Terapi Pengobatan Dengan Bantuan Jin Menurut Syariat Agama Islam

Banyak pengobatan alternatif yang berkembang di masyarakat. Tak jarang banyak orang yang lebih meyakini pengobatan alternatif ini daripada pengobatan oleh dokter. Sudah banyak yang memberikan testimoni ketika sakit parah yang secara medis divonis harus operasi namun begitu dibawa ke terapi alternatif hanya diusap-usap saja sudah hilang penyakitnya dan setelah dicek di laboratorium, penyakit yang seharusnya dioperasi itu ternyata sudah hilang.

Namun tak sedikit pula orang yang meyakini proses terapi alternatif tersebut menggunakan media jin. Benarkah demikian? Apakah memang dibolehkan bila pengobatan menggunakan jin? Lalu bagaimana membedakan terapi yang menggunakan bantuan jin dan yang murni terapi?

Tidak semua pengobatan yang tidak kasat mata atau yang tidak bisa dijelaskan oleh kedokteran barat, identik dengan bantuan jin. Pengobatan dengan ruqyah dan dzikir-dzikir tertentu adalah contoh lain dari pengobatan yang barangkali tidak bisa dinalar oleh ilmu kedokteran barat. Akan tetapi akhir-akhir ini berbagai penelitian terbaru ditemukan banyak penyakit fisik yang dipengaruhi oleh kondisi jiwa.

Jadi pengobatan alternatif boleh-boleh saja jika memenuhi syarat ketentuannya, diantaranya tidak menggunakan zat-zat yang haram, seperti darah, khamr atau sejenisnya, tidak berobat dengan pengobatan yang mengandung unsur kekufuran atau syirik, tidak boleh melakukan pengobatan dengan wasilah yang haram, tidak boleh juga berobat yang mengakibatkan adanya khalwat atau berduaan dengan non-mahram yang bukan dalam kondisi darurat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesembuhanmu pada apa yang diharamkan bagimu.” (HR. Muslim)
Bahkan dalam hadits Abu Dawud dan Tirmidzi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang setiap obat yang buruk. Pengobatan alternatif memang tidak dilarang bila terbukti dapat menyembuhkan atau meringankan penyakit tertentu, seperti khasiat pijat dalam menyembuhkan patah tulang atau keseleo. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berobat dengan berbagai pengobatan yang memang terbukti berkhasiat pada masanya, mulai dari berbekam, madu, hingga daun-daunan tertentu sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Thabrani dalam Al Mu’jam Al Kabir,
Dari Sahal bin Sa’ad bahwa Fatimah radhiyallahu ‘anha mengobati luka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membakar sedikit bagian dari tikar yang terbuat dari daunan tertentu dan menempelkan abunya ke luka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menghentikan darahnya. Beliau juga memerintahkan para sahabat untuk berobat kepada seorang dokter yang ada di Madinah ketika itu.
Beberapa pengobatan alternatif juga menggunakan ruqyah sebagai sarananya. Ruqyah sebenarnya juga bisa digunakan untuk penyakit fisik. Allah ta’ala berfirman:
“Dan kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. Al Israa’: 82)
Sebagian ulama memaknai penawar tersebut tidak hanya untuk jiwa tapi juga untuk sakit yang menimpa badan. Hal ini dikuatkan dengan apa yang terjadi pada beberapa sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dimana mereka mengobati orang yang terkena sengatan ular dengan dibacakan Al Fatihah, tentu saja efek ber-ruqyah erat kaitannya dengan kekuatan iman dan keyakinan peruqyah.

Berobat merupakan hal yang disyariatkan dalam ajaran Islam. Menurut para ulama, hukum berobat tergantung dari kondisi, menjadi wajib jika meninggalkan pengobatan akan mengakibatkan meninggal dunia, atau cacatnya anggota tubuh, atau penyakit tersebut bisa menular kepada orang lain. Namun jika penyakit yang diderita tidak berbahaya maka hukum berobat bisa sunnah, bisa mubah. Sebaliknya, hukumnya bisa menjadi haram jika dalam prosesnya melibatkan unsur-unsur yang diharamkan agama.

Jika demikian, bagaimana dengan pengobatan terhadap penyakit badan yang menggunakan bantuan jin? Apakah bantuan jin selalu identik dengan kemusyrikan?

Ibnu Taimiyyah menyebutkan hukum berinteraksi dengan jin sebetulnya tidak jauh berbeda dengan interaksi dengan sesama manusia. Jika tolong menolong dalam dosa dan maksiat maka hukumnya haram, jika saling mengingatkan dalam taat maka hukumnya dianjurkan, dan jika meminta tolong dalam hal duniawi yang mubah maka prinsipnya diperbolehkan.

Akan tetapi hukum  tersebut bisa saja menjadi makruh bahkan haram dikarenakan perbedaan alam serta tabiat jin dan manusia sehingga rentan terjadi penyimpangan. Inilah yang diwanti-wanti di dalam Al Qur’an:
“bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, Maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS. Al Jin: 6)
Jin bisa melihat manusia, sementara manusia tidak bisa melihat jin sehingga dalam interaksi dengan jin tersebut rentan terjadi manipulasi dari pihak jin. Bisa saja dia mengaku muslim untuk mengelabui manusia, yang membuat manusia terikat dengannya. Bahkan bisa jadi jin meminta kompensasi atau imbalan yang berupa perbuatan kufur ataupun syirik.

Sungguh tidak tepat bila kita beralasan dengan kisah Nabi Sulaiman ‘alaihi salam bahwa beliau memiliki pasukan jin. Memang Allah subhanahu wa ta’ala menundukkan jin sehingga patuh kepada Nabi Sulaiman ‘alaihi salam sebagaimana firman-Nya:
“Dan kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) dan kami alirkan cairan tembaga baginya. dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya. dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah kami, kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala.” (QS. Saba’: 12)
Sulaiman adalah seorang nabi dan tunduknya jin dibawah perintahnya merupakan bagian dari mukjizat yang Allah khususkan untuknya. Larangan berinteraksi dan meminta bantuan jin dalam pengobatan sebetulnya bersifat pencegahan agar tidak terjerumus kepada perbuatan kufur dan syirik. Allah ta’ala juga menceritakan kerjasama manusia dengan jin yang berakhir dengan kesesatan. Firman Allah ta’ala:
“Dan (Ingatlah) hari diwaktu Allah menghimpunkan mereka semuanya (dan Allah berfirman): "Hai golongan jin, Sesungguhnya kamu Telah banyak menyesatkan manusia", lalu berkatalah kawan-kawan meraka dari golongan manusia: "Ya Tuhan kami, Sesungguhnya sebahagian daripada kami Telah dapat kesenangan dari sebahagian (yang lain) dan kami Telah sampai kepada waktu yang Telah Engkau tentukan bagi kami". Allah berfirman: "Neraka Itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain)". Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al An’am: 128)
Wallahu a’lam bishshawab.