Benarkah Manusia Dapat Berteman Dengan Jin Muslim?

Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Inilah yang dijelaskan Allah dan Rasul-Nya. Oleh karenanya seorang muslim hendaknya peduli pada saudaranya, saling bertegur sapa, saling membantu, dan bersilaturahim. Akan tetapi muslim bukanlah terbatas pada manusia saja tapi jin pun juga ada yang muslim.

Lalu apakah sebagai sesama muslim kita dibenarkan untuk berteman, menjalin hubungan, saling membantu, dan bersilaturahmi dengan jin?

Sebagian ulama menjelaskan bahwa sebenarnya berteman atau meminta bantuan atau bekerjasama dengan jin bukanlah sesuatu yang haram secara mutlak karena jin termasuk makhluk Allah yang mendapatkan beban aturan syariat sebagaimana manusia. Hubungan kita dengan jin tidak lebih dari hubungan dua jenis makhluk Allah subhanahu wa ta’ala.

Sebagaimana aturan yang berlaku ketika kita bekerjasama dengan orang lain, kerjasama itu boleh dilakukan selama dilakukan dengan cara yang mubah dan untuk tujuan yang mubah atau dibolehkan. Sebaliknya, kerja sama ini bernilai dosa dan terlarang jika dilakukan dengan cara terlarang atau untuk tujuan terlarang.

Ibnu Taimiyyah misalnya, dalam kitab kumpulan fatwanya memberikan rinciannya:
  1. Manusia menyuruh jin untuk melakukan apa yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan seperti beribadah kepada Allah semata atau menaati Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan sebaliknya, jin menyuruh manusia untuk melakukan yang sama maka jin dan manusia ini termasuk wali Allah yang mulia. Disamping itu, dia merupakan penerus dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Manusia yang bekerjasama dengan jin dalam masalah yang mubah, sementara dia tetap berusaha menyuruh melakukan kewajiban syariat atau meninggalkan larangan syariat dan dia meminta jin untuk melakukan sesuatu yang mubah maka dalam kasus ini sama seperti penguasa yang menyuruh bawahannya untuk melakukan sesuatu. Akan tetapi jika manusia memerintahkan jin untuk melakukan sesuatu yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya untuk melakukan kesyirikan, membunuh orang yang tidak bersalah, mengganggu orang namun tidak sampai membunuh (misalnya mengirimi penyakit, membuat gila, atau kezaliman lainnya), atau membantu dalam perbuatan maksiat yang diminta oleh manusia, berarti dia telah meminta tolong jin untuk melakukan perbuatan dosa dan melampaui batas.
Jika dia minta tolong jin untuk melakukan kekafiran maka manusia itu kafir, dan jika dia meminta tolong jin untuk melakukan kemaksiatan maka dia orang fasik atau pelaku perbuatan dosa. Akan tetapi yang menjadi persoalan, jin itu memiliki sifat tidak kasat mata, tidak terlihat oleh indera manusia. Sekalipun ia hidup di dekat manusia tapi manusia tidak bisa melihat, sementara para jin bisa melihat aktivitas kita sebagaimana dijelaskan Allah subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya kami Telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al A’raaf: 27)
Dari sifatnya yang tak terlihat tapi bisa melihat, ini saja sebenarnya sudah tidak seimbang. Bagaimana seseorang berteman dan saling membutuhkan satu sama lain kalau salah satunya tidak bisa dilihat tapi bisa melihat? Tentu hal ini menjadi persoalan tersendiri.

Lalu dari mana kita tahu bahwa jin yang kita kunjungi (kita ajak berkomunikasi) itu adalah jin muslim? Bagaimana jika ternyata jin yang kita ajak berkomunikasi itu jin kafir yang pura-pura sebagai muslim, sementara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjelaskan kepada kita bahwa jin itu memiliki sifat pendusta?

Dari sisi sifatnya saja berinteraksi atau bergaul dengan jin merupakan sesuatu yang mengandung bahaya besar dan ia merupakan salah satu pintu keburukan dan kerusakan. Bukankah kemusyrikan pertama yang dilakukan oleh manusia itu juga melalui jin? Sebagaimana diinformasikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pengajaran Allah kepada hamba-hamba-Nya.
“Dan sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku seluruhnya dalam keadaan lurus, maka kemudian datanglah syaitan dan menyimpangkan mereka dari agama mereka, dia mengharamkan bagi mereka apa yang Aku halalkan bagi mereka, serta memerintahkan mereka agar menyekutukan-Ku dengan apa-apa yang tidak Aku turunkan kepadanya suatu penjelasan.” (HR. Muslim)
Walaupun diantara golongan jin ada yang beriman dan muslim tapi diantara mereka ada juga yang kafir dan fasik. Itu sebabnya mewaspadai tipu daya jin harus didahulukan. Itulah sebabnya sebagian besar ulama menegaskan bahwa berhubungan dengan jin hukumnya haram secara mutlak, tidak ada pengecualian karena bahayanya lebih besar dari manfaatnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, Maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS. Al Jin: 6)
Di sisi lain Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan,
“Hai orang-orang mukmin, Sesungguhnya di antara Isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At Taghaabun: 14)
Ayat ini Allah ta’ala mengingatkan kita tentang orang-orang terdekat kita yang bisa saja menjadi musuh kita. Pada orang orang terdekat kita itu manusia yang tampak kelihatan secara kasat mata itupun bahayanya masih terbuka.

Lalu bagaimana dengan makhluk yang tidak terlihat oleh mata? Bukankah jauh lebih berbahaya dan wajib diwaspadai? Lalu untuk apa harus berteman dengan jin muslim, saling tolong menolong, dan bersilaturahmi?