Menahan Kencing Atau Buang Angin [Kentut] Ketika Sedang Shalat

Ingin buang angin atau buang hajat sebelum shalat seringkali terjadi. Dalam situasi ini tidaklah terlalu sulit bagi seseorang untuk membatalkan wudhunya dengan membuang hajat karena masih ada jeda waktu yang cukup untuk kembali berwudhu dan mengejar shalat berjamaah. Masalahnya, apa yang seharusnya dilakukan jika keinginan buang angin atau buang hajat itu terjadi di tengah shalat atau bahkan di ujung shalat misalnya saat tahiyat akhir yang sebentar lagi salam?

Jika membatalkan shalatnya bukankah berarti menyia-nyiakan shalat berjamaahnya karena sebentar lagi shalat usai tapi jika meneruskan sampai salam, ada yang bilang hukumnya makruh. Lalu apa yang harus dilakukan?

Persoalan ini sebenarnya terkait erat dengan masalah khusyu’ dalam shalat yang merupakan ruhnya shalat, artinya shalat tanpa khusyu’ seperti tubuh tanpa nyawa. Dalam hal ini, orang yang menahan angin atau buang hajat ketika shalat tentu akan mengganggu kekhusyu’an shalatnya maka sebaiknya dia segera membatalkan wudhunya dan membuang angin atau segera buang hajat dan segera berwudhu lagi lalu mengejar shalat berjamaah karena jika tetap ditahan dan tidak segera membatalkan shalatnya akan mengakibatkan terganggunya kekhusyu’an shalat.

Imam Nawawi menjelaskan bahwa menahan kencing dan buang air besar termasuk pula kentut mengakibatkan hati seseorang tidak konsen didalam shalat dan kekhusyu’annya jadi tidak sempurna. Menahan hajat seperti itu dinilai makruh menurut mayoritas ulama madzhab Syafi'i dan juga ulama dari madzhab lain. Jika waktu shalat masih longgar, artinya masih ada waktu luas untuk buang hajat maka dinilai makruh.

Lalu bagaimana bila rasa ingin buang angin atau buang air timbul pada saat tahiyat akhir ketika shalat telah hampir usai?

Dalam kondisi ini, ada beberapa pilihan:

  1. Hendaknya membatalkan shalatnya lalu berwudhu dan mengulangi shalatnya dari awal. Ini dalam kondisi bila tekanan dari dalam itu sangat kuat sehingga tidak menyisakan konsentrasi sedikitpun atau bisa keluar sendiri.
  2. Dalam kondisi shalat sendirian, jika masih bisa ditahan maka dia bisa mempercepat bacaan tahiyat dan shalawat kemudian salam.
  3. Jika dalam kondisi shalat berjamaah maka dia boleh memisahkan diri dari jamaah dan berniat shalat sendirian dengan mempercepat bacaan tahiyat dan shalawatnya lalu salam. Dengan cara ini insya Allah yang bersangkutan tetap mendapatkan pahala shalat berjamaah yaitu 25 atau 27 derajat. Berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa berwudhu dan menyempurnakan wudhunya lalu pergi ke masjid untuk berjamaah dan dia lihat jamaah sudah selesai maka dia tetap mendapatkan pahala serupa dengan pahala orang yang hadir dan berjamaah tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun.” (HR. Nasa'i, Abu Dawud, Ahmad, dan Hakim)

Dalam kondisi tertentu seorang makmum memang dibolehkan untuk memisahkan diri dari jamaah kemudian melanjutkan shalatnya secara sendirian seperti dalam kondisi bacaan imam yang terlalu panjang. Hal ini seperti yang pernah terjadi pada shalat berjamaah yang diimami oleh Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu,
“Dulu, Mu’adz biasa shalat isya bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu pulang ke kampung untuk mengimami sanak kerabatnya shalat isya. Lalu pada suatu malam ketika menjadi imam, ia membaca surah panjang yaitu surah Al Baqarah lalu ada salah seorang dari jamaah yang memisahkan diri dari jamaah untuk shalat sendiri. Saat mengetahui hal itu, Mu’adz berkata “Munafik yakni keluar dari jamaah kaum muslim.” Namun orang tersebut melapor kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau malah berkata kepada Mu’adz “Apakah kamu ingin menyiksa orang-orang, hai Mu’adz?” sementara orang itu tidak disalahkannya.” (HR. Bukhari)
Alasan lain yang membolehkan makmum keluar dari jamaah adalah ingin muntah yang tidak bisa ditahan hingga imam menyelesaikan shalatnya juga perut yang mendadak kembung sehingga menyulitkannya jika terus mengikuti imam maka dia boleh memisahkan diri dari jamaah untuk shalat sendiri.

Demikian juga dengan dorongan angin atau air yang terjadi mendadak sehingga memerlukan tenaga ekstra untuk menahannya. Dalam kondisi seperti ini seorang makmum juga boleh memutus niat shalat berjamaahnya untuk shalat sendiri dengan lebih cepat. Wallahu a’lam.