Teman Adalah Pihak Yang Menentukan Nasib Kita Kelak Di Akhirat

Dalam pergaulan, kita dihadapkan pada banyak orang, baik di lingkungan tempat tinggal, sekolah, tempat kerja, dan lainnya. Namun apakah mereka semua akan menjadi teman atau sekedar kenalan? Itu semua tergantung kita dalam memilih teman. Jika tidak tepat dalam memilih teman, penyesalan luar biasa akan dialami kelak di akhirat.

Inilah yang dikabarkan Allah subhanahu wa ta’ala kepada kita dalam firman-Nya,
“Dan (Ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: "Aduhai kiranya (dulu) Aku mengambil jalan bersama-sama Rasul". Kecelakaan besarlah bagiKu; kiranya Aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia Telah menyesatkan Aku dari Al Quran ketika Al Quran itu Telah datang kepadaku. dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.” (QS. Al Furqaan: 27-29)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengingatkan dalam sabdanya,
“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi bisa jadi percikan apinya mengenai pakaianmu dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tidak sedap.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Tak sekedar pengaruh yang didapat, tapi seorang teman benar-benar akan menjadi pihak yang menentukan nasib kita di akhirat. Bagaimana itu bisa terjadi?

Teman yang kita miliki saat ini memang kelak di akhirat akan menentukan dimana tempat kita (apakah di surga atau di neraka). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Ketika orang-orang mukmin sudah dibebaskan dari siksa api neraka, mereka akan mengajukan permohonan kepada Allah “Wahai Tuhan kami, mereka yang tinggal di neraka pernah berpuasa bersama kami, shalat, dan juga haji.” Kemudian Allah menjawab “Keluarkan dari mereka orang-orang yang kalian kenal!” Orang-orang mukmin itu pun akhirnya mengeluarkan banyak teman dan saudaranya yang telah dibakar di neraka. Diantara penghuni neraka itu sudah ada yang dibakar hingga betis dan ada juga yang sudah terbakar hingga lutut. Setelah orang-orang mukmin itu mengeluarkan para sahabatnya mereka melapor kepada Allah “Ya Tuhan kami, orang yang Engkau perintahkan untuk dikeluarkan dari neraka sudah tidak tersisa.” Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berfirman “Kembali lagi, keluarkanlah yang masih memiliki iman seberat dinar!” Setelah itu, keluarlah rombongan orang-orang mukmin dari neraka mereka berjumlah sangat banyak dan telah merasakan pedihnya siksa api neraka. Tak lama setelah itu, orang-orang mukmin kembali melapor kepada Allah “Wahai Tuhan kami, kami tidak meninggalkan seorang pun orang yang Engkau perintahkan untuk dientas”.” (HR. Muslim)
Lihatlah bagaimana orang yang selamat dari neraka justru diperintahkan Allah subhanahu wa ta’ala untuk menyelamatkan temannya yang masih di neraka bahkan di saat teman-teman kita masuk surga kelak, kita bisa terkena imbasnya. Hal inilah yang membuat generasi sahabat berlomba-lomba menjalin pertemanan dengan orang-orang baik.
Suatu hari, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya oleh seseorang “Kapan hari kiamat akan terjadi, Wahai Rasulullah?” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapi kematian?” Orang tersebut menjawab “Aku tidaklah mempersiapkan hari kiamat dengan banyak shalat, puasa, dan sedekah tetapi yang dipersiapkan adalah cinta Allah dan Rasul-Nya.” Rasulullah bersabda “Kalau begitu engkau akan bersama-sama dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat yang lain setelah mendengar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Anas bin Malik berkomentar,
“Kalau begitu, aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan Umar. Aku berharap bisa bersama mereka karena kecintaanku kepada mereka. Walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka.”
Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari menjelaskan bahwa manusia akan berada di dekat orang-orang yang di dekatnya sehingga ketika orang yang kita cintai masuk surga, kita juga akan masuk surga, tetapi bukankah surga itu bertingkat-tingkat sesuai dengan amalan shalih para penghuninya?

Terkait kedudukan mereka di surga, Ibnu Hajar tidak menjelaskan secara mendetail, apakah dua orang yang saling bersahabat akan berada pada tingkatan yang sama di surga kelak. Terlepas dari itu, masuk surga adalah sebuah kenikmatan yang luar biasa meskipun berbeda tingkatan.

Para ulama menegaskan pentingnya bersahabat dengan orang yang shalih. Hasan Al Bashri mengatakan perbanyaklah sahabat-sahabat mukminmu karena mereka memiliki syafa’at pada hari kiamat. Ibnu Qayyim Al Jauziyah pernah berkata pada sahabat-sahabatnya sambil menangis,
“Jika kalian tidak menemukan aku nanti bersama kalian maka tolonglah bertanya kepada Allah tentang diriku, “Wahai Rabb kami hamba-Mu fulan sewaktu di dunia selalu mengingatkan kami tentang Engkau maka masukkanlah dia bersama kami di surga-Mu”.”
Itu sebabnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan pesan bahwa persahabatan menjadi bagian dari manisnya iman. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Ada tiga perkara yang apabila seseorang memilikinya akan mendapatkan manisnya iman, yaitu: (1) Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya, (2) Dia mencintai seseorang tidaklah dia mencintainya kecuali karena Allah, dan (3) Dia tidak suka kembali kepada kekufuran setelah Allah membebaskan darinya sebagaimana ia tidak suka dilemparkan ke dalam api.” (HR. Bukhari)