Menilai Kejadian [Ajaib] Diluar Akal Manusia Menurut Syariat Islam

Kata “batu” beberapa kali disebutkan dalam Al Qur’an salah satunya sebagai kiasan bagi orang yang hatinya keras.
“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka Kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang Telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Az Zumar: 22)
Tanda mengerasnya hati seperti batu adalah kemalasan dalam melakukan ketaatan dan amal kebaikan.

Hati yang membatu tidak tersentuh oleh bacaan ayat Al Qur’an. Ketika disampaikan ayat-ayat yang berkenaan dengan janji dan ucapan Allah subhanahu wa ta’ala tidak terpengaruh, tidak khusyu’, dan juga lalai dari membaca Al Qur’an serta mendengarkannya. Orang  yang hatinya membatu memandang kematian atau orang yang sedang diusung ke kubur sebagai sesuatu yang tidak apa-apanya.

Salah satu penyebab hati yang membatu adalah berlebihan mencintai dunia dan melupakan akhirat. Segala sesuatu ditimbang dari sisi dunia dan materi, cinta, benci, dan hubungan dengan sesama manusia hanya untuk urusan dunia saja.

Meski menjadi permisalan bagi kerasnya hati, bukan berarti batu sebagai makhluk yang hina. Permisalan dalam Al Qur’an itu hanyalah dari segi wujud padatnya saja. Memang batu diciptakan Allah subhanahu wa ta’ala sebagai benda padat, terlihat diam tak bergerak, apalagi berbicara. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mempunyai pengalaman disapa oleh batu dan pohon di Mekkah.

Peristiwa ini terjadi sebelum diangkatnya beliau sebagai utusan Allah subhanahu wa ta’ala. Sebuah riwayat menyebutkan menjelang beliau diangkat menjadi Rasul di usia 40 tahun, Nabi semakin sering pergi ke gua Hira untuk tahannuts (menyendiri merenungkan kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala). Saat melewati bukit bebatuan untuk menuju gua, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sering mendengar suara yang menyapanya,
“Assalamu’alaika ya Rasulullah. Semoga keselamatan tercurah kepadamu wahai utusan Allah.”
Saat beliau menoleh, jalur itu kosong tak ada orang sama sekali. Kelak ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah sering melewati berbagai rintangan, Nabi pernah bertanya kepada malaikat Jibril dan diberitahu bahwa yang menyapa itu adalah pohon dan batu. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya aku mengetahui sebuah batu di Mekkah yang memberi salam kepadaku sebelum aku diangkat menjadi nabi. Sesungguhnya aku masih mengetahuinya sampai sekarang.” (HR. Muslim)
Hadits nabi ini memang sempat memunculkan perdebatan di kalangan ulama, apakah batu bicara disini benar-benar bicara atau kiasan saja. Namun banyak ulama yang menegaskan bahwa batu bicara ini adalah hakiki (bukan kiasan). Seperti yang ditegaskan Al Manawi rahimahullah yang mengatakan,
“Ucapan salam ini adalah ucapan salam yang hakiki. Allah ta’ala membuatnya bisa berbicara sebagaimana Allah juga membuat batang kurma bisa bicara.”
Lihatlah kehebatan yang Allah ta’ala berikan kepada batu ajaib tersebut sehingga dia bisa berbicara mengucapkan salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, apakah dengan kemampuannya itu lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikannya sebagai batu keramat? Apakah para sahabat radhiyallahu ‘anhu kemudian berebut mencari keberadaan batu tersebut untuk memperoleh keberkahan?

Kisah batang kurma yang bisa bicara sebagaimana yang disebutkan oleh Al Manawi adalah seperti yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
“Dulu jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah, beliau bersandar pada batang kurma di salah satu tiang masjid. Ketika mimbar selesai dibuat dan beliau berdiri di atasnya, tiang tersebut menangis bagaikan tangisan seekor unta. Orang-orang yang berada di masjid mendengarnya, sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam turun mendatangi tiang itu, memeluknya, barulah dia diam.“
Rasulullah mengusap batang kurma tersebut bukan untuk mencari berkah namun beliau mengusapnya untuk membuat batang kurma itu diam. Hal ini juga menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menganggap batang kurma ajaib tersebut memiliki kekuatan tertentu. Demikian pula para sahabat, tidak ada satu pun yang mengeramatkan batang kurma ajaib itu.

Pada hakikatnya, semua benda padat ciptaan Allah subhanahu wa ta’ala itu tunduk dan bertasbih kepada Allah subhanahu wa ta’ala, termasuk batu. Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu menuturkan sebuah riwayat dengan sanad yang shahih.
“Sesungguhnya aku menyaksikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah halaqah atau majelis di tangannya ada batu kerikil, lalu batu kerikil itu bertasbih di telapak  tangannya. Bersama kami ada Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali radhiyallahu ‘anhum maka orang-orang yang berada dalam halaqah atau majelis itu semua mendengar tasbihnya, kemudian batu itu diberikan kepada Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, batu tersebut tetap bertasbih di telapak tangannya. Semua yang berada dalam halaqah atau majelis itu mendengar tasbihnya. Kemudian diberikan kepada Umar radhiyallahu ‘anhu, batu itu tetap bertasbih di telapak tangannya. Semua yang berada dalam halaqah atau majelis itu mendengar tasbihnya. Kemudian batu itu diberikan kepada Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, batu itu pun tetap bertasbih di tangannya kemudian diberikan kepada kami tetapi batu tersebut tidak bertasbih ketika berada di tangan salah seorang dari kami.” (HR. Ath Thabrani)
Ibnu Katsir rahimahullah membandingkan antara mukjizat ini dengan mukjizat Nabi Daud ‘alaihi salam, ia menjelaskan bahwa tidak diragukan lagi kejadian bertasbihnya batu kerikil yang keras yang tidak mempunyai rongga di dalamnya lebih mengherankan daripada gunung-gunung. Karena di dalamnya gunung-gunung terdapat rongga dan gua-gua maka gunung seperti itu bentuknya biasanya akan menggemakan suara yang tinggi akan tetapi bukan bertasbih. Maka sesungguhnya hal tersebut (tasbih yang berulang-ulang) merupakan mukjizat Nabi Daud shallallahu ‘alaihi wa sallam namun bertasbihnya batu kerikil di telapak tangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, Umar, Utsman radhiyallahu ‘anhu itu lebih menakjubkan.

