Shalat Sambil Duduk Padahal Kondisinya Sehat [Hanya Kelelahan]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Shalatlah kamu dengan berdiri. Jika tidak mampu maka shalatlah dengan duduk. Dan jika tidak mampu juga maka shalatlah dengan berbaring.” (HR. Bukhari)
Dari hadits ini bisa dipahami bahwa shalat sambil duduk atau berbaring boleh dilakukan jika tidak mampu. Lalu bagaimana jika seseorang melakukan shalat sambil duduk padahal kondisinya sehat tapi hanya kelelahan?

Perlu diperhatikan bahwa shalat itu wajib dilakukan oleh kaum muslim dalam kondisi apapun juga. Ulama sepakat bahwa berdiri pada shalat wajib atau shalat fardhu adalah salah satu rukun shalat. Tidak sah shalat bagi orang yang mampu berdiri kecuali dengan berdiri. Allah subhanahu wa ta’ala menegaskan dalam firman-Nya,
“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu'.” (QS. Al Baqarah: 238)
Juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Imran bin Husain yang saat itu mengalami penyakit wasir,
“Shalatlah kamu dengan berdiri. Jika tidak mampu maka shalatlah dengan duduk. Dan jika tidak mampu juga maka shalatlah dengan berbaring.” (HR. Bukhari)
Mengomentari hadits ini, Syaikh Al Bassam menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan tentang urutan shalat fardhunya orang sakit. Ia wajib berdiri jika mampu melakukannya karena berdiri adalah salah satu rukun shalat fardhu walaupun ia sambil bersandar atau bertumpu kepada tongkat, dinding, atau semisalnya. Seseorang tidak boleh berpindah dari satu urutan ke urutan berikutnya kecuali karena benar-benar tidak mampu atau sangat kepayahan sehingga menghilangkan kekhusyu’an karena khusyu’ merupakan tujuan utama dari shalat.

Berdasarkan hadits ini juga bisa dipahami bahwa orang yang mengerjakan shalat fardhu dengan duduk padahal ia mampu berdiri maka shalatnya bathil. Semua ini menunjukkan bahwa shalat tidak gugur selama akal masih sadar (normal). Orang yang sakit parah, ia berisyarat dengan kepalanya. Jika tidak mampu maka dengan matanya. Jika tidak mampu berisyarat dengan matanya, ia shalat dengan hatinya. Jika masih bisa membaca, ia membaca dengan lisannya. Jika tidak bisa maka ia membaca dengan hatinya.

Maka keputusan sebagian orang yang menggampangkan urusan ini, ia shalat dengan duduk tanpa adanya udzur yang benar-benar maka shalat mereka batal. Wallahu a’lam bishshawab.