Peristiwa Hari Kiamat Yang Maha Dahsyat

Jika kitab suci Al Qur’an kelak diangkat ke langit dan Ka’bah tak lagi suci karena kesuciannya telah diangkat Allah subhanahu wa ta’ala lalu dirobohkan oleh orang Habasyah, saat inilah manusia tak lagi mengenal agama meski masih ada yang menyebut “Laa ilaha illallah”.

Saat itulah Allah mengirimkan angin lembut yang berhembus ke seluruh penjuru bumi yang mengangkat roh orang-orang yang masih memiliki keimanan meski hanya seberat biji sawi seluruhnya akan meninggal dunia. Yang tersisa hanyalah manusia-manusia yang tak lagi mengenal kebaikan apalagi agama.

Mereka inilah manusia terakhir di muka bumi yang akan merasakan kedahsyatan kiamat. Manusia terkutuk yang yang menyekutukan Allah dan ingkar terhadap nikmat-nikmat Allah. Mereka tidak lagi mencegah kemungkaran, gemar berbuat dosa, tidak mengerjakan sesuatu kecuali yang membuat Allah murka, dan senantiasa meremehkan perbuatan dosa-dosa.

Dengan demikian, orang-orang yang akan mengalami kiamat adalah orang-orang yang paling jahat, sesat, dan kufur, dan mereka yang lebih layak dimasukkan ke neraka pada hari kiamat kelak karena tak ada lagi orang yang beriman setelah angin lembut dikirim Allah untuk mewafatkan kaum mukmin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya Allah akan menghembuskan angin yang sangat lembut selembut sutra dari arah Yaman, ia tidak akan melewati seseorang yang didalam hatinya terdapat (Abu Alqamah berkata “Seberat biji-bijian.” Sedangkan Abdul Aziz berkata “Seberat biji sawi”) dari keimanan kecuali Allah akan mewafatkannya.“ (HR. Muslim)
Kepada merekalah kiamat ditegakkan sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Ketika mereka dalam keadaan demikian tiba-tiba Allah mengutus angin sejuk yang mencabut setiap jiwa manusia yang memiliki keimanan dan tinggallah manusia kufur dan jahat, maka kiamat pun datang menghantam mereka.” (HR. Muslim dan Ahmad)
Manusia terakhir inilah yang disebut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai generasi manusia terburuk di sisi Allah. Mereka lebih rendah dari binatang sekalipun. Allah telah memberikan anugerah yang banyak kepada mereka hingga mereka hidup berkecukupan tetapi kemapanan dalam kehidupan itu tidak membuat mereka bersyukur. Mereka mengingkari kenikmatan-kenikmatan tersebut dengan banyak melakukan maksiat dan kekufuran.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.” (QS. Al Baqarah: 15)
Yang dimaksud Allah dalam ayat ini adalah manusia yang mengalami kedatangan hari kiamat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Katakanlah: "Barang siapa yang berada di dalam kesesatan, Maka Biarlah Tuhan yang Maha Pemurah memperpanjang tempo baginya; sehingga apabila mereka Telah melihat apa yang diancamkan kepadanya, baik siksa maupun kiamat, Maka mereka akan mengetahui siapa yang lebih jelek kedudukannya dan lebih lemah penolong-penolongnya".” (QS. Maryam: 75)
Meski disebut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai seburuk-buruk manusia namun orang-orang terakhir di muka bumi ini hidup serba berkecukupan dengan rizki yang melimpah ruah. Allah berfirman:
“Katakanlah: "Apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" Yaitu orang-orang yang Telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al Kahfi: 103-104)
Rasulullah menjelaskan keadaan mereka orang-orang yang digiring api ke Padang Mahsyar di Negara Syam dan bagaimana kehidupan mereka sebelum kiamat datang. Setelah mencabut nyawa semua orang yang beriman, Allah menganugerahkan nikmat yang melimpah ruah kepada mereka sehingga mereka hidup tanpa kekurangan.

Diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallkahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Kemudian Allah melepaskan angin dingin yang berhembus dari Syam maka tidak ada seorang pun dari manusia yang beriman kecuali dicabut nyawanya sehingga yang tersisa hanya manusia jahat yang tidak memiliki keimanan. Mereka tidak tahu mana yang baik dan mana yang buruk hingga setan muncul dan berkata “Mengapa kamu tidak memenuhi seruanku saja?” Mereka menjawab “Apa yang kamu perintahkan kepada kami?” Setan memerintahkan kepada mereka untuk menyembah berhala maka mereka pun mengikuti saran tersebut, sedangkan mereka berada dalam kehidupan yang serba berkecukupan kemudian hari kiamat pun datang.” (HR. Muslim dan Ahmad)
Dari hadits ini dapat diketahui sifat-sifat orang yang mengalami kiamat. Bagaimana Allah memberikan kenikmatan yang melimpah ruah kepada mereka dan orang-orang beriman semuanya dimatikan meskipun kadar keimanannya hanya sedikit. Hal tersebut merupakan keagungan rahmat dan anugerah Allah bagi mereka. Wallahu a’lam.

