Jangan Sepelekan Datang Lebih Awal Ke Masjid Untuk Shalat Jum’at

Shalat jum’at bagi kaum muslim bukan hanya sebuah ibadah rutin yang dilaksanakan setiap hari jum’at akan tetapi di sekelilingnya terdapat ladang amal yang sangat luas bagi siapa saja yang mau mengamalkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dengan mengerjakan amalan-amalan sunnah yang menyertai shalat jum’at maka kita akan tercatat tidak sekedar menjalankan kewajiban sehingga mendapatkan ganjaran shalat wajib tetapi juga dicatat oleh malaikat dan mendapatkan tambahan pahala berlimpah di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.

Salah satu amalan sunnah yang menyertai kewajiban shalat jum’at adalah bersegera mendatangi masjid sebelum khatib menaiki mimbar. Mengapa harus datang segera dan lebih dulu ke masjid? Apa istimewanya?
  1. Orang yang menyegerakan diri datang ke masjid untuk menunaikan shalat jum’at akan dicatat dalam buku catatan malaikat. Inilah yang dikabarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada kita dalam sabdanya: “Pada setiap pintu dari pintu-pintu masjid pada hari jum’at terdapat dua orang malaikat yang mencatat orang-orang yang datang ke masjid secara berurutan. Jika imam/khatib telah duduk di atas mimbar maka buku catatan itu ditutup.” (HR. Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan An-Nasa’i) Terkait dengan hadits ini Abu Umamah pernah ditanya: “Wahai Abu Umamah, bukankah orang yang datang sesudah imam duduk di atas mimbar juga mendapatkan shalat jum’at?” Abu Umamah menjawab “Tentu, tetapi ia tidak termasuk golongan yang dicatat dalam buku catatan.”
  2. Bersegera menuju masjid dalam shalat jum’at juga mendapat keistimewaan seperti berqurban seekor unta berbanding sebutir telur. Keutamaan lainnya mendatangi masjid di awal waktu pada hari jum’at dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika tiba hari jum’at maka para malaikat berdiri di pintu-pintu masjid lalu mereka mencatat orang-orang yang datang sesuai dengan urutan waktu kedatangan mereka. Perumpamaan orang yang datang paling awal untuk melaksanakan shalat jum’at adalah seperti orang yang berqurban unta, kemudian yang berikutnya seperti orang yang berqurban sapi, dan yang berikutnya seperti orang yang berqurban kambing, yang berikutnya lagi seperti  orang yang berqurban ayam, kemudian yang berikutnya seperti orang yang berqurban telur maka apabila imam sudah muncul dan duduk di atas mimbar mereka menutup buku catatan mereka dan duduk mendengarkan dzikir/khutbah.” (HR. Ahmad)
  3. Selain itu, bersegera menuju masjid pada shalat jum’at menjadi salah satu syarat mendapatkan kesempurnaan pahala shalat jum’at. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang diriwayatkan dari Aus bin Aus radhiyallahu ‘anhu bersabda: “Barangsiapa mandi pada hari jum’at lalu segera berangkat ke masjid berjalan kaki dan tidak berkendara mendekat kepada imam dan mendengarkan khutbahnya dan mendengarkan khutbah dengan seksama tanpa senda gurau maka dari setiap langkah yang ditempuhnya dia akan mendapatkan pahala puasa dan qiyamul lail setahun.” (HR. Abu Dawud, Nasa'i, dan Ahmad) Hadits yang mulia ini menjelaskan kepada kita bahwa seseorang yang melaksanakan shalat jum’at sesungguhnya bisa meraih pahala berlimpah bahkan setara dengan pahala berpuasa dan qiyamul lail selama setahun namun dengan sejumlah syarat, salah satunya adalah dengan berangkat lebih awal ke masjid. Disini, bersegera mendatangi masjid pada hari jum’at menjadi salah satu syarat bagi terpenuhinya seluruh syarat untuk meraih kesempurnaan pahala shalat jum’at.
Begitu mulia dan tingginya bersegera ke masjid untuk melaksanakan ibadah jum’at sehingga pada abad-abad pertama Islam, hari jum’at disambut dengan gegap gempita oleh kaum muslim, disambut dengan meriah dan semarak. Oleh karena itu, jika hari jum’at tiba di pagi hari setelah terbit fajar, jalan-jalan sudah ramai dengan orang-orang yang berpakaian bagus, memakai wangi-wangian, dan mereka bergegas menuju masjid. Mereka berjalan menuju masjid jami’ seperti halnya hari raya.

Namun sayang, kebiasaan yang demikian indah dan mulia ini kini telah hilang ditelan zaman. Itu sebabnya seorang ulama menegaskan bahwa penyimpangan pertama yang dilakukan dalam Islam adalah tidak berangkat pagi-pagi menuju masjid untuk shalat jum’at.

Patut disayangkan, saat ini kebanyakan kita kaum muslim menganggap remeh dan sepele masalah ini padahal ganjaran yang dijanjikan Allah subhanahu wa ta’ala bagi yang mengamalkan sangatlah menggiurkan.

Tidakkah kita ingin dicatat dalam buku catatan para malaikat yang ditugaskan khusus oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk berdiri di pintu-pintu masjid pada hari jum’at? Sebab apabila khatib telah menaiki mimbar maka para malaikat itupun menutup catatannya dan mereka ikut mendengarkan khutbah.

Betapa banyak diantara kita yang ikut shalat jum’at tetapi kelak tidak ada dalam buku catatan malaikat. Tidakkah kita ingin mendapatkan amalan yang pahalanya diibaratkan seperti berqurban dengan seekor unta sehari dalam sepekan?

Dalam setiap jum’at, berapa banyakkah diantara kita yang masuk kategori datang lebih awal sehingga patut mendapat ganjaran terbaik di sisi Allah subhanahu wa ta’ala atau jangan-jangan ada diantara kita belum pernah sekalipun mendatangi shalat jum’at lebih awal dibanding jama’ah lainnya?