Siapakah Orang-Orang Yang Mati Syahid Dan Yang Bukan Mati Syahid?

Tidak ada kemuliaan yang paling didambakan oleh orang mukmin kecuali mati syahid karena Allah subhanahu wa ta’ala menjanjikan bagi orang yang mati syahid dengan ampunan dan surganya. Orang-orang yang mati syahid tidak selalu mereka yang gugur di medan jihad. Akan tetapi ada juga orang-orang yang meninggal bukan oleh sebab jihad atau perang di jalan Allah.

Hal ini bisa kita ketahui dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau bertanya kepada para sahabatnya,
“Siapa yang terhitung syahid menurut pendapat kalian?” Mereka menjawab “Yang berperang di jalan Allah sampai mati.” Beliau bersabda “Kalau begitu yang mati syahid dari umatku sedikit. Orang yang terbunuh di jalan Allah adalah mati syahid, orang yang meninggal karena Tha’un atau wabah di jalan Allah adalah mati syahid, orang yang tenggelam di jalan Allah adalah mati syahid, orang yang jatuh dari hewan tunggangannya di jalan Allah adalah mati syahid, dan orang yang sakit perut (lambung).” (HR. Ahmad)
Berdasarkan hadits ini, para ulama kemudian menyimpulkan bahwa orang yang mati dalam bencana alam seperti gempa bumi, longsor, banjir bandang, kecelakaan, dan lainnya digolongkan sebagai orang yang mati syahid. Akan tetapi mati syahid karena sebab perang di jalan Allah perlakuannya berbeda dengan mati syahid karena bencana.

Orang-orang yang mati syahid karena perang di jalan Allah, ia disebut sebagai mati syahid dunia dan akhirat maka jenazahnya tidak perlu dimandikan dan dikafani tapi langsung dimakamkan dengan luka dan pakaiannya yang menempel di badan. Nanti di akhirat, ia mendapatkan ganjaran sempurna dan dijamin surga oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Sedangkan orang yang mati karena bencana maka dia disebut dengan mati syahid akhirat saja. Artinya, jenazahnya tetap diperlakukan seperti jenazah yang meninggal biasa (tetap dimandikan dan dikafani sebelum dimakamkan). Adapun kelak di akhirat, ia akan mendapatkan pahala dan ganjaran seperti orang yang mati syahid.

Masalahnya, apakah orang-orang yang meninggal karena tertimpa bangunan, atau karena longsor, atau karena gempa bumi, atau tenggelam itu semua mati syahid tanpa terkecuali? Bagaimana jika yang meninggal karena musibah itu orang yang banyak dosa dan pelaku maksiat? Apakah tetap disebut mati syahid?

Orang-orang yang dikategorikan mati syahid dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah apabila mereka semua berada di jalan Allah. Artinya, saat musibah menimpa maka mereka tengah berada dalam kondisi ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, bukan sebaliknya.

Maka jika ia mati saat musibah datang, sementara dia sedang mencari rizki untuk menafkahi keluarganya maka ia mati syahid, jika ia mati ketika musibah datang dan saat itu ia sedang dalam kondisi sedang dalam perjalanan menjemput keluarganya maka ia mati syahid, atau ketika ia terserang wabah penyakit lalu meninggal, sedangkan ia tengah dalam kondisi ketaatan kepada Allah maka ia mati syahid, dan lain sebagainya.

Akan tetapi sebaliknya, jika saat kematiannya tidak dalam rangka ketaatan kepada Allah maka ia tidak disebut mati syahid, justru sebagian ulama mengatakan bahwa matinya sebagai teguran dan azab dari Allah subhanahu wa ta’ala baginya.

Sedangkan orang yang suka berbuat maksiat jika meninggalnya karena terkena bencana alam, atau kecelakaan, atau terserang wabah penyakit tetapi ia tidak sedang dalam keadaan berbuat maksiat pada saat ajalnya tiba maka harus dilihat apakah sebelum ajalnya tiba telah bertaubat atau belum. Jika ia belum bertaubat sebelum ajalnya tiba dan ia selalu memikirkan perbuatan maksiat atau bahkan berencana mengulanginya lagi atau melakukan kemaksiatan yang lain maka ia tidak dianggap berada di jalan Allah dan apabila mati terkena bencana alam maka ia tidak dinyatakan mati sebagai syahid.

Namun apabila sebelum ajalnya tiba, ia telah bertaubat dari perbuatan maksiatnya kemudian ia kembali ke jalan Allah meski tanpa ada seorang pun yang mengetahuinya maka dengan taubatnya kepada Allah, ia berada di jalan Allah dan Insya Allah ia mati syahid.

Ajal adalah ketentuan Allah dan takdir-Nya yang ada dalam genggaman-Nya apakah seseorang akan mati husnul khatimah atau su’ul khatimah. Mati syahid atau tidak mati syahid, hanya Allah subhanahu wa ta’ala yang mengetahuinya. Orang yang amalan kesehariannya tampak seperti ahli surgapun belum ada jaminan apakah ia akan menemui ajalnya dalam keadaan yang baik, begitu juga sebaliknya karena semua itu tergantung bagaimana akhir dari kehidupannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya ada salah seorang dari kalian beramal dengan amalan ahli surga sehingga jarak antara dirinya dengan surga hanya tinggal satu hasta tapi catatan takdir mendahuluinya lalu dia beramal dengan amalan ahli neraka lantas ia memasukinya. Dan sesungguhnya ada salah seorang dari kalian beramal dengan amalan ahli neraka sehingga jarak antara dirinya dengan neraka hanya tinggal satu hasta tapi catatan takdir mendahuluinya lalu dia beramal dengan amalan ahli surga lantas ia memasukinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Oleh karena itu kita tidak bisa menentukan dan mengklaim bahwa seseorang telah meninggal husnul khatimah atau su’ul khatimah kecuali dari tanda-tanda yang zahir saja. demikian juga dengan orang yang mati syahid dan yang bukan mati syahid sebab ampunan dan surga itu adalah hak prerogatif Allah subhanahu wa ta’ala sedangkan manusia hanya berusaha menuju ampunan dan surga dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Wallahu a’lam bishshawab.