Mustajabkah Doa Dengan Pengucapan Bahasa Arab Yang Keliru?

Penggunaan istilah bahasa Arab semakin marak digunakan oleh umat muslim. Hal demikian banyak terjadi pada kehidupan sehari-hari terutama dalam pengucapan doa keseharian untuk orang lain. Namun seringkali orang menggunakan doa tersebut hanya mengikuti kebiasaan orang-orang di sekitarnya tanpa mempelajarinya terlebih dahulu sehingga seringkali salah pada pengucapan dhamirnya, seperti pada pengucapan “Syafakillah” diperuntukkan kepada laki-laki padahal yang benar adalah “Syafakallah”.

Lalu bagaimana dengan doa dhamirnya salah seperti ini? Apakah masih tetap mustajab?

Berikut penjelasan Ustadz Sarwat: Pada dasarnya doa itu sesuai dengan niat kita walaupun mungkin salah ucap maka itu dimaklumi khususnya karena kita orang Indonesia yang memang tidak terlalu pandai dalam ilmu nahwu dan ilmu sharaf seringkali kita terbolak-balik ketika berdoa sebutlah yang sakit itu laki-laki lalu kita doakan “Syafakillah” padahal “ki” itu biasanya dhamir mukhatab untuk perempuan, sebaliknya untuk pasiennya perempuan kadang-kadang kita mengatakan “Syafakallah” padahal “ka” itu dhamir mukhatab untuk laki-laki.

Dalam hal ini tidak menjadi masalah karena yang penting doanya itu datang dari hati yang paling dalam dan Allah pasti akan mendengar doa kita itu walaupun secara ilmu nahwu dan sharaf terdapat kesalahan. Memang sebaiknya kalau kita berdoa itu kita gunakan kata ganti atau dhamir yang tepat maka itu akan lebih bagus tentunya tapi ini tidak akan membuat doa kita tidak diterima, seperti kita mendoakan orang yang baru saja wafat yang kita ucapkan “Allahummaghfirlahu” padahal ternyata yang meninggal itu perempuan yang sebenarnya pengucapannya “Allahummaghfirlaha”. Tapi apakah ini menjadi halangan dari doa kita diterima dan didengar oleh Allah tentu saja tidak. Allah itu Maha Tahu apa yang ada didalam hati kita walaupun kita keliru mengucapkannya karena tidak tahu atau faktor lain.

Dikisahkan ada seorang yang saking bahagianya menemukan kembali untanya yang hilang, dia sampai mengucapkan ucapan yang terbalik “Ya Allah, aku Tuhanmu dan engkau hambaku”. Kalau dinilai di depan hakim maka orang ini sudah musyrik karena mengaku sebagai tuhan dan Allah sebagai hambanya. Tapi dalam konteks itu dalam hadits disebutkan bahwa Allah lebih berbahagia dari orang ini karena orang ini keliru dalam mengucapkan kalimat tauhid secara terbalik tapi Allah tidak marah karena Allah tahu hamba-Nya itu sedang dalam keadaan euforia dia bisa saja terbolak-balik.

Kelirunya (khilaf lidah) ini tentu saja tidak akan mengubah diterimanya doa kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala akan tetapi lebih baik apabila kita berhati-hati dalam menggunakan bahasa Arab ini, pelajari dengan sebaik-baiknya agar tidak jadi bahan tertawaan. Allah subhanahu wa ta’ala pasti memaklumi tapi kalau orang lain yang mendengar akan tertawa karena keliru bacaannya.