Berharap Agar Diri Sendiri Atau Orang Lain Segera Mati Dan Bacaan Al Qur’an Yang Bisa Mempercepat Kematian

Kita tentu tidak tega melihat orang-orang terdekat yang tercinta seperti ayah, ibu, anak, dan sanak keluarga lain merasakan penderitaan saat tertimpa penyakit. Apalagi jika sakitnya berkepanjangan, rintihannya selalu membuat hati merasa iba sehingga tak jarang dalam kondisi demikian ada sanak keluarga yang berdoa agar Allah segera mencabut nyawanya saja daripada harus menderita berkepanjangan bahkan ada sebagian masyarakat yang mempraktekkan membaca surah Ar Ra’d agar Allah segera mencabut nyawanya.

Masalahnya, apakah mendoakan agar seseorang cepat meninggal dunia itu dibenarkan dalam syariat agama? Lalu apakah memang surah Ar Ra’d itu bisa mempercepat seseorang untuk meninggal?

Mengharap kematian untuk diri sendiri ataupun orang lain adalah tindakan terlarang. Kematian merupakan kepastian, tak satupun makhluk bernyawa yang luput karena Allah subhanahu wa ta’ala telah menetapkan dalam firman-Nya,
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (Q.S. Ali Imran: 185)
Kematian juga telah ditentukan waktunya, masing-masing memiliki ajal atau jadwal sendiri-sendiri,
“Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu),” (Q.S. Al An’am: 2)
Tak akan ada satu jiwa pun yang dapat lari dan menghindar dari ajalnya. Diinginkan atau tidak, kematian pasti datang. Diharapkan atau dihindari, kalau sudah waktunya maka kematian pasti datang. Namun begitu, kematian tidak boleh diharapkan bagaimana keadaan ataupun kondisi seseorang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang disampaikan oleh sahabat mulia Anas bin Malik Al Anshari radhiyallahu ‘anhu:
“Janganlah sekali-kali salah seorang dari kalian berharap kematian karena kesulitan yang menimpanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Memang terkadang saat seseorang ditimpa musibah atau kesulitan dan merasa tidak sanggup memikulnya, dia berangan-angan lebih baik mati saja atau misalnya berdoa kepada Allah “Ya Allah, cabutlah nyawaku daripada menderita seperti ini” atau misalnya dari pihak keluarga yang tak bosan menahan iba melihat kondisi si sakit yang begitu menderita dan berdoa kepada Allah agar nyawa si sakit dicabut saja agar penderitaannya tidak berlarut-larut.

Ini dilarang dalam syariat agama karena musibah, mudharat, ataupun kesulitan itu justru baik bagi seseorang. Seharusnya dalam keadaan seperti itu bukan mati yang diharapkan namun hendaknya dia berdoa agar Allah memberikan kekuatan dan ketabahan serta kesabaran dalam menghadapi kesulitan dan penderitaan dari rasa sakit.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya melainkan Allah akan menggugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang menggugurkan daun-daunnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Jangankan penyakit yang berat-berat seperti sakit jantung, ginjal, kanker, lumpuh, cacat, dan sebagainya yang jika tepat menyikapinya maka pahala dan ampunan Allah subhanahu wa ta’ala di depan mata bahkan rasa sakit yang remeh seperti tertusuk duri pun menjadi penghapus dosa. Inilah yang disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:
“Tidaklah suatu musibah yang menimpa seorang muslim melainkan akan menjadi penghapus dosa baginya termasuk duri yang menusuknya.” (HR. Bukhari)
Apabila saat susah dia berharap mati, bisa jadi kematiannya justru buruk baginya. Dia tidak bisa beristirahat dengan kematiannya karena memang tidak semua kematian adalah istirahat, bisa jadi kematian merupakan kepindahan seseorang menuju kesengsaraan yang lebih berkepanjangan karena dia justru memasuki penderitaan azab kubur.

Padahal kalau dia masih hidup, dia masih berkesempatan untuk bertaubat dan kembali kepada Allah atau minimal penyakitnya itu bisa menjadi penghapus dosa yang pernah dilakukannya. Dengan demikian, tetap hidup justru lebih baik baginya.

