Larangan Mencela Keburukan Seseorang Yang Telah Wafat dan Anjuran Memuji Kebaikannya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang umatnya untuk menyebar aib sesama,
“Barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim maka Allah subhanahu wa ta’ala akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat.” (HR. Muslim)
Maka para ulama sepakat bahwa ghibah, menggosip, atau membicarakan keburukan orang lain hukumnya haram bahkan jika orang yang dibicarakannya itu sudah meninggal karena dengan demikian ia telah melakukan dua dosa sekaligus yakni dosa menyakiti perasaan keluarganya yang masih hidup dan menambah berat siksaan bagi orang yang sudah meninggal dunia.

Itulah mengapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam justru menganjurkan kita untuk memujinya bukan untuk mencela keburukannya. Jika ada yang memuji orang yang meninggal dunia misalnya dalam ucapan “Jenazah itu adalah seorang ‘alim” dan  ucapan “beliau adalah seorang yang sangat berjasa pada Islam”, atau ucapan “beliau adalah seorang yang adil dan dermawan”, dan berbagai pujian lain maka hal itu menjadi tanda baik bagi orang yang meninggal dunia tersebut. Mengapa demikian?

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu pernah menuturkan,
“Mereka lewat pengusung jenazah lalu mereka memujinya dengan kebaikan maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Wajib.” Kemudian mereka lewat dengan mengusung jenazah yang lain lalu mereka membicarakan kejelekannya maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Wajib.” Umar bin Khattab lantas bertanya “Apakah yang wajib itu?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Yang kalian puji kebaikannya maka wajib baginya surga dan yang kalian sebutkan kejelekannya, wajib baginya neraka. Kalian adalah saksi-saksi Allah di muka bumi”.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Karena itulah Abul Aswad pernah pula menuturkan,
“Aku datang di Madinah lalu duduk menghampiri Umar bin Al Khattab kemudian lewatlah jenazah kepada mereka lalu jenazah tersebut dipuji kebaikannya maka Umar berkata “Wajib.” Kemudian lewat lagi yang lain maka ia dipuji kebaikannya maka Umar berkata “Wajib.” Lalu lewatlah yang ketiga maka ia disebutkan kejelekannya kemudian Umar berkata “Wajib.” Aku pun bertanya “Apakah yang wajib, wahai Amirul Mu’minin?” Umar menjawab “Aku mengatakan seperti yang dikatakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, muslim mana saja yang disaksikan kebaikannya atau dipuji kebaikannya oleh empat orang, Allah pasti memasukkannya ke surga.” Lalu berkata “Bagaimana kalau tiga orang?” Beliau menjawab “Dan tiga orang juga sama.” Lalu kami berkata “Bagaimana kalau dua orang?” Beliau menjawab “Dan dua orang juga sama.” Kemudian kami tidak bertanya pada beliau tentang satu orang.”
Lalu apakah ketetapan ini berlaku bagi siapa saja yang memujinya atau hanya orang-orang tertentu saja jika memujinya maka demikianlah adanya?

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa pujian yang dimaksud adalah pujian dari kalangan orang shalih yang punya keutamaan. Pujian mereka pasti sesuai dengan kenyataan yang ada dari orang yang meninggal dunia sehingga dinyatakan dalam hadits “dialah yang dijamin surga.”

Hadits tersebut juga bisa dipahami bahwa pujian itu bersifat umum, artinya setiap muslim yang mati maka Allah memberi ilham kepada orang-orang dan mayoritasnya untuk memberikan pujian kepadanya. Itu tanda bahwa dia adalah penduduk surga baik pujian tersebut benar ada padanya atau tidak.

Jika memang tidak ada padanya maka tidak dipastikan mendapatkan hukuman namun ia berada dibawah kehendak Allah. Jadi jika Allah mengilhamkan kepada orang-orang untuk memujinya maka itu tanda bahwa Allah menghendaki padanya mendapatkan ampunan. Itu sudah menunjukkan faedah dari memujinya.

Kalau dalam hadits disebutkan empat orang yang memuji kebaikannya, bagaimana kalau yang menjadi saksi dan memuji kebaikannya adalah ribuan orang. bahkan disini adalah orang-orang shalih dan orang berilmu yang memberikan sanjungan? Wallahu a’lam.