Melunasi Hutang Yang Lupa Jumlahnya Menurut Syariat Agama Islam

Dalam Islam, kita diajarkan untuk melunasi hutang-hutang kita. Bahkan dalam hadits disebutkan,
“Jiwa seorang mukmin masih bergantung dengan hutangnya hingga dia melunasinya.” (HR. Tirmidzi)
Lalu bagaimana jika kita lupa jumlah hutang kita terhadap orang lain bahkan orang yang kita hutangi pun juga lupa dengan jumlah hutang kita? Adakah tuntunan syariat Islam ketika kita berhutang agar kita tidak lupa jumlahnya? Lalu bagaimana cara melunasi hutang yang lupa jumlahnya sesuai dengan syariat Islam?

Berikut pemaparan Ustadz Sarwat: Hutang wajib dilunasi dan oleh karena itu di dalam Al Qur’an diperintahkan bahwa kalau kita berhutang jangan lupa harus kita catat.
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, Maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). jika tak ada dua oang lelaki, Maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa Maka yang seorang mengingatkannya. janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu'amalahmu itu), kecuali jika mu'amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, Maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. jika kamu lakukan (yang demikian), Maka Sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al Baqarah: 282)
Tegas sekali perintah ini bahwa kalau kita melakukan transaksi yang sifatnya sampai pada batas waktunya (maksudnya tidak tunai karena ada hutang yang harus dilunaskan dan sebagainya) maka tulislah jadi dengan ditulis itu Insya Allah kita menjadi:
  1. Tidak lupa bahwa kita punya hutang,
  2. Kita juga tahu berapa hutang kita, dan
  3. Kapan harus dibayarkan hutang kita itu.
Sehingga walaupun sama teman sendiri mungkin biasanya kita tidak hitung-hitungan istilahnya, tapi yang penting adalah dicatat agar jangan sampai kalau punya hutang kita lupa atau kita lupa berapa nilainya, dan harus dibayar kapan bisa jadi yang memberi hutang pun lupa juga. Mungkin kalau kedua belah pihak sama-sama saling mengikhlaskan/ridha maka tidak masalah, yang penting ridhanya dunia akhirat, jangan di dunia ridha tapi di akhirat menuntut.

Oleh karena itu kita harus menjaga amanah membayarkan hutang dan kalau kita lupa maka kita tanyakan kepada yang bersangkutan. Biasanya kalau yang sudah tertulis dalam perjanjian itu bukan hanya ada pihak yang berhutang dan yang memberi hutang, tapi juga ada saksi-saksi. Kita juga bisa tanyakan kepada saksi-saksinya selain dari dokumen yang sudah ada itu.

Jangan sampai kita sudah mau bayar hutang tapi orang yang sudah tiada tiba-tiba nanti di akhirat kita sudah mau masuk surga, orangnya datang menagih hutang kepada kita. Kita menjadi rugi karena sebaiknya hutang itu dibayarkan sekarang di dunia, jangan sampai kita terpaksa harus membayar hutang di akhirat yang pembayarannya bukan dengan uang lagi tapi dengan berbagai macam pahala yang sudah kita kumpulkan selama di dunia tiba-tiba yang memberi hutang kepada kita datang dan mengambil semua harta kita tersebut dan kalau belum terbayar juga, dosa-dosa si pemberi hutang itu harus kita yang tanggung.

Oleh karena itu, kalau bisa jangan berhutang dan kalau terpaksa berhutang maka catat agar jangan sampai kita mati dengan membawa hutang.

Ketika si pemberi hutang, orangnya masih hidup lalu kita mengingatkannya tetapi si pemberi hutang tersebut lupa maka yang harus kita lakukan adalah menyepakati apakah si pemberi hutang ini mau mengikhlaskan saja atau tetap harus dibayar. Jika tetap harus dibayar yang penting adalah jumlah hutang tersebut kurang itu boleh, jumlahnya tepat juga lebih bagus, tapi tidak boleh melebihi (memberikan denda) dari yang kita berhutang karena itu riba/haram.