Menikahkan Pasangan Yang Berzina Menurut Syariat Agama Islam

Pasangan yang berzina membuat masalah tersendiri dalam masyarakat. Bukan hanya mempermalukan diri sendiri di masyarakat, bahkan membuat malu orang tua sehingga tak jarang baik yang bersangkutan atau pihak orang tua kemudian mengambil langkah penyelamatan yaitu dengan cara menikahkannya.

Tapi masalahnya, apakah langkah ini memang dibolehkan dalam syariat? Lalu jika setelah menikah lalu pasangan tersebut bertaubat, apakah akan mendapat ampunan Allah subhanahu wa ta’ala?

Persoalan ini perlu dipahami oleh para orang tua. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin.” (QS. An Nuur: 3)
Ayat ini memang dijadikan landasan oleh sebagian ulama bahwa pernikahan pasangan berzina itu tidak sah kecuali jika mereka telah bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Akan tetapi tidak demikian menurut mayoritas ulama, ayat tersebut tidak bermakna larangan pasangan zina untuk menikah. Kata-kata mengawini/menikah yang ada dalam ayat tersebut tidak harus berarti akad tapi juga bisa berarti persetubuhan. Dengan demikian makna ayat tersebut adalah:
“Laki-laki yang berzina tidak bersetubuh dengan cara haram melainkan dengan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak disetubuhi dengan cara haram melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin.”
Ibnu Abbas menjelaskan bahwa ayat tersebut bukan tentang akad nikah tetapi tentang bersetubuh. Artinya, tidak ada orang yang berzina dengan wanita berzina kecuali lelaki yang berzina atau orang musyrik atau yang tidak punya iman.

Mayoritas ulama menegaskan bahwa jika pun dimaknai sebagai akad nikah maka hukumnya dibatalkan oleh ayat dan hadits-hadits yang lain yang menunjukkan keabsahan pernikahan orang telah berzina. Kemudian seandainya menikah dengan wanita yang pernah berzina itu tidak sah, tentu sangat berbahaya dan akibatnya fatal karena dengan demikian setiap perselingkuhan oleh salah satu pasangan suami istri akan berakibat batalnya pernikahan sehingga harus diceraikannya secara paksa dari ikatan pernikahan.

Hal ini mirip dengan pernikahan seorang muslim dengan wanita musyrik. Hukum ini berlaku bagi pria dan wanita yang berzina dan belum bertaubat. Menikahi mereka hukumnya sah meski makruh. Adapun jika mereka bertaubat maka tidak ada masalah lagi karena menikahi mereka hukumnya sah tanpa kemakruhan sedikitpun.

Ibnu Abbas berpendapat bahwa orang yang menikahi wanita yang telah dizinahi itu seperti orang yang mencuri anggur lalu membelinya. Abu Bakar malah memandang bahwa menikahi wanita yang telah dizinahi sebagai bentuk taubat.

Diriwayatkan pula bahwa Umar bin Khattab memerintahkan menikahkan dengan normal seorang wanita yang telah berzina kemudian bertaubat dengan baik. Al Baihaqi meriwayatkan,
Dari Asy Sya’bi bahwasanya ada seorang gadis yang berzina kemudian dihukum lalu mereka (keluarganya) berpindah, lalu gadis itu bertaubat dan bagus taubatnya serta keadaannya, lalu dia dipinang melalui pamannya maka pamannya merasa tidak enak menikahkannya sebelum memberitahu reputasinya namun juga tidak suka menyebarkan hal tersebut maka peristiwa itu dilaporkan kepada Umar bin Khattab maka Umar berkata “Nikahkanlah gadis itu sebagaimana kalian menikahkan gadis-gadis shalihah kalian.” (HR. Al Baihaqi)
Dengan demikian mayoritas ulama menegaskan bahwa pasangan yang melakukan perbuatan zina kemudian bertaubat dan menikah maka hukum pernikahannya sah, bahkan jika tidak bisa disertai dengan taubat meskipun makruh tapi hukum pernikahannya tetap sah. Jika mereka menikah bukan dengan pasangan zinanya pun, pernikahannya juga sah.

Lalu bagaimana jika wanita yang berzina tersebut hamil akibat perbuatannya? Apakah tetap boleh menikahinya dalam kondisi hamil?

Mayoritas ulama dari Imam Syafi'i dan Abu Hanifah berpendapat bahwa tidak ada masa iddah bagi wanita yang hamil diluar nikah untuk melangsungkan pernikahan. Artinya, wanita yang hamil karena perzinahan dapat dinikahkan segera tanpa harus menunggu kelahiran anaknya. Termasuk jika yang menikahinya bukan pria yang menghamilinya.

Dalam madzhab Hanafi, hal ini dijelaskan lebih rinci meskipun boleh menikahi wanita yang sedang hamil namun sang suami tidak boleh langsung menyetubuhinya hingga rahimnya bersih dari benih yang lain. Lalu bagaimana cara bertaubatnya orang yang berzina ini?

Taubat dari dosa zina hampir sama dengan dosa-dosa besar lainnya:
  1. Meninggalkan dosa tersebut (tidak melakukannya lagi).
  2. Menyesal dengan penyesalan yang sebenar-benarnya. Bukan malah bangga dan memamerkan masa lalu yang kelam itu kepada orang lain dengan cara menceritakannya, akan tetapi dia harus merahasiakan perbuatan zina yang pernah dilakukannya tersebut. Merahasiakan aib itu termasuk bagian dari penyesalan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang tertimpa musibah maksiat dengan melakukan perbuatan semacam ini (perbuatan zina) hendaknya dia menyembunyikannya dengan kerahasiaan yang Allah berikan.” (HR. Malik) Ibnu Hajar menjelaskan kasus Ma’iz sahabat Nabi yang mengaku telah berzina. Kasus ini menunjukkan bahwa dianjurkan bagi orang yang terjerumus kedalam perbuatan zina untuk bertaubat kepada Allah dan menutupi kesalahan dirinya dan tidak menceritakannya kepada siapapun. Lalu Ibnu Hajar mengatakan dan ini juga yang ditegaskan Imam Syafi'i, “Saya menyukai orang yang pernah melakukan perbuatan dosa lalu dosa itu dirahasiakan Allah agar dia merahasiakan dan serius bertaubat kepada Allah.”
  3. Bertekad tidak akan mengulangi lagi perbuatan haram tersebut, termasuk dalam hal ini menjauhi diri dari hal-hal yang dapat menjerumuskan kedalam perbuatan dosa yang sama, memilih lingkungan yang kondusif, menghindari bacaan atau tontonan yang bisa mengarahkan kepada perzinahan, juga menjaga pandangan terhadap lawan jenis karena pandangan merupakan awal pintu masuk perzinahan.
Setelah pertaubatan dilakukan hendaknya yang bersangkutan memperbanyak amal shalih sebagai penutup dosa-dosa yang dahulu telah dilakukan. Wallahu a’lam bishshsawab.