Mengkonsumsi Air Kencing Unta Menurut Syariat Agama Islam

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menuturkan,
“Beberapa orang dari Suku ‘Ukl dan ‘Urainah datang ke Madinah, mereka sakit karena tidak kuat dengan cuaca Madinah lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh mereka untuk datang ke peternakan unta agar mereka minum air kencingnya yang dicampur susunya. Mereka pun berangkat dan melakukan saran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.“ (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menjelaskan bahwa air kencing unta boleh diminum. Masalahnya, bukankah air kencing itu menjijikan, sementara Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kita agar mengkonsumsi yang baik? Bagaimana syariat menjelaskan kepada kita?

Menurut mayoritas ulama madzhab Syafi'i dan sebagian madzhab Hanafi bahwa seluruh kotoran hewan itu najis, baik dari kotoran hewan yang dagingnya halal dimakan ataupun berasal dari kotoran hewan yang dagingnya tidak halal dimakan. Hal ini berdasarkan penuturan Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu,
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah pergi untuk buang hajat. Beliau menyuruhku “Carikan tiga batu untukku!” Aku pun membawakan dua batu dan satu kotoran kering. Beliau mengambil dua batu dan membuang kotoran kering itu lalu bersabda “Ini najis”.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
Dalam hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menolak kotoran hewan kering yang diberikan Abdullah bin Mas’ud karena kotor yang berarti juga najis. Ini mencakup kotoran hewan yang dagingnya halal dikonsumsi ataupun yang haram dikonsumsi.

Selain itu, kotoran hewan juga menjijikan dan biasanya dijauhi oleh setiap orang sebab dalam kaidah fiqih disebutkan bahwa segala sesuatu yang keluar lewat dubur atau saluran belakang pembuangan kotoran dan qubul atau saluran kotoran depan manusia adalah najis, apalagi lewat dubur dan qubul hewan maka tentu ini lebih najis.

Itu sebabnya jika diminum atau dimakan maka ini bukan hanya tidak baik melainkan juga haram padahal Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan untuk memakan yang halal dan baik,
“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; Karena Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah: 168)
Akan tetapi bagaimana dengan hadits nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang membolehkan minum air kencing unta?

Adapun jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh meminum air kencing unta dan susunya maka ini tidak lain karena beliau mendapatkan wahyu lalu menyuruh beberapa orang Suku ‘Urainah untuk meminumnya sebagai obat. Namun ini bukan berarti bahwa meminum semua air kencing hewan yang dagingnya halal dibolehkan sebab diperlukan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan bahwa air kencing tersebut aman dan boleh dikonsumsi atau justru sebaliknya (membahayakan).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk berobat dengan obat yang tidak baik (Al Khabits).” (HR. Ibnu Majah)
Para ulama ini juga membantah hadits dari Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa jika sahabat memeras kotoran unta untuk diminum airnya maka hal ini tidak lain karena mereka dalam keadaan darurat. Adapun jika kotorannya boleh dimakan maka ini juga dalam keadaan darurat. Adapun dalam keadaan normal maka tidak ada seorang pun yang mau meminum air kencing unta termasuk juga memakan kotorannya. Akan tetapi larangan atau pengharaman kotoran hewan ini memang tidak disepakati oleh seluruh ulama.

Dalam madzhab Maliki dan Hanbali, mengkonsumsi air kencing dari kotoran hewan yang dagingnya halal dimakan itu tidak najis maka menurut mereka air kencing dan kotorannya boleh diminum dan dimakan. Dalam hal ini mereka berdalil dengan hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
“Beberapa orang dari Suku ‘Ukl dan ‘Urainah datang ke Madinah, mereka sakit karena tidak kuat dengan cuaca Madinah lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh mereka untuk datang ke peternakan unta agar mereka minum air kencingnya yang dicampur susunya. Mereka pun berangkat dan melakukan saran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.“ (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Dengan demikian menurut ulama madzhab Maliki dan Hanbali yang mengatakan bahwa air kencing dan kotoran hewan meliputi hukum dagingnya yang halal dimakan maka air kencing unta boleh diminum meskipun bukan untuk tujuan pengobatan sebab mereka memahami hadits tersebut secara mutlak.

Namun menurut ulama madzhab Syafi'i dan Hanafi, air kencing unta dan kotorannya dibolehkan untuk diminum khusus untuk tujuan pengobatan dan dalam keadaan darurat. Adapun jika tanpa kedua unsur tersebut maka hukumnya haram. Itu pun jika orang yang meminumnya tidak merasa jijik, sedangkan apabila merasa jijik meskipun untuk tujuan terapi maka meminumnya diharamkan.

Oleh karena itu, meskipun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merekomendasikan meminum air kencing unta yang dicampur susunya bagi orang yang mengidap penyakit tertentu namun ini bukan berarti perintah yang mutlak dan dianggap sesuatu yang sunnah sebab jika dalam keadaan tidak darurat niscaya beliau tidak akan menyuruh yang demikian. Mengingat banyak ayat dan hadits lain yang memerintahkan untuk mengkonsumsi dan berobat dengan yang halal dan baik. Wallahu a’lam bishshawab.