Tanda-Tanda Shalat Yang Diterima Oleh Allah

Mungkin ada yang bertanya: ada orang yang rajin shalat tapi mengapa shalatnya tidak mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar, mulutnya masih saja ceriwis kesana kemari (masih suka bergunjing)? Orang ini berarti tidak merasakan manfaat shalat dalam kehidupannya, dia tidak merasakan kenikmatan dari shalat yang dilakukan maka besar kemungkinan, orang semacam ini shalatnya belum diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Hal ini disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Pada hari kiamat nanti, ada orang yang membawa shalatnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala kemudian dia mempersembahkan shalatnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, lalu shalatnya dilipat-lipat seperti dilipatnya pakaian yang kumal kemudian dibantingkan ke wajahnya. Allah tidak menerima shalatnya.”
Banyak sekali orang yang shalat dan shalatnya akan dibantingkan ke wajahnya (ditolak oleh Allah), bahkan ada yang celaka dengan shalatnya seperti yang terdapat dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala,
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,” (QS. Al Maa’uun: 4-5)
Orang-orang yang shalat saja masih bisa celaka, apalagi yang tidak shalat. Bahkan ketika Isra Mi’raj, Nabi bertemu dengan kaum yang dipecahkan kepalanya sampai hancur. Siapakah mereka? Lalu apa tanda-tanda shalat yang diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala?

Semua itu dijawab Allah subhanahu wa ta’ala dalam hadits qudsi, Allah berfirman:
“Sesungguhnya Aku hanya akan menerima shalat orang-orang yang merendahkan dirinya karena kebesaran-Ku, menahan dirinya dari hawa nafsu karena Aku, yang mengisi sebagian waktu siangnya untuk berdzikir kepada-Ku, yang melazimkan hatinya untuk takut kepada-Ku, yang tidak sombong terhadap makhluk-Ku, yang memberi makan pada orang yang lapar, yang memberi pakaian pada orang yang telanjang, yang menyayangi orang yang terkena musibah, yang memberikan perlindungan kepada orang yang terasing. Kelak cahaya orang itu akan bersinar seperti cahaya matahari. Aku akan berikan cahaya ketika dia kegelapan. Aku akan berikan dia ilmu ketika dia tidak tahu. Aku akan lindungi dia dengan kebesaran-Ku. Aku akan suruh malaikat menjaganya. Kalau dia berdoa kepada-Ku, Aku akan segera menjawabnya. Kalau dia meminta kepada-Ku, Aku akan segera memenuhi permintaannya. Perumpamaannya di hadapan-Ku seperti perumpamaan surga Firdaus.”
Dari hadits qudsi yang cukup panjang ini dapat kita ketahui bahwa orang-orang yang shalatnya diterima Allah subhanahu wa ta’ala itu bisa dilihat dari tanda-tandanya:
  1. Merendah diri. Para ulama menjelaskan bahwa kalau kita sudah berdiri di atas sajadah, sudah mengangkat tangan untuk takbir. Ketahuilah bahwa kita sudah meninggalkan dunia ini (sudah Mi’raj menghadap Allah subhanahu wa ta’ala) seperti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita sudah berada di Sidratul Muntaha. Pada suatu hari, orang melihat Ali Zainal Abidin sedang berwudhu dan wajahnya berubah menjadi wajah yang pucat pasi, tubuhnya gemetar. Lalu ada yang bertanya “Apa yang terjadi?” Ali Zainal Abidin menjawab “Engkau tidak mengetahui dihadapan siapa sebentar lagi aku berdiri.” Ketika berwudhu, Ali Zainal Abidin menyadari sebentar lagi ia akan berdiri dihadapan Rabbul ‘alamin Penguasa Alam Semesta ini. Karena itu pada waktu wudhunya saja beliau sudah gemetaran/ketakutan karena sebentar lagi menghadap Allah.
  2. Menahan nafsu. Orang yang diterima shalatnya oleh Allah, mampu mengendalikan hawa nafsunya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Pada hari kiamat nanti, ada orang yang diistimewakan Allah, dilindungi khusus sebagai orang-orang penting pada hari kiamat. Salah satunya adalah orang yang diajak kencan oleh seorang perempuan yang cantik, yang mempunyai pangkat yang tinggi, tapi dia menolaknya seraya berkata “Aku takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala.” Inilah orang yang kuat dan mampu mengendalikan hawa nafsunya.”
  3. Banyak berdzikir. Dalam Al Qur’an, kita selain diperintahkan untuk banyak beramal shalih juga diperintahkan untuk beramal dengan sebaik-baiknya. Hal ini difirmankan Allah subhanahu wa ta’ala “Allah akan menguji kamu siapa yang paling baik amalannya.” Jadi Allah akan menguji manusia, siapa yang paling baik amalannya dan bukan yang paling banyak amalannya. Lebih bagus lagi manusia itu banyak dan baik amalannya.
  4. Peduli pada sesama.
  5. Suka berderma dengan memberikan makanan kepada orang yang lapar atau memberikan pakaian kepada orang yang tidak punya. Dia menyayangi orang yang terkena musibah dan memberikan perlindungan kepada orang yang terasing.
Disinilah realisasi orang yang shalatnya diterima. Bila hal ini sudah dilakukan maka dari wajah orang yang shalatnya diterima akan memancarkan cahaya yang bersinar, cahaya yang menerangi kegelapan, dan Allah akan memberikan ilmu pada saat dia tidak tahu.

