banyak dilakukan ketika kaum muslimin memasuki masijd saat hendak shalat karena kebanyakan kaum muslim memasuki masjid untuk melakukan shalat maka ketika seseorang masuk masjid dan bermaksud duduk di dalamnya disyariatkan baginya dua rakaat shalat tahiyatul masjid.

Hal ini berdasarkan hadits yang dituturkan Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Jika salah seorang dari kalian masuk masjid maka hendaklah dia shalat dua rakaat sebelum duduk.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu pernah bercerita:
“Sulaik Al Ghathafani masuk masjid pada hari jum’at disaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhutbah dan langsung duduk maka Nabi langsung berkata kepadanya “Wahai Sulaik, bangun dan shalatlah dua rakaat! Kerjakanlah dengan ringan!” Kemudian beliau bersabda “Jika salah seorang diantara kalian datang pada hari jum’at sedangkan imam sedang berkhutbah maka hendaklah dia shalat dua rakaat dan hendaknya dia mengerjakannya dengan ringan”.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Pakar hadits Ibnu Hajar rahimahullah berkata bahwa tahiyatul masjid adalah shalat yang dilakukan sebanyak dua rakaat dan dikerjakan oleh seseorang ketika masuk ke masjid. Adapun hukumnya adalah sunnah berdasarkan konsensus ulama. Dengan demikian, shalat tahiyatul masjid dianjurkan bagi kaum muslim yang memasuki masjid apapun tujuannya termasuk ketika ingin beristirahat saja.

Hanya saja para ulama mengecualikan beberapa orang seperti imam dan khatib jum’at yang akan menyampaikan khutbah dan mengimami shalat jum’at dan juga pengurus masjid yang sering keluar masuk masjid karena jika setiap kali keluar masuk masjid diharuskan melaksanakan shalat tahiyatul masjid tentu akan memberatkan, juga orang yang masuk masjid saat imam sudah mulai shalat fardhu atau setelah selesai iqamah karena shalat fardhu telah cukup walaupun tidak shalat tahiyatul masjid.

Ibnu Hajar juga menyebutkan bahwa seorang imam cukup melaksanakan shalat fardhu saja tanpa tahiyatul masjid karena biasanya dia datang di akhir waktu dan kedatangannya dijadikan sebagai tanda untuk mengumandangkan iqamah namun jika dia datang sejak awal waktu maka tetap dianjurkan mengerjakan shalat tahiyatul masjid berdasarkan makna umum sabda Nabi,
“Jika salah seorang diantara kalian masuk ke masjid maka janganlah duduk sehingga shalat dua rakaat terlebih dahulu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Shalat tahiyatul masjid ini disyariatkan untuk menghormati masjid. Namun begitu bukan berarti shalat dua rakaat itu diperuntukkan kepada masjid tapi kepada Allah subhanahu wa ta’ala Sang Pemilik Masjid.

Lalu bagaimana jika seseorang datang ke masjid untuk shalat berjamaah kemudian dia langsung duduk sambil menunggu iqamah, apakah dia harus berdiri lagi untuk melaksanakan shalat tahiyatul masjid?

Lalu bagaimana pula jika seseorang datang ke masjid untuk shalat dzuhur misalnya akan tetapi waktunya hanya cukup untuk shalat dua rakaat sementara dia ingin shalat dua rakaat tahiyatul masjid dan shalat sunnah dua rakaat qabliyah, manakah yang didahulukan?

Shalat tahiyatul masjid dilakukan kapan saja selama seseorang itu memasuki masjid sekalipun di waktu-waktu terlarang shalat sunnah, shalat tahiyatul masjid tetap dianjurkan karena shalat tahiyatul masjid termasuk shalat yang berkaitan dengan sebab yaitu karena masuk masjid.

Dari sini bila ada orang yang sudah duduk sebelum shalat maka tidak dianjurkan untuk mengerjakan shalat tahiyatul masjid lagi karena telah kehilangan kesempatan yaitu ketika masuk masjid sebelum duduk. Kecuali bila dia langsung duduk karena tidak tahu atau lupa belum mengerjakan shalat tahiyatul masjid maka ia tetap dianjurkan untuk mengerjakannya karena orang yang memiliki alasan lupa atau tidak tahu tidak kehilangan kesempatan untuk mengerjakan shalat tahiyatul masjid dengan syarat jarak antara duduk dengan waktunya tidak terlalu lama.

Bahkan bila ketika masuk masjid, khutbah jum’at sedang berlangsung maka tetap disunnahkan untuk mengerjakan shalat tahiyatul masjid meskipun secara ringan saja terkecuali bila khutbah hampir selesai dan menurut dugaan kuat akan ketinggalan shalat jumat jika mengerjakan shalat tahiyatul masjid maka tidak perlu melaksanakannya tetapi menurut sebagian ulama sebaiknya dia menunggu shalat jumat sambil berdiri.

Lalu apabila ada orang yang masuk masjid saat adzan sedang dikumandangkan maka yang harus dilakukan adalah menjawab adzan dalam posisi berdiri dan menunda sebentar shalat tahiyatul masjid karena saat itu menjawab adzan lebih diutamakan karena tahiyatul masjid bisa ditunda setelah adzan kecuali kalau dia masuk ke masjid pada hari jum’at sedangkan adzan untuk khutbah tengah dikumandangkan maka dalam kondisi seperti ini lebih baik melakukan shalat tahiyatul masjid daripada menjawab adzan agar bisa mendengarkan khutbah karena mendengarkan khutbah lebih penting lagi.

Lalu bagaimana jika seseorang masuk masjid sementara waktu yang tersisa hanyalah shalat dua rakaat sementara dia juga ingin shalat dua rakaat qabliyah, manakah yang didahulukan?

Dalam kondisi ini jika dia melakukan shalat dua rakaat sebelum duduk dengan niat sunnah qabliyah, dia sebenarnya juga mendapatkan pahala tahiyatul masjid maka dia tidak perlu lagi shalat tahiyatul masjid. Oleh karena itu, jika waktu yang tersedia tidak banyak sebaiknya sekalian meniatkan dua shalat sekaligus, niat untuk shalat tahiyatul masjid dan shalat sunnah qabliyah sehingga dia mendapatkan pahala dua-duanya.

Terkait dengan shalat tahiyatul masjid ini, bagaimana shalat di lapangan terbuka seperti shalat istisqa dan shalat ‘id misalnya, apakah tetap dianjurkan shalat tahiyatul masjid?

Mengenai shalat di tanah lapang seperti shalat ‘id dan istisqa maka tidak dianjurkan untuk mengerjakan shalat tahiyatul masjid namun sebagian ulama ada yang membolehkan shalat tahiyatul masjid di tanah lapang karena ditinjau dari segi hukumnya. Tanah lapang itu sama seperti shalat berjamaah di dalam masjid tetapi yang lebih unggul insya Allah adalah pendapat yang mengatakan bahwa tidak perlu shalat tahiyatul masjid berdasarkan makna lahir hadits:
“Jika salah seorang diantara kalian masuk ke masjid…” (HR. Bukhari dan Muslim)
Wallahu a’lam.