Sahkah Guru SD Shalat Jum’at Bersama Murid-Muridnya [Anak-Anak Yang Belum Baligh]?

Shalat jum’at merupakan kewajiban bagi umat Islam, khususnya laki-laki seperti yang tertuang dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Shalat jum’at itu adalah kewajiban bagi setiap muslim dengan berjama’ah kecuali atas empat orang, yaitu: budak, wanita, anak kecil, dan orang sakit.” (HR. Abu Dawud)
Lalu bagaimana dengan fenomena jama’ah shalat jum’at yang terdiri dari guru dan anak-anak SD yang belum baligh? Apakah shalat jum’atnya sah?

Berikut penuturan Ust. Sarwat: Anak yang belum baligh sudah memenuhi syarat sahnya shalat tapi belum memenuhi syarat wajibnya shalat. Jadi kalau dia shalat maka shalatnya sah tapi apakah wajib maka jawabannya adalah tidak.

Terkait dengan masalah shalat jum’at ini memang ada persyaratan yang agak sedikit berat yaitu bahwa shalat jum’at itu tidak sah kalau hanya dikerjakan oleh mereka-mereka yang tidak wajib mengerjakannya.

Seorang guru dengan murid-muridnya maka walaupun jumlah murid-muridnya banyak misalnya lebih dari 40 orang tetapi karena mereka semua ini misalnya anak-anak yang belum baligh (anak SD) sehingga kalau kita lihat dari sudut syarat sah dan syarat wajibnya shalat jum’at maka belum terpenuhi syarat-syarat itu padahal ketentuan shalat jum’at itu jumlah jama’ahnya harus 40 orang minimal dan masing-masingnya itu adalah orang yang sah mengerjakan shalat dan wajib mengerjakan shalat jum’at.

Shalat jum’at itu tidak wajib bagi:
  1. Orang yang bukan muslim,
  2. Orang yang tidak berakal,
  3. Orang yang belum baligh.
Dalam hal ini, anak-anak itu belum wajib untuk mengerjakan shalat. Walaupun kalau dia shalat sah tapi belum wajib. Ketika mereka ini memenuhi jama’ah shalat jum’at yang jumlahnya memang sudah 40 orang tapi ternyata jumlahnya itu ada diantaranya yang belum wajib shalat jum’at yaitu anak-anak maka jumlahnya tidak 40 orang lagi (karena dikurangi dengan yang anak-anak).

Kalau jumlahnya ternyata hanya ada 2 atau 3 orang guru saja berarti yang selebihnya adalah anak-anak maka shalat jum’at itu belum memenuhi kewajibannya yaitu belum terpenuhi orang-orang yang wajib mengerjakan shalat jum’at yang minimal jama’ahnya 40 orang.

Lain halnya kalau di masjid, dimana jumlah jama’ahnya cukup banyak, yang wajib-wajib mengerjakan shalat jum’at itu melebihi 40 orang lalu masih ditambah dengan sekian banyak anak-anak, kalaupun anak-anak ini dihilangkan maka yang tersisa dari mereka yang dewasa ternyata jumlahnya masih melebihi 40 orang maka shalat jum’at itu sah. Tapi kalau setelah dikurangi anak-anak yang tersisa hanya beberapa gelintir orang dewasa yang jumlahnya tidak sampai 40 orang maka shalat jum’atnya menjadi tidak sah.

Seperti itulah ditetapkan dalam madzhab As Syafi'i bahwa shalat jum’at itu minimal harus dihadiri oleh 40 orang dimana orang-orang tersebut adalah orang yang wajib atasnya untuk mengerjakan shalat jum’at itu yang muslim, aqil, baligh, muqim, sehat, bukan budak, dan laki-laki. Jadi kalau jumlah jama’ahnya 40 orang tapi separuhnya adalah wanita maka ini juga belum memenuhi kuota. Maka shalat jum’at yang sah itu adalah yang sudah terpenuhi semua syarat dan rukunnya baru shalat jum’atnya itu sah di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.

Dasarnya adalah apa yang dipraktekkan di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dimana masyarakat Madinah setiap hari jum’at mereka diharamkan untuk melaksanakan shalat jum’at di masjidnya masing-masing. Semuanya harus berkumpul di Masjid Nabawi di pusat kota Madinah. Shalat jum’at di Masjid Nabawi adalah shalat yang memang merupakan gabungan dari sekian banyak jama’ah masjid oleh karena itu namanya menjadi jum’ah yang artinya gabungan dari berbagai macam tempat.

Tidak mungkin shalat jum’at itu hanya beberapa gelintir orang saja tapi setidaknya harus jumlah yang sangat banyak maka dalam madzhab Syafi'i dikatakan bahwa di suatu kampung minimal harus ada 40 orang yang sudah mukallaf, muslim aqil baligh yang menghadiri shalat jum’at itu dan kalau jumlahnya kurang dari 40 orang maka tidak dikatakan sebagai suatu kampung maka tidak wajib atas mereka untuk mengerjakan shalat jum’at (gugur kewajibannya.)

Oleh karena itu, guru SD yang shalat jum’at bersama dengan murid-muridnya memang jumlahnya 40 orang tapi ternyata dari 40 orang ini sebagian besarnya adalah anak-anak yang belum wajib mengerjakan shalat maka shalat jum’atnya itu dalam pandangan madzhab Syafi'i belum memenuhi syarat sah dan belum memenuhi syarat kewajiban.