Luasnya Pintu Taubat dan Rahmat Allah

 Dalam Al Qur’an disebutkan bahwa dosa syirik tidak diampuni Allah subhanahu wa ta’ala,
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia Telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An Nisaa’: 48)
Apakah dengan demikian, orang-orang yang pernah terlibat dalam praktek syirik seperti dukun atau orang yang berobat ke dukun yang disebut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai orang yang kufur pada ajaran Muhammad itu, jika mereka bertaubat maka tidak akan diampuni?

Dalam teks Al Qur’an memang disebutkan demikian. Juga disebutkan dalam surah yang lain,
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, Maka Sesungguhnya ia Telah tersesat sejauh-jauhnya.” (QS. An Nisaa’: 116)
Memahami ayat ini dengan apa adanya, bisa disalah mengerti maka perlu memahaminya melalui tafsir Al Qur’an. As Sa’di dalam tafsirnya menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan dosa syirik yang tidak diampuni adalah dosa syirik yang tidak bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Adapun orang yang bertaubat maka dosa syirik dan dosanya yang lain akan diampuni sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,
“Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar: 53)
Allah subhanahu wa ta’ala akan mengampuni semua dosa bagi siapa saja yang bertaubat dan kembali kepada-Nya.

Jika dosa syirik tidak diampuni dengan taubat maka seruan para rasul tersebut menjadi sia-sia. Demikian juga mayoritas bangsa Arab sebelum kedatangan dakwah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang musyrik. Mereka berhenti dari kemusyrikan disebabkan keimanan mereka kepada beliau dan bertaubatnya mereka dari kemusyrikan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata, (yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (Al Quran),” (QS. Al Bayyinah: 1-2)
Demikian juga para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka dahulu adalah orang-orang musyrik kemudian Allah memberikan petunjuk kepada mereka sehingga menjadi manusia-manusia utama bahkan generasi manusia terbaik sepanjang masa sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi yang mengiringi mereka, kemudian generasi yang mengiringi mereka.” (HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya)
Lalu apakah dengan demikian, semua dosa manusia apapun itu akan diampuni Allah subhanahu wa ta’ala?

Setiap dosa-dosa kecil, dosa besar, dosa syirik, bahkan dosa kekufuran bisa diampuni selama seseorang bertaubat sebelum datangnya kematian walaupun dosa itu sepenuh bumi. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar: 53)
Ayat ini merupakan seruan untuk segenap orang yang terjerumus dalam maksiat, baik dalam dosa kekafiran dan dosa lainnya untuk bertaubat dan kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Ayat ini memberikan kabar gembira bahwa Allah mengampuni setiap dosa bagi siapa saja yang bertaubat dan kembali kepada-Nya walaupun dosa tersebut amat banyak meski bagai buih di lautan yang tidak mungkin terhitung.

Dalam ayat lain disebutkan,
“Tidaklah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima Taubat dari hamba-hamba-Nya” (QS. At Taubah: 104)
“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, Kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nisaa’: 110)
Maka seorang hamba tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah subhanahu wa ta’ala walau begitu banyak dosanya karena pintu taubat dan rahmat Allah subhanahu wa ta’ala begitu luas.