Jika kerikil terdengar tasbihnya di tangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena memang Nabi adalah utusan Allah, di tangan-Nya mungkin terjadi apapun sekalipun tak masuk akal karena itu memang mukjizat seorang nabi. Tapi bagaimana dengan orang biasa? Mengapa di tangan Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan ajma’in, kerikil-kerikil itu tetap bertasbih dan didengar oleh orang-orang di sekitarnya padahal mereka bukan nabi?

Sahabat-sahabat nabi ini adalah orang-orang yang paling taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Apapun yang dilakukan dan disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menjadi pedoman hidupnya dan menjadi dasar amal ibadahnya. Oleh karena itulah, Allah subhanahu wa ta’ala memberikan keistimewaan tersendiri pada orang-orang yang demikian ini. Inilah yang disampaikan Allah subhanahu wa ta’ala sendiri dalam hadits qudsi. Allah berfirman:
“Barangsiapa memerangi wali (kekasih-Ku) maka Aku telah mengumumkan perang kepada-Nya. Hamba-Ku tidak akan mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada amalan yang Aku wajibkan kepadanya, tetapi hamba-Ku masih terus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk kepada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk kepada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk kepada kepada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku kabulkan dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku lindungi.” (HR. Bukhari)
Ibnu Qayyim menyebutkan bahwa kekuatan ekstra diluar batas manusia yang terjadi pada orang-orang yang mengikuti petunjuk dan jalan nabi utusan Allah disebut dengan karomah. Namun tak mudah menilai kejadian diluar nalar manusia itu apakah benar-benar karomah atau bukan. Karena keshalihan seseorang tak mudah bisa dilihat hanya dari lahirnya saja.

Kita tidak bisa mengklaim bahwa kejadian yang terjadi pada orang-orang shalih di sekitar kita itu sebagai karomah karena tidak ada teks agama yang membenarkannya dan yang jelas-jelas diceritakan oleh Al Qur’an bisa kita masukkan ke dalam kategori ini, misalnya apa yang terjadi pada Maryam, wanita shalihah yang diceritakan Al Qur’an berupa adanya hidangan buah-buahan di tempat ibadahnya Maryam padahal buah-buahan yang tersaji sedang tidak musim. Inilah yang benar-benar karomah dari Allah subhanahu wa ta’ala yang diberikan kepada wali-wali-Nya.

Selain didukung oleh keterangan Al Qur’an dan sabda nabi, memang tak mudah menilainya meski banyak cerita yang beredar dari kalangan generasi shalih tentang kejadian-kejadian diluar akal manusia. Itu sebabnya perlu kehati-hatian tinggi dan harus ada parameter yang jelas apakah peristiwa diluar batas akal manusia yang terjadi pada seseorang itu bisa disebut karomah atau tidak. Parameter tentang karomah pernah disebut oleh Imam Al Laits bin Sa’ad ia mengatakan:
“Jika kalian melihat seseorang berjalan di atas air maka janganlah kalian tertipu olehnya sampai kalian mengembalikan masalahnya kepada Al Qur’an dan sunnah. Artinya kejadian luar biasa yang terjadi pada seseorang hendaknya jangan terburu-buru menyebutnya sebagai karomah tetapi harus dicermati sejauhmana orang tersebut berpedoman pada Al Qur’an dan Sunnah dalam hidupnya.”
Mendengar perkataan Imam Al Laits ini, Imam Syafi'i pernah berkomentar,
“Al La’its rahimahullah masih kurang, bahkan jika kalian melihat seseorang berjalan di atas air dan terbang di atas udara maka janganlah terperdaya olehnya hingga kalian menimbang perkaranya di atas Al Qur’an dan As Sunnah.”
Pernyataan Al Imam Syafi'i rahimahullah sangatlah tegas untuk mengukur kewalian yang benar maka harus ditimbang dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani menjelaskan semua ini dengan gamblang,
“Sesungguhnya apa yang sudah menjadi anggapan orang awam bahwasanya keajaiban atau kesaktian yang ditunjukkan seseorang berarti dia seorang wali merupakan kesalahan karena keajaiban atau kesaktian terkadang muncul dari orang-orang tukang sihir dan dukun. Orang yang bisa memunculkan keajaiban itu tidak selalu disebut sebagai wali maka harus diuji dulu orang itu. Jika orang itu dalam kesehariannya berpegang teguh kepada perintah-perintah syariat dan menjauhi larangan-larangan syariat maka keajaiban tersebut merupakan tanda kewaliannya. Adapun jika keistimewaan atau keajaiban itu terjadi kepada orang-orang biasa yang banyak maksiat atau orang-orang kafir, bisa jadi itu adalah istidraj atau jebakan karunia. Seolah-olah karunia tapi hakikatnya adalah jebakan-jebakan yang bisa membawa kehancuran di akhirat kelak.” 
Naudzubillahi mindzalik.