Larangan Bercanda dan Mengolok-Olok Ajaran Islam

Dalam pergaulan sehari-hari kita sering mendengar celetukan “Wah, tambah alim aja!” Ungkapan yang  diungkapkan teman saat kita melakukan shalat berjama’ah, atau celetukan anak muda yang seringkali terdengar “Wiih, udah tobat nih!” Sebenarnya celetukan semacam ini sudah tidak asing di telinga kita dan kita juga memahami celetukan itu lebih tampak bersifat candaan daripada serius.

Masalahnya, apakah areal ibadah semacam ini memang layak untuk bahan olok-olok atau candaan?

Memang candaan atau celetukan semacam itu terasa seperti candaan, tapi candaan semacam ini bukanlah pada tempatnya. Coba bayangkan, jika gara-gara candaan itu orang yang mau shalat merasa malu kemudian tidak lagi shalat. Bukankah itu sama saja dengan menghalangi orang lain untuk beribadah? Padahal tindakan semacam ini akibatnya tidak main-main. Maukah kita dimasukkan ke dalam golongan orang munafik seperti ditegaskan dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala:
“Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah Telah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.” (QS. An Nisaa’: 61)
Atau sanggupkah kita menanggung laknat Allah seperti yang akan ditimpakan kepada orang-orang zalim seperti ditegaskan dalam firman Allah:
“Kemudian seorang penyeru (malaikat) mengumumkan di antara kedua golongan itu: "Kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang yang zalim, (yaitu) orang-orang yang menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan itu menjadi bengkok, dan mereka kafir kepada kehidupan akhirat".” (QS. Al A’raaf: 44-45)
Atau maukah kita dibinasakan oleh malaikat atau ubun-ubun kita kelak pada hari kiamat diseret dalam neraka sebagaimana terjadi pada Abu Jahal yang pernah menghalang-halangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat mengerjakan shalat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang, Seorang hamba ketika mengerjakan shalat,” (QS. Al ‘Alaq: 9-10)
“Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.” (QS. Al ‘Alaq: 15-16)
Ibnu Mundzir meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Abu Jahal pernah berkata:
“Apakah Muhammad meletakkan mukanya ke tanah (sujud) di hadapan kamu?” Orang-orang membenarkannya maka dia berkata “Demi Latta dan Uzza, sekiranya aku melihatnya sedang berbuat demikian akan aku injak batang lehernya dan kubenamkan mukanya ke dalam tanah.”
Tirmidzi dan beberapa perawi lain juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang shalat, datanglah Abu Jahal seraya berkata:
“Bukankah aku sudah melarangmu berbuat demikian (shalat)?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun membentaknya. Abu Jahal berkata “Bukankah engkau tahu bahwa disini tidak ada orang yang lebih banyak pengikutnya daripada aku?” Maka Allah menurunkan surah Al ‘Alaq ayat 17 hingga 19.
Demikianlah usaha Abu Jahal itu akhirnya gagal karena dia melihat kejadian yang menakutkannya. Setelah shalat dan diberitahu tentang itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Seandainya Abu Jahal benar-benar berbuat demikian, niscaya akan dibinasakan oleh malaikat.”
Di sisi lain bagi kita yang diceletuki dengan kata-kata seperti itu hendaknya tidak sampai menyurutkan tekad. Anggaplah itu sebagai jerat setan yang memang tidak suka bila ada manusia yang menjadi baik. Balaslah dengan sopan dan tawadhu. Siapa tahu dia akan mengikuti jejak kita, atau kalau tidak mau berhenti juga maka bersikaplah seperti Ibadurrahman seperti dinyatakan dalam firman Allah:
“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. Al Furqaan: 63)
Maksudnya, membiarkan mereka tanpa mengambil sikap yang bisa menimbulkan keributan. Hendaknya bertawakal, berserah diri kepada Allah dan menyadari bahwa untuk mengubah kebiasaan dari buruk menjadi baik itu tidak semudah membalik telapak tangan.

Oleh sebab itu, meskipun bercanda itu persoalan mubah atau dibolehkan tapi hendaknya tidak sekali-kali terbersit dalam benak kita untuk bercanda/bergurau tentang sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan mengolok-olok, melecehkan, dan menghina agama.

Kalaulah kita tidak tahu hukumnya maka diam itu jauh lebih baik. Jangan hanya karena bercanda dengan teman-teman supaya suasana cair, supaya diterima, agar tidak dianggap Islamnya kaku dan keras, llantas muncul candaan yang mengolok-olok ajaran Islam sendiri. Na’udzubillahi mindzalik.

Hukuman orang yang bercanda dan mengolok-olok ajaran Islam itu sangat berat, bahkan jika dia meyakini kebolehannya maka dikhawatirkan telah terjerumus dalam jurang kemunafikan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Orang-orang yang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka: "Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan rasul-Nya)." Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti itu. Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, "Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja." Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?" Tidak usah kamu minta maaf, Karena kamu kafir sesudah beriman. jika kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (QS. At Taubah: 64-66)
Ibnu Umar menuturkan,
“Waktu Perang Tabuk ada orang yang berkata ”Belum pernahkah melihat orang yang lebih buncit perutnya, lebih dusta lisannya, dan lebih pengecut dalam medan perang daripada para ahli baca Al Qur’an ini?” Yang dia maksud adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat yang ahli baca Al Qur’an. Maka berkatalah Auf bin Malik kepadanya “Omong kosong, sebaliknya kamu dan teman-temanmulah yang munafik. Aku pasti memberitahukan hal ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam” Auf pun benar-benar pergi menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memberitahukan hal tersebut kepada beliau tetapi sebelum dia sampai telah turun wahyu kepada beliau. Ketika orang yang mengolok-olok itu datang, beliau sudah beranjak dari tempatnya dengan menaiki unta maka berkatalah dia kepada Rasulullah “Ya Rasulullah, sebenarnya kami hanya bersenda gurau dan mengobrol sebagaimana obrolan orang-orang yang bepergian jauh untuk mengisi waktu saja dalam perjalanan kami.” Ibnu Umar berkata “Kalau tidak salah, saya melihatnya berpegangan pada sabuk pelana unta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan kedua kakinya tersandung-sandung batu sambil berkata “Sebenarnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya “Apakah terhadap Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu salalu berolok-olok?”.”
Berpikir sebelum berkata dan bertindak adalah hal yang mesti dilakukan sebagai bentuk kehati-hatian. Apa yang keluar dari mulut adalah cermin untuk keadaan hatinya. Dari sana bisa terbingkai kualitas akhlak yang dimiliki. Mulut dan seluruh anggota badan adalah karunia Allah yang patut disyukuri dengan cara menggunakannya untuk hal yang bermanfaat, bukan sebaliknya (membuat Allah murka).  Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al Israa’: 36)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Imam Syafi'i pernah mengatakan,
“Jika engkau hendak berkata maka berpikirlah terlebih dahulu. Jika yang muncul adalah kebaikan maka ucapkanlah perkataan tersebut. Namun jika yang muncul adalah keburukan atau bahkan engkau ragu-ragu apakah baik atau buruk maka tahanlah jangan sampai keluar dari mulutmu.”
Wallahu a’lam.