Larangan Sibuk Memainkan Handphone Pada Saat Khutbah Jum’at

Zaman sekarang hampir setiap orang terkoneksi dengan telepon genggam (handphone), alat komunikasi yang dilengkapi aplikasi dan layanan canggih dan beragam ini telah menjadi candu bagi manusia modern. Seolah-olah manusia zaman ini tidak bisa lepas dari handphone. Kemana-mana handphone selalu menyertai sampai-sampai ketika pergi shalat jum’at pun handphone tetap melekat di tangan.

Yang cukup mengagetkan bahkan saat khutbah berlangsung pun tak jarang kita menemui seorang jama’ah yang masih sibuk dengan handphone-nya. Apakah dengan sibuk dengan memainkan handphone, jari-jari menggeser, atau menekan tombol layar saat khutbah berlangsung tidak mengganggu keabsahan atau merusak ibadah shalat jum’atnya?

Sibuk memainkan handphone, jari sibuk menggeser layar atau menekan tombol saat khutbah berlangsung menyebabkan hilang pahala shalat jum’at bagi pelakunya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa bermain-main kerikil saat berlangsung khutbah maka sia-sialah jum’atnya.” (HR. Muslim)
Imam An Nawawi rahimahullahu ta’ala dalam Syarah Muslim menjelaskan bahwa dalam hadits ini terdapat larangan memegang-megang kerikil dan lainnya dari hal yang tak berguna pada waktu khutbah. Didalamnya terdapat isyarat agar menghadapkan hati dan anggota badan untuk mendengarkan khutbah, sedangkan makna lagha (perbuatan sia-sia) adalah perbuatan batil yang tercela dan hilang pahalanya.

Abu Hurairah dalam Shahihain menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Jika engkau berkata kepada temanmu pada hari Jum’at “Diamlah!” sewaktu imam berkhutbah berarti kamu telah berbuat sia-sia.” (Muttafaqun ‘alaih)
Al Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa dalam hadits ini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menetapkan bahwa memerintahkan diam saat khutbah adalah bentuk laghut atau berbuat sia-sia walaupun dalam rangka menyeru kebaikan dan melarang dari yang mungkar. Hadits ini juga menunjukkan bahwa setiap perkataan yang mengganggu dari mendengarkan khutbah, hukumnya laghut atau telah berlaku sia-sia dan bila ingin memerintahkan diam kepada orang yang bicara maka dengan isyarat.

Terkait memainkan handphone, ulama kontemporer menegaskan bahwa tidak boleh memainkan handphone, memotret, memainkan bolpen, dan tidak boleh sibuk dengan apapun saat imam berkhutbah, semua ini tidak boleh. Ia wajib diam (menyimak khutbah).

Lalu apa maksud dengan perkataan Nabi saat menyebutkan kata lagha atau sia-sia dalam hadits ini?

Kata laghauta sering diterjemahkan telah berbuat sia-sia menurut Imam Al San’ani dalam Subulussalam. Makna yang mendekati kebenaran adalah pendapat Ibnu Munir yaitu yang tidak memiliki nilai baik. Ada pula yang mengatakan maknanya batal keutamaan pahala-pahala jum’at dan nilainya seperti shalat dzuhur.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Siapa yang berbicara pada hari jum’at padahal imam sedang berkhutbah maka dia seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal dan orang berkata kepada saudaranya “Diamlah!” tidak ada jum’at baginya.” (HR. Ahmad)
Maksud dari penyerupaan orang yang berbicara saat imam berkhutbah dengan keledai dengan membawa kitab yang tebal-tebal adalah karena dia tidak mendapat manfaat yang besar padahal dia telah susah-susah datang dan capek untuk sampai ke masjid, sedangkan makna ucapan Nabi “tidak ada jum’at baginya” berarti tidak mendapatkan jum’at secara sempurna. Nilai shalat jum’at orang seperti itu seperti shalat dzuhur. Wallahu a’lam bishshawab.