Ka’bah Kelak Akan Dihancurkan Pria Habasyah

Ka’bah Al Musyarrafah, rumah Allah yang pertama dibangun di muka bumi ini hingga kini menjadi jantung spiritual umat manusia. Tak pernah lekang dimakan zaman. Sejak awal mula manusia diciptakan, bangunan sederhana ini menjadi pusat peribadatan manusia. Allah telah menyucikannya dan menjadikan hati manusia cenderung kepadanya.

Namun menjelang hari kiamat kelak, manusia tak lagi mengindahkan kesucian Ka’bah hingga Allah mengangkat kesucian dan keharaman Ka’bah. Ka’bah pun tak lagi menjadi Masjidil Haram karena Allah telah menghalalkannya.

Imam Ibnu Hajar Al Asqalani mengungkapkannya dalam kitab Fathul Bari bahwa tidak ada yang menghalalkan Baitul Haram kecuali ahlinya. Dan ahlinya adalah kaum muslimin. Artinya, kesucian Ka’bah telah hilang akibat ulah kaum muslim sendiri, apabila mereka telah menghalalkannya maka kehancuran akan menimpa mereka. Saat itulah Ka’bah tak lagi menjadi tempat yang disucikan. Inilah tanda yang nyata bagi tegaknya kiamat.

Kiblat kaum muslimin ini kelak akan dihancurkan oleh seseorang berkulit hitam dari Habasyah yang memiliki julukan Dzussuwaiqatain sang pemilik dua betis kecil karena dua betis pria ini kecil dan kurus. Pria Habasyah ini akan menghancurkan Ka’bah, batu demi batu, melepaskan kiswahnya serta perhiasan-perhiasannya. Itu sebabnya sejak jauh-jauh hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan pada umatnya dalam sabdanya:
“Biarkanlah bangsa Habasyah selama mereka membiarkan kalian. Sesungguhnya tidak ada yang mengeluarkan harta Ka’bah kecuali Dzussuwaiqatain dari Habasyah.” (HR. Abu Dawud)
Imam Bukhari dan Muslim bahkan meriwayatkan peringatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam redaksi yang lebih tegas,
“Ka’bah akan dirusak oleh Dzussuwaiqatain dari Habasyah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Seolah-olah aku melihatnya, seorang berkulit hitam dengan betisnya berjauhan. Ia merobohkan Ka’bah, batu demi batu.” (HR. Bukhari)
Dalam riwayat Imam Ahmad, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan mengatakan lebih detail bagaimana Ka’bah dirobohkan oleh orang Habasyah menjelang hari kiamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Ka’bah akan dihancurkan oleh Dzussuwaiqatain dari Habasyah, ia akan mengambil perhiasan-perhiasan Ka’bah dan menurunkan kiswahnya. Seakan aku melihatnya, ia seorang yang botak dan pincang, dan menghantam Ka’bah dengan sekop dan linggisnya.” (HR. Ahmad)
Terkait hal ini, satu pertanyaan muncul: bagaimana mungkin Ka’bah dapat dihancurkan padahal Allah telah menjadikan Makkah menjadi tanah suci yang aman? Bukankah Allah telah berfirman,
“Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa Sesungguhnya kami Telah menjadikan (negeri mereka) tanah Suci yang aman,” (QS. Al ‘Ankabuut: 67)
“Apakah kami tidak meneguhkan kedudukan mereka dalam daerah Haram (tanah suci) yang aman,” (QS. Al Qashash: 57)
“Dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih.” (QS. Al Hajj: 25)
Sebelum kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah telah menjaga Ka’bah dari pasukan gajah yang ketika itu penduduk Makkah adalah orang-orang musyrik dan kafir apalagi saat itu Ka’bah belum menjadi kiblat. Lalu bagaimana mungkin Ka’bah yang kini menjadi kiblat kaum muslimin bisa dikuasai oleh pria Habasyah ini? Tidakkah Allah menjaganya?

Hancurnya Ka’bah menjelang datangnya kiamat terjadi ketika di muka bumi tidak ada manusia yang mensucikan Ka’bah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam riwayat Ahmad dari Sa’id bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu,
“Kelak akan ada seseorang yang dibai’at diantara rukun Hajar Aswad dan Maqam Ibrahim dan tidak akan ada yang menistakan Ka’bah kecuali orang-orang yang memilikinya. Apabila mereka sudah menistakannya, jangan ditanyakan lagi tentang kehancuran bangsa Arab. Selanjutnya bangsa Habasyah akan datang untuk menghancurkan Ka’bah. Akibatnya, setelah itu Ka’bah tidak akan pernah dibangun lagi selamanya. Bangsa Habasyah inilah yang akan mengeluarkan harta terpendam dalam Ