Kisah Dan Hikmah Bekerja Keras Mencari Rizki Yang Halal

Kebutuhan hidup yang semakin tinggi membuat banyak orang harus bekerja keras, sementara bagi sebagian orang bekerja keras juga merupakan tuntutan untuk mendapatkan karir yang cemerlang. Bekerja memang aktivitas duniawi yang menghasilkan keuntungan di dunia, namun bekerja juga mengandung pahala besar di akhirat. Bekerja mencari rizki yang halalan thayyiban termasuk kedalam jihad di jalan Allah subhanahu wa ta’ala. Karena itulah, bekerja tergolong ibadah untuk kaum muslimin.

Dalam sejarah Islam, para nabi telah mencontohkan pentingnya bekerja keras namun tidak melupakan ibadah seperti yang dilakukan Nabi Daud ‘alaihi salam bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempunyai nasihat untuk umatnya dalam hal bekerja keras.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, Maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang Telah kamu kerjakan.” (QS. At Taubah: 105)
Ayat ini mengandung pesan agar kaum muslimin bekerja keras sehingga Allah subhanahu wa ta’ala dapat melihat kerja keras kita dan meridhai apa yang kita kerjakan karena ridha dari Allah subhanahu wa ta’ala yang membuat kehidupan kita menjadi berkah.

Kisah bekerja keras pertama hadir dari Nabi Daud ‘alaihi salam. Tidak hanya bergelar Nabi, ia juga seorang raja dari Bani Israil. Sebelum menjadi raja, Nabi Daud ‘alaihi salam merupakan seorang prajurit bersama raja Thalut ia berperang melawan Jalut.

Meski jumlah prajuritnya lebih sedikit dibanding Jalut, Raja Thalut bisa menang dalam peperangan ini bahkan Nabi Daud ‘alaihi salam berhasil membunuh Jalut. Karena itulah, Bani Israil menyukainya dan memberi kekuasaan penuh kepada Nabi Daud ‘alaihi salam untuk menjadi raja menggantikan Thalut.

Suatu hari, Nabi Daud ‘alaihi salam keluar istana dan menyamar menjadi rakyat biasa. Ini ia lakukan untuk mencari tahu pendapat rakyat tentang dirinya. Hingga akhirnya beliau bertemu dengan pemuda yang ternyata adalah Malaikat Jibril yang menyamar. Nabi Daud ‘alaihi salam bertanya kepada pemuda itu tentang dirinya. Pemuda itu berkata bahwa Daud itu orang yang luar biasa lagi kalau dia mau makan dari hasil tangannya sendiri karena masyarakatnya juga makan dari hasil tangannya sendiri.

Maka Nabi Daud ‘alaihi salam segera pulang ke rumahnya, sujud kepada Allah dan menangis kemudian ia berdoa,
“Ya Allah berikan kepadaku petunjuk agar bisa makan dari hasil tanganku sendiri.”
Sejak peristiwa itu, Allah subhanahu wa ta’ala mengabulkan doa Nabi Daud ‘alaihi salam dan menganugerahkannya mukjizat dengan diberi kemampuan melunakkan besi tanpa dibakar. Ia bisa membentuk besi dengan tangannya sendiri.

Bahkan menurut Qatadah sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Nabi Daud ‘alaihi salam menjadi orang yang pertama kali membuat baju besi dan dari hasil jerih payah dan tangannya sendiri, ia bisa membuat satu baju besi setiap harinya,
“Dan Telah kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu; Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah).” (QS. Al Anbiyaa’: 80)
Nabi Daud ‘alaihi salam telah memanfaatkan mukjizat dari Allah ta’ala untuk bekerja keras menafkahi dirinya dan keluarganya. Kisah Nabi Daud ‘alaihi salam ini memberi contoh kepada kita bahwa sebaik-baiknya rizki adalah yang kita dapat dari hasil jerih payah tangan kita sendiri.
Suatu hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan bersama sahabatnya kemudian mereka bertemu dengan seorang laki-laki. Laki-laki tersebut terkenal sebagai pekerja keras yang giat dan tangkas. Lalu para sahabat berkata “Wahai Rasulullah, alangkah baiknya jika tenaga dan semangat orang itu digunakan untuk berjihad, bukan bekerja.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan “Jangan berkata begitu karena kalau dia keluar mencari nafkah untuk membiayai hidup anak-anaknya yang masih kecil maka dia fisabilillah. Kalau dia keluar untuk membiayai hidup kedua orang tuanya yang sudah tua, itu fisabilillah. Kalau dia keluar untuk mencukupi dirinya sehingga dia tidak perlu meminta-minta maka dia fisabilillah. Tapi kalau dia keluar mencari nafkah hanya untuk bangga-banggaan maka dia ada di jalan setan.”
Jika tujuan kita bekerja keras untuk menafkahi keluarga dan orang tua serta membebaskan diri dari meminta-minta. Itu sama dengan fisabilillah atau berjuang di jalan Allah subhanahu wa ta’ala.

Lalu dari begitu banyaknya jenis pekerjaan, pekerjaan apakah yang paling mulia? Apakah menjadi pedagang seperti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Ada perbedaan pendapat tentang jenis pekerjaan yang paling mulia:
  1. Perdagangan karena ada hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ketika Nabi ditanya tentang usaha yang paling bagus adalah hasil tangannya sendiri dan setiap jual beli yang baik.
  2. Keterampilan tangan (pengrajin) yakni pekerjaan yang terbaik karena menggunakan tangan kita sebagaimana hadits Nabi tentang Nabi Daud ‘alaihi salam.
  3. Pertanian karena didalamnya ada tawakal yang sangat tinggi. Gabungan antara mencari uang dan menyerahkan hasil kepada Allah subhanahu wa ta’ala (tawakal).
  4. Ghanimah/Harta rampasan perang karena menggabungkan antara mendapatkan uang dan jihad fisabilillah.
Ada beberapa hikmah yang bisa kita peroleh dari bekerja keras:

Menjaga Kehormatan dan Kemuliaan Diri

Salah satu keutamaan Islam menganjurkan bekerja adalah untuk menjaga kehormatan muslimin. Islam tidak mengajarkan kita untuk mencari harta dengan meminta-minta atau mengemis. Meminta-minta menjadi hal yang sangat dibenci Allah subhanahu wa ta’ala.

Dari Mughirah bin Syu’bah berkata,
“Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Sesungguhnya Allah membenci tiga hal pada diri kalian: (1) Mencari dan menyebar perkataan manusia yang tidak bermanfaat, (2) Menyia-nyakan harta, (3) Banyak meminta-minta”.” (Muttafaqun ‘alaih)
Bahkan pekerjaan mencari kayu bakar pun lebih mulia daripada meminta-minta. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Salah seorang kalian mencari kayu bakar dan memikulnya untuk dijual itu lebih baik daripada meminta-minta pada manusia. Kadang mereka memberi dan kadang tidak.” (HR. Bukhari)

Bekerja Keras Tidak Mengganggu Waktu Ibadah

Kebutuhan dunia dan akhirat harus seimbang sebagaimana firman Allah
“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.” (QS. An Nuur: 37)