Dalam hadits yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa salah satu cara mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala ialah bersifat dermawan dan senang membantu orang lain terutama pada orang yang sedang kesulitan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Orang yang dermawan dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dan dekat dengan surga. Sedangkan orang yang bakhil atau pelit jauh dari Allah, jauh dari manusia, dan dekat dengan neraka.”
Orang dermawan Insya Allah akan menemukan dan memperoleh kenikmatan didalam shalatnya karena dia dijaga oleh para malaikat, diberi cahaya dalam kegelapan, dan diberi ilmu secara langsung oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Pada saat peperangan di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak orang Yahudi yang dihukum mati karena pengkhianatan mereka. Ketika seorang tawanan akan dihukum, tiba-tiba malaikat Jibril datang memberitahu Rasulullah supaya orang Yahudi itu dibebaskan. Diberitahukan bahwa orang Yahudi yang satu ini suka memberikan makanan, menjamu tamu, dan suka menolong fakir miskin.

Ketika Rasulullah datang memberitahukan kepada orang Yahudi itu bahwa dia dibebaskan, orang Yahudi itu bertanya “Mengapa?” Nabi menjawab “Allah baru saja memberitahukan padaku bahwa kamu suka membantu orang miskin, suka menjamu tamu, dan suka memikul beban orang lain.” Orang Yahudi itu bertanya kembali “Apakah Tuhanmu menyukai perilaku itu?” Nabi menjawab “Betul, Tuhanku menyukai hal itu.” Orang Yahudi itu pun terharu lalu memeluk Islam.

Dia memeluk Islam karena sifat kedermawanannya dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Orang yang suka memberikan pertolongan,  tidak mempersulit orang lain, tidak menahan hak orang lain, dan memudahkan urusan orang lain Insya Allah akan memperoleh kenikmatan dalam shalat. Orang yang merasakan kenikmatan dalam shalat adalah salah satu tanda bahwa shalatnya diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Orang yang shalatnya diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala niscaya Allah mencintainya dan orang yang dicintai Allah akan terbukalah baginya segala pintu langit dan bumi, terbukalah segala macam dinding penghalang, terbukalah segala macam selubung kegelapan yang melanda jiwanya.

Bila dihati orang yang shalatnya diterima hanya semata-mata karena Allah maka tak ada lagi kesempatan untuk membenci, menggunjingkan, iri, dengki kepada orang lain, bahkan memusuhi setan pun dia tidak sempat seperti yang dikatakan oleh wanita Sufi Rabi’ah Al Adawiyah,
“Hatiku sudah penuh dengan Allah. Tak ada tempat lagi untuk memusuhi setan.”
Orang yang merasakan nikmatnya shalat, bila punya jabatan maka jabatannya akan dipergunakan untuk mendekati Allah, mengajak bawahannya untuk mengabdi kepada Allah karena dia mengetahui jabatan itu pun sebenarnya bukan miliknya tapi amanat Allah yang dititipkan Allah kepadanya yang nantinya dimintai pertanggung jawaban di hadapan Illahi Rabbi.

Itu sebabnya ketika Umar bin Khattab dipilih menjadi khalifah, dia tidak mengucapkan “Alhamdulillah” tapi justru mengucapkan “Astaghfirullah” dia mohon ampun kepada Allah karena yang terbayang dimatanya bukan kursi empuk dengan berbagai macam fasilitas yang diterimanya tapi amanat Allah, tanggung jawabnya kepada Allah itulah yang terbayang dalam pikirannya.

Bisakah dia mengemban amanat yang dipikulkan kepadanya? Bisakah dia berlaku adil kepada bawahannya? Bila tidak, nerakalah tempatnya. Dan pemimpin yang tidak adil termasuk orang yang tidak dilihat oleh Allah di akhirat nanti dan tidak mendapat ampunan Allah. Orang-orang yang tidak diperlakukan dengan adil akan mengadukan hal tersebut kepada Allah dan Allah akan menjawabnya.

Maka bertanyalah kepada diri kita masing-masing, sudahkah kita shalat dengan benar? Sudahkah sujud kita, ruku’ kita, tuma’ninah kita benar? Insya Allah shalat yang penuh dengan kekhusyu’an dan keikhlasan akan diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Wallahu a’lam bishshawab.