Shalat Berjama’ah Yang Istimewa Dan Berpahala Besar [27 Derajat]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa shalat berjama’ah memiliki keistimewaan yang luar biasa daripada shalat sendirian. Akan tetapi fenomena shalat berjama’ah yang terjadi di masyarakat seringkali menimbulkan tanya, shalat berjama’ah yang seperti apa yang memiliki keistimewaan itu karena kaum muslim tidak selalu berjama’ah di masjid tepat waktu?

Lalu apakah shalat jama’ah yang istimewa dan berpahala besar itu shalat jama’ah pertama setelah kumandang adzan awal waktu ataukah juga mencakup shalat jama’ah gelombang kedua yaitu orang-orang yang terlambat ke masjid lalu membentuk jama’ah sendiri setelah jama’ah pertama selesai? Bagaimana pula dengan gelombang selanjutnya: ketiga, keempat, dan seterusnya? Lalu bagaimana jika berjama’ah di rumah?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Shalat berjama’ah lebih utama daripada shalat sendiri sebanyak 27 derajat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menegaskan keistimewaan shalat berjama’ah yang pahalanya mencapai 27 derajat dibanding shalat sendirian. Banyak ulama menilai dalam hadits ini tidak ada keterangan apakah shalat berjama’ah disini dilakukan pada gelombang pertama, kedua, atau gelombang-gelombang berikutnya.

Demikian pula tidak ditemukan hadits lain yang membatasi cakupannya. Tapi hanya ditegaskan bahwa shalat berjama’ah itu jauh lebih istimewa daripada sendiri-sendiri. Maka gelombang berapapun dalam shalat berjama’ah di suatu masjid pahalanya sama, bahkan shalat berjama’ah di rumah pun bisa mendapatkan pahala yang seperti itu.

Oleh karena itu muncul persoalan lain, jika memang tidak ada perbedaan pahalanya. Lalu apa bedanya shalat berjama’ah gelombang pertama dan kedua atau gelombang lainnya? Karena jika tidak berbeda, bisa membuat orang mengambil gelombang kedua atau ketiga karena lebih leluasa.

Perlu dipahami bahwa setiap upaya lebih, pasti mendapatkan hasil lebih. Setiap perjuangan lebih dalam ibadah pasti membuahkan pahala dari sisi Allah ta’ala Yang Maha Adil dan Maha Pemurah. Lalu apa kelebihannya berjama’ah di gelombang pertama?

Orang yang melakukan shalat berjama’ah di masjid pada gelombang pertama, dia berpeluang mendapatkan tambahan pahala lainnya, misalnya ketika ia bersucinya dan kemudian berjalan ke masjid maka setiap langkahnya berpahala sekaligus menghapus satu dosa.

Selain itu, orang yang shalat berjama’ah pada gelombang pertama juga berpeluang mendapatkan pahala lain yang tidak bisa diraih oleh jama’ah gelombang kedua, ketiga, dan seterusnya yaitu waktu yang ia habiskan untuk menunggu shalat di masjid dihitung juga sebagai shalat dan selama itu pula para malaikat mendoakan rahmat dan ampunan untuknya.

Selain itu, ia juga berpeluang mendapatkan keutamaan shaf pertama dan keutamaan takbiratul ihram bersama imam yang juga mempunyai keutamaan tersendiri dalam shalat berjama’ah sebagaimana dijanjikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa siapa yang melakukannya 40 hari maka ia akan dibebaskan dari dua hal: sifat munafik dan neraka.

Adapun mereka yang terlambat ke masjid sehingga ikut gelombang kedua atau ketiga dan seterusnya memang mendapatkan pahala 27 derajat. Akan tetapi tidak mungkin mendapatkan semua kelebihan lain yang bisa diraih oleh mereka yang berjama’ah di masjid pada gelombang pertama. Maka semakin jauh gelombang jama’ah tersebut dari gelombang imam utama, tentu akan semakin berkurang juga keutamaan yang diperoleh.

Sebagian ulama menjelaskan bahwa pahala 27 derajat tersebut bisa bertambah dan berkurang tergantung dari kualitas shalat berjama’ah yang dilakukan dan kondisi-kondisi lain yang melingkupinya sehingga bisa kita katakan bahwa semakin terlambat dari jama’ah utama maka seseorang akan semakin berkurang pahala shalat berjama’ahnya kecuali ia terlambat karena alasan yang bisa ditoleransi oleh syariat. Maka dalam kondisi seperti itu bisa saja ia mendapatkan pahala yang sama dengan gelombang pertama.

Lalu apa maksud pahala 27 derajat dalam shalat berjama’ah itu?

Dua puluh tujuh derajat maksudnya adalah 27 kali lebih baik daripada shalat sendiri. Perlu diketahui juga bahwa ada beberapa hadits yang menjelaskan tentang keutamaan shalat berjama’ah dibandingkan dengan shalat sendiri. Ada hadits yang menyebutkan 25 derajat. Dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Shalat berjama’ah setara dengan 25 kali shalat sendiri dan jika shalat berjama’ah tersebut dikerjakan di padang pasir kemudian ia melakukan ruku’ dan sujud dengan sempurna maka pahalanya setara 50 kali shalat”.” (HR. Abu Dawud)
Lalu manakah yang benar, pahala yang diraih dalam shalat berjama’ah itu 27 atau 25?

Mayoritas ulama sepakat bahwa yang utama bukanlah jumlah angkanya, penekanannya adalah shalat berjama’ah berkali lipat lebih baik dari shalat sendiri. Lalu bagaimana memahami riwayat yang berbeda-beda tersebut?

Para ulama menjelaskannya dengan beberapa cara:
  1. Hadits tersebut diucapkan Rasulullah shallallahu ’alaihi  wa sallam dalam kesempatan yang berbeda. Di kesempatan pertama beliau menyampaikan 25 kemudian turun wahyu dari Allah tentang penambahan keutamaan tersebut sehingga menjadi 27. Inilah yang kemudian beliau sampaikan pada kesempatan berikutnya.
  2. Dikemukakan oleh para ulama bahwa perbedaan jumlah pahala yang tersebut dalam hadits, tergantung dari berbagai faktor, misalnya faktor khusyu’, faktor kesempurnaan, faktor jauh atau dekatnya masjid, dan berbagai faktor lainnya sehingga jumlahnya bisa 25 atau 27 bahkan bisa lebih atau kurang. Hal seperti ini banyak contohnya dalam kasus yang lain, seperti: pahala sedekah yang disebutkan dalam surah Al Baqarah bahwa pahalanya dilipatgandakan hingga 700 kali, sementara dalam hadits riwayat Thabrani disebut bahwa kelak ketika seseorang masuk surga ia melihat di pintunya tertulis “Pahala sedekah menjadi 10 kali lipat dan pahala meminjamkan menjadi 18 kali lipat.”
Wallahu a’lam bishshawab.