Samakah Ucapan Istighfar Dengan Taubat?

Sebagian orang meyakini bahwa jika seseorang telah melakukan perbuatan dosa maka ia cukup beristighfar saja atau memohon ampunan kepada Allah subhanahu wa ta’ala sebagai taubatnya. Seakan mengucapkan istighfar itu sama dengan taubat. Apakah memang demikian?

Para ulama sepakat bahwa istighfar dan taubat merupakan dua perbuatan yang berbeda. Masing-masing dilakukan berdasarkan motif yang berbeda pula meskipun terlihat sama dan mirip pada tahapan pelaksanaannya. Istighfar secara bahasa artinya adalah memohon ampun kepada Allah, sedangkan taubat adalah kembali kepada Allah.

Para ulama kemudian menjelaskan perbedaan keduanya:
  1. Istighfar boleh dilakukan kapan saja, sedangkan taubat ada batasan waktunya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa taubat tidak lagi berguna dan tidak diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala saat ajal telah ditenggorokan dalam sabdanya: “Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama ruh belum sampai di tenggorokan.” (HR. At Tirmidzi)
  2. Istighfar bisa dilakukan oleh orang yang melakukan dosa dan orang lain, namun taubat hanya bisa dilakukan oleh orang yang melakukan dosa. “Ya Tuhanku! ampunilah aku, ibu bapakku,” (QS. Nuh: 28)
  3. Taubat disyaratkan harus berhenti dari perbuatan dosa yang dilakukannya, sedangkan istighfar tidak disyaratkan karena setiap orang yang beristighfar berarti telah melakukan dosa.
Meskipun memiliki makna yang berbeda, namun istighfar dan taubat merupakan dua perbuatan yang tidak dapat dipisahkan.

Al Qur’an memerintahkan kita jika bertaubat maka didahului dengan perintah istighfar karena taubat merupakan tindak lanjut dari istighfar, dan istighfar adalah salah satu proses menuju taubat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman menjelaskan kisah Nabi Huud ‘alaihi salam dengan kaumnya,
“Dan (Dia berkata): "Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa".” (QS. Huud: 52)
Demikian juga Nabi Syu’aib ‘alaihi salam yang berkata kepada penduduk Madyan,
”Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu Kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.” (QS. Huud: 90)
Jika memang istighfar tidak bisa dipisahkan dari taubat, lalu bagaimana jika seseorang telah melakukan dosa ia hanya beristighfar tetapi tidak bertaubat, apakah istighfarnya bermanfaat dan taubatnya diterima?

Para ulama berbeda pendapat tentang istighfar yang tidak dibarengi dengan taubat. Bagi orang yang telah melakukan dosa sebagian ulama berpendapat bahwa istighfarnya tidak bermanfaat tanpa taubat karena istighfar adalah jalan menuju taubat sehingga apabila yang dimaksudkan tidak tercapai yaitu kembali kepada Allah dan tidak mengulangi dosa yang sama maka istighfar yang dilakukannya menjadi sia-sia.

Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Nabi Shalih ‘alaihi salam kepada Kaum Tsamud,
“Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. dia Telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, Karena itu mohonlah ampunan-Nya, Kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).” (QS. Huud: 61)
Demikian juga yang dilakukan oleh Nabi Daud ‘alaihi salam yang beristighfar lalu bertaubat,
“dan Daud mengetahui bahwa kami mengujinya; Maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat.” (QS. Shaad: 24)
Dalam kedua ayat ini jelas bahwa istighfar atau memohon ampunan kepada Allah, hendaknya dilanjutkan dengan bertaubat yaitu kembali kepada Allah dengan menyesali perbuatan dosanya dan tidak mengulanginya lagi di lain waktu.

Sedangkan sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa istighfar bermanfaat meski orang yang melakukan dosa belum bertaubat karena dalam beberapa hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dibedakan antara istighfar dan taubat, seperti ketika beliau bersabda:
“Demi Allah, sungguh diriku beristighfar dan bertaubat dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Selain itu, didalam Al Qur’an juga dijelaskan bahwa orang yang beristighfar tidak selamanya ia harus bertaubat sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,
“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, Kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nisaa’: 110)
“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.” (QS. Al Anfaal: 33)
Istighfar juga bermanfaat bagi orang lain jika ada yang memintakan ampunan kepada Allah subhanahu wa ta’ala untuk orang tersebut, seperti istighfarnya malaikat bagi orang yang duduk menunggu waktu shalat selama masih dalam keadaan berwudhu,
“Ya Allah, ampunilah dan rahmatilah ia.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Demikian juga doa anak untuk kedua orang tuanya sebagaimana yang selalu kita ucapkan,
“Ya Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka telah menyayangiku di waktu kecil.”
Selain itu, masih banyak lagi anjuran dari Al Qur’an maupun hadits untuk memohonkan ampunan kepada orang lain secara khusus dan untuk kaum muslimin secara umum.

Menurut ulama kontemporer, istighfar dapat bermanfaat untuk pelakunya meskipun ia belum bertaubat. Namun dengan syarat, istighfar tersebut muncul karena rasa takutnya yang sebenarnya kepada Allah azza wa jalla dan keluar dari keputusan hatinya meskipun pada kenyataannya orang seperti ini berada pada dua situasi yaitu antara takut kepada Allah dan kalah oleh hawa nafsunya maka ketika rasa takut muncul, ia beristighfar dan ketika ia dikalahkan oleh syahwatnya, ia terjerumus dalam dosa.

Adapun istighfar yang tidak bermanfaat dan tidak diterima yaitu apabila hanya diucapkan di lisan, tidak disertai dengan rasa takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala maka istighfar seperti ini adalah istighfar dusta. Ia mengatakan “Astaghfirullah” akan tetapi dalam hatinya tidak ada rasa bersalah, takut kepada Allah, dan sadar bahwa yang dilakukan adalah dosa maka istighfar seperti ini tidak bermanfaat sama sekali.

Oleh karena itu, agar taubat seseorang bisa menjadi sempurna maka taubat hendaknya didahului dengan memperbanyak istighfar kemudian setelah itu menyesali dosa yang telah dilakukan dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Selain itu, disunnahkan bagi orang yang bertaubat untuk melaksanakan shalat sunnah sebanyak dua raka’at. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka Mengetahui.” (QS. Ali ‘Imran: 135)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,
“Allah bisa jadi mengampuninya sebagai pengabulan atas doanya dengan beristigfar meski ia belum bertaubat namun bila berkumpul antara istighfar dan taubat maka itulah yang sempurna.”
Wallahu a’lam bishshawab.