Menjama’ Shalat Karena Turun Hujan

Ada yang mengatakan bahwa shalat boleh dijama’ dikarenakan turunnya hujan. Jika memang benar demikian, alangkah mudahnya orang Indonesia. Mengingat hampir setiap tahun penuh, Indonesia mengalami musim hujan. Tapi apakah benar hujan bisa menjadi sebab dibolehkannya jama’ atau menggabungkan dua shalat dalam satu waktu?

Memang kalau kita telusuri dalam kitab-kitab fiqih dan hadits kita menemukan di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau pernah mengalami turun hujan ketika di Masjid Nabawi dan hujan itu besar kemudian membuat jalanan berlumpur dan sulit untuk pulang-pergi. Oleh karena itulah, disebutkan dalam hadits yang shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu menjama’ antara maghrib dengan Isya pada kondisi seperti itu.

Sementara dalam shahih Bukhari dan Muslim juga disebutkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjama’ maghrib dengan ashar di Madinah dan maghrib dengan isya di Madinah dan didalam riwayat Muslim itu disebutkan bukan karena ada ketakutan atau karena musafir sehingga banyak ulama yang menafsirkan bahwa ini mungkin terjadinya karena hujan yang tadi itu.

Pertanyaannya, apakah dengan demikian jika turun hujan lebat kita boleh menjama’ atau menggabungkan dua shalat dalam satu waktu?

Menurut ulama di kalangan madzhab Syafi'i memang hujan itu boleh dijadikan sebagai dasar seseorang boleh menjama’ shalat tapi disyaratkan bahwa hujan yang turun pada saat itu adalah hujan yang membuat orang tidak mungkin jalan ke masjid. Sementara dalam seluruh madzhab, ulama menjelaskan bahwa para sahabat nabi kalau shalat tidak di rumah tapi di masjid.

Hujan yang membuat Nabi dan para sahabatnya menjama’ atau menghimpun dua shalat dalam satu waktu ini terjadi saat shalat maghrib di saat para sahabat nabi tidak bisa pulang dan balik lagi ke masjid untuk shalat isya dan inilah kemudian dijadikan sebagai dasar syarat bahwa menjama’ ini harus di masjid dan haruslah berjama’ah.

Oleh karena itu menurut sebagian ulama, menjama’ shalat karena hujan itu hanya boleh dilakukan pada shalat maghrib dan isya saja. Tidak boleh dilaksanakan pada shalat dzuhur dengan ashar. Selain itu, shalat jama’ itu harus dilakukan di masjid secara berjama’ah bukan di rumah dan yang penting menjadi catatan, shalat jama’ yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya itu terjadi karena hujan lebat yang menghambat perjalanan pulang dan pergi ke masjid.

Berdasarkan ketentuan dan syarat yang ditetapkan ulama inilah yang perlu menjadi perhatian bagi kaum muslim di Indonesia yang ingin melakukan shalat jama’ atau menggabungkan dua shalat dalam satu waktu oleh sebab hujan. Sebab di negeri ini pada musim hujan, hampir setiap hari turun hujan dengan intensitas yang tinggi dan itu berlangsung cukup lama hingga 4-6 bulan.

Apakah menjama’ shalat karena hujan dibenarkan di Indonesia?

Jika merujuk kepada syarat dan ketentuan yang dirangkum para ulama untuk sebagian wilayah Indonesia, bisa saja menjadi dasar dibolehkannya jama’ shalat karena tak sedikit wilayah di Indonesia jika hujan lebat turun bisa mengakibatkan banjir sehingga menghambat pulang pergi ke masjid.

Akan tetapi di sebagian wilayah, syarat menghambat itu tidak ditemukan karena hujan yang turun sekalipun lebat tapi tidak mengakibatkan kerusakan dan menghambat perjalanan. Sementara banyak diantara muslim Indonesia yang shalatnya di rumah (bukan di masjid), lalu apa alasannya menjama’? Padahal syariat jama’ karena hujan itu dilakukan di masjid secara berjama’ah. Disinilah konteks ketika hujan itu boleh menjadi dasar untuk menjama’ shalat.

Ketika kita ada di rumah lalu hujan besar yang menghalangi kita ke masjid, kita shalat sesuai dengan waktunya. Tidak perlu dijama’ karena konteksnya dijama’ pada masa Rasulullah ketika sahabat sedang berada di masjid dan sedang melaksanakan shalat maghrib dan mereka tidak bisa pulang dulu untuk pulang lagi karena jalannya terhambat.