Demikian pula pihak keluarga yang merawatnya, menghadapi pasien yang diurus dengan sabar dan tawakal akan mendatangkan kebaikan dan keuntungan yang tidak main-main. Bila kesabaran menanggung rasa sakit bagi si sakit akan mendapatkan kompensasi yang sangat besar dari Allah subhanahu wa ta’ala maka kesabaran keluarga yang merawat, memelihara, dan membantu juga tidak kurang besar pahalanya. Bahkan bisa jadi lebih besar karena kesabaran orang sakit bisa dikatakan bersifat terpaksa, sementara kesabaran orang yang merawatnya adalah kesabaran sukarela.

Kesabaran orang sakit adalah sabar menanggung bencana, sedangkan kesabaran orang yang merawat adalah kesabaran untuk melakukan perbuatan yang baik. Bahkan bila yang sakit adalah orang tua, bersabar merawatnya tentu akan menjadi ladang pahala yang sangat luas. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa orang tua adalah pintu tengah surga.

Dengan demikian maka mendoakan keluarga atau orang lain agar segera mati sehingga tidak menanggung derita berkepanjangan adalah tindakan terlarang dalam syariat agama. Namun demikian, bila memang sudah tidak ada harapan, seseorang boleh memanjatkan doa dengan membaca:
“Allahumma ahyini ma kaanatil hayatu khairan li wa tawaffani idza kaanatil wafatu khairan li. Ya Allah hidupkanlah aku apabila kehidupan itu lebih baik bagiku dan wafatkanlah aku apabila kematian itu lebih baik bagiku.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Doa ini dipanjatkan bila untuk diri sendiri, bila untuk orang lain maka redaksinya bisa disesuaikan menjadi:
“Ya Allah hidupkanlah dia apabila kehidupan itu lebih baik baginya dan wafatkanlah dia apabila kematian itu lebih baik baginya.”
Dalam doa ini terkandung penyerahan urusan seseorang kepada Allah subhanahu wa ta’ala sebab manusia tidak mengetahui urusan yang ghaib, dia pun menyerahkannya kepada yang Maha Mengetahui perkara ghaib.

Berharap segera mati merupakan sikap istinjal atau mendahului kehendak, padahal bisa jadi dengan itu dia terhalang dari memperoleh kebaikan yang besar. Bisa jadi hal itu menghalanginya dari taubat dan menambah amal shalih. Dalam doa tersebut dinyatakan “hidupkanlah dia apabila kehidupan itu lebih baik baginya dan wafatkanlah dia apabila kematian itu lebih baik baginya”, memang hanya Allah subhanahu wa ta’ala yang tahu apa yang akan terjadi dan manusia tidak tahu. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Katakanlah: "Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah",” (QS. An Naml: 65)
“Tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Luqman: 34)
Lalu bagaimana dengan membaca surah Ar Ra’d yang dipercaya bisa mempercepat kematian seseorang?

Sebenarnya keyakinan semacam ini agak kurang tepat. Memang surah ini banyak dibaca untuk orang yang sedang sekarat agar dipermudah proses keluarnya ruh. Biasanya dibaca berdampingan dengan surah Yaasiin.

Dalam kitab I’anatat Thalibin disebutkan bahwa tidak seorang pun yang hendak meninggal lalu dibacakan surah Yaasiin kecuali akan dimudahkan oleh Allah. Disunnahkan juga untuk dibacakan surah Ar Ra’d karena dapat meringankannya dari proses sakaratul maut, mempermudah tercabutnya ruh, dan meringankan keadaannya.

Tentang surah Yaasiin memang ada sejumlah hadits yang melandasinya, sementara membaca surah Ar Ra’d berasal dari ulama generasi tabi’in akhir. Akan tetapi yang perlu dipahami, bacaan-bacaan ini meskipun masih diperdebatkan bukan berarti menjadi bacaan agar orang cepat mati tapi berdasarkan keterangan riwayat-riwayat yang ada dimaksudkan untuk meringankan jika kematian memang datang. Wallahu a’lam bishshawab.