Lalu bagaimana kiamat menghantam penduduk bumi terakhir ini?

Saat manusia tak lagi mengenal kebaikan dan agama, saat itulah detik-detik kiamat terjadi hingga akhirnya muncul sebuah api dari Yaman. Api ini menggiring seluruh umat manusia menuju Mahsyar. Semua orang ketakutan dan berusaha menghindar tapi tak ada seorang pun yang bisa lolos dari giringan api ini.

Namun sebuah riwayat yang shahih menyebutkan  bahwa ada dua orang laki-laki dari Muzayanah yang luput dari giringan api, saat itu keduanya lari ke gunung menjauhi keramaian setelah itu keduanya turun dari gunung tapi mereka mendapati daerahnya kosong (tak seorang pun terlihat). Mereka pun menuju Madinah tapi di Madinah juga tak nampak seorang pun. Akhirnya mereka berdua meninggalkan tempat itu hingga sampai di perbukitan. Di tempat itu keduanya bertemu dengan dua malaikat. Kedua malaikat itu pun menyeretnya ke Padang Mahsyar.

Padang Mahsyar disini bukanlah tempat pengadilan Allah subhanahu wa ta’ala bagi manusia, tapi Padang Mahsyar dunia tempat dikumpulkannya manusia sebelum kiamat terjadi. Jika saatnya telah tiba maka guncangan hebat dan kehancuran tak akan bisa dihindarkan oleh siapapun. Sekalipun ia bersembunyi di tempat yang dianggap paling aman.

Langit dan bumi akan Allah gulung dengan tangan kanan-Nya. Inilah saat hancurnya seluruh alam semesta beserta isinya. Langit pun akan terbelah pada saat itu. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi dia dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Az Zumar: 67)
Kehancuran total pada hari kiamat bermula dari kontraksinya alam semesta atau langit digulung seperti istilah dalam ayat Al Qur’an. Alam semesta mulai mengerut, ketika itulah galaksi-galaksi mulai saling mendekat dan bintang-bintang termasuk tata surya saling bertabrakan dan jatuh sama lain. Alam semesta makin mengecil. Akhirnya semua materi di alam semesta akan runtuh kembali menjadi satu kesatuan seperti pada awal penciptaannya.

Hal ini yang nampaknya diisyaratkan oleh firman Allah ta’ala:
“(yaitu) pada hari kami gulung langit sebagai menggulung lembaran - lembaran kertas. sebagaimana kami Telah memulai panciptaan pertama begitulah kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti kami tepati; Sesungguhnya kamilah yang akan melaksanakannya.” (QS. Al Anbiyaa’: 104)
Saat itu, matahari juga akan digulung Allah subhanahu wa ta’ala.
“Apabila matahari digulung,” (QS. At Takwiir: 1)
Kejadian inilah yang diisyaratkan dalam Al Qur’an sebagai bersatunya matahari dan bulan.
“Maka apabila mata terbelalak (ketakutan), Dan apabila bulan Telah hilang cahayanya, Dan matahari dan bulan dikumpulkan,” (QS. Al Qiyaamah: 7-9)
Meski menurut para ilmuwan, matahari kita masih bisa bertahan selama ribuan tahun lagi tapi jika Allah berkehendak maka tak ada yang dapat menolak. Tidak hanya matahari, benda-benda langit lainnya juga akan mengalami ketidakstabilan yang menyebabkan mereka lepas dari orbitnya. Kejadian inilah yang diceritakan Allah subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya:
“Dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan,” (QS. Al Infithaar: 2)
Saat ini, kita merasa sendirian di bumi tapi jauh di luar sana ada jutaan bahkan milyaran galaksi bagaikan pulau-pulau yang saling berjauhan yang berpenghuni milyaran bintang. Semua benda langit itu akan kehilangan keseimbangannya dan saling bertabrakan, sedangkan di bumi sendiri terjadi bencana maha dahsyat yang mustahil satu orang pun akan selamat. Air laut akan meluap sehingga terjadi gelombang tsunami dimana-mana. Seluruh bangunan megah dan gedung-gedung pencakar langit akan disapu air bah.

Tidak hanya gelombang tsunami, air laut juga akan menjadi panas dan mendidih, dan sesungguhnya laut yang terlihat tenang dan menenangkan, dibawahnya menyimpan potensi bencana maha dahsyat. Jauh di bawah laut sana tersimpan rangkaian gunung berapi yang membentang berpuluh-puluh ribu kilometer di tengah-tengah seluruh samudera bumi. Inilah kiamat yang menjadi akhir dari fase kehidupan alam semesta untuk memasuki babak baru kehidupan abadi manusia. Wallahu a’lam.