Peristiwa Pembalasan Yang Terjadi Di Qantharah [Jembatan]

Kita tentu sudah tidak asing lagi dengan jembatan shirathal mustaqiim atau shirath atau perlintasan yang dibentangkan di atas neraka. Kelak di akhirat, tempat ini menjadi perlintasan bagi orang-orang mukmin untuk menuju surga. Bagi yang selamat dari perlintasan shirath maka ia akan selamat dari azab neraka dan ia sudah sangat dekat dengan surga.

Akan tetapi diantara surga dan neraka itu masih ada tempat dikumpulkannya manusia sebelum masuk surga. Tempat inilah yang disebut dengan qantharah atau jembatan, jalur yang akan dilalui oleh semua orang mukmin yang akan memasuki surga. Lalu mengapa harus berkumpul di jembatan ini? Bukankah seorang mukmin jika telah selamat melintasi shirath ia sudah menjadi ahli surga?

Qantharah ini bukan jembatan biasa tapi jembatan penyucian.
“Ketika orang-orang beriman telah selamat dari api neraka, mereka lalu tertahan di Qantharah jembatan yang berada diantara surga dan neraka kemudian mereka semua dihukumi satu sama lain atas kezaliman yang dahulu pernah mereka lakukan sampai ketika mereka semua sudah bersih dari dosa, mereka baru diizinkan untuk masuk ke dalam surga. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, benar-benar salah seorang diantara kalian itu lebih mengenali tempat tinggalnya di surga daripada tempat tinggalnya dahulu ketika di dunia.” (HR. Bukhari)
Lalu seperti apakah bentuk dan kondisi qantharah atau jembatan ini?

Qantharah merupakan perkara ghaib yang kita hanya dituntut untuk mengimaninya sebatas apa yang disebutkan dalam Al Qur’an dan/atau Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di qantharah atau jembatan ini, qishash atau pembalasan akan ditegakkan. Tentunya jika pembalasan ditegakkan maka akan menimbulkan ketegangan.

Namun begitu pembalasan tempat ini tetap saja membahagiakan karena seseorang jika  telah sampai ke titik jembatan ini berarti telah berhasil melewati shirath atau titian shirath yang berarti pula telah selamat dari neraka.

Berkaitan dengan qishash atau pembalasan ini, seorang ulama kontemporer menjelaskan bahwa pembalasan ini bukan pembalasan yang pertama yang terjadi di permulaan hari kiamat karena qishash atau pembalasan di jembatan ini sifatnya lebih khusus dengan tujuan menghilangkan rasa dendam dan dengki serta permusuhan di dada-dada manusia sehingga qishash ini kedudukannya sama persis sebagai penyuci dan pembersih.

Hal itu dilakukan karena ganjalan dalam hati tidak mungkin bisa hilang secara sempurna hanya sekedar dibalas dengan qishash atau pembalasan yang pertama maka keberadaan qantharah atau jembatan yang berada diantara surga dan neraka. Tujuannya adalah untuk mensucikan isi hati mereka sehingga mereka masuk ke dalam surga benar-benar dengan hati bersih tanpa ada lagi rasa iri dan dengki yang tersimpan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Dan kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” (QS. Al Hijr: 47)
Lalu apakah rahasia qantharah atau jembatan ini?

Peristiwa pembalasan yang terjadi di qantharah atau jembatan merupakan bentuk keadilan Allah Yang Maha Sempurna. Seorang mukmin tidak akan masuk surga, sedangkan dirinya masih punya hutang kezaliman pada saudaranya. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Kelak manusia akan dikumpulkan pada hari kiamat” atau beliau mengatakan “Para hamba dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak berkhitan, dan buhman” kami bertanya “Apa itu buhman?” Beliau menerangkan “Tidak ada pakaian yang menempel kemudian mereka diseru dengan suara yang mampu didengar oleh orang yang berada di tempat yang jauh sama dengan yang berada di dekat.  “Akulah Maha Kuasa, Akulah Maha Menguasai, tidak pantas bagi seorang pun dari penghuni neraka masuk ke dalamnya sedang ia masih punya hutang kepada seseorang dari penduduk surga sebelum Aku putuskan hukumannya. Dan tidak layak bagi seorang pun dari penduduk surga masuk ke dalamnya sedang mereka masih memiliki hutang kepada penghuni neraka sebelum Aku memutuskan perkaranya sampai sekiranya hanya satu pukulan”.” Kami bertanya “Bagaimana itu terjadi? Sedangkan kami datang menghadap Allah azza wa jalla dalam keadaan tidak beralas kaki, belum dikhitan, dan telanjang?” Beliau menjawab “Membayarnya dengan kebaikan dan kejelekan.” (HR. Ahmad)
Keadilan itu tampak tidak hanya pada manusia bahkan sampai binatang pun dihukumi satu sama lainnya atas kezaliman yang dahulu mereka saling lakukan sebagaimana dijelaskan dalam hadits riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Benar-benar akan dibalas semua hak dan dikembalikan kepada ahlinya kelak pada hari kiamat sampai sekiranya didatangkan seekor kambing yang tidak bertanduk dengan kambing yang bertanduk.” (HR. Muslim)
Maka seorang muslim haruslah berhati-hati jangan sampai melakukan kezaliman terhadap orang lain, baik itu menyangkut harta, kehormatan, hingga nyawa. Dan bagi yang telah terlanjur berbuat zalim, wajib baginya untuk berusaha membebaskan dirinya atas tanggungan yang dimiliki pada orang lain dan meminta dihalalkan sebelum mendatangi mereka kelak pada hari kiamat, pada hari yang tidak ada lagi berguna dinar dan dirham namun pembayarannya menggunakan kebaikan dan kejelekan, pahala dan dosa, seperti dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu beliau berkata bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa mempunyai kezaliman kepada orang lain baik kehormatan atau yang lainnya maka hendaknya dirinya meminta supaya dimaafkan pada hari ini sebelum tidak berguna lagi dinar dan dirham. Namun bila dirinya punya amal shalih maka diambilkan untuk saudaranya tersebut sesuai tingkat kezalimannya. Dan jika dirinya sudah tidak menyimpan kebaikan sedikit pun maka diambilkan kejelekan saudaranya lalu ditimpakan kepadanya.” (HR. Bukhari)
Peristiwa di Qantharah atau jembatan ini juga memberikan pelajaran bahwa surga tidak mungkin dimasuki oleh jiwa yang buruk. Dia hanya diperuntukkan bagi jiwa yang baik dan suci dan diantara kenikmatan yang terdapat di dalam surga itu ialah dihilangkannya penyakit hati dari iri dan dengki serta permusuhan sehingga mereka betul-betul merasakan kelezatan nikmat yang sempurna dan memperoleh kebahagiaan hakiki. Allah azza wa jalla menjelaskan dalam firman-Nya:
“Dan kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata: "Segala puji bagi Allah yang Telah menunjuki kami kepada (surga) ini. dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk.” (QS. Al A’raaf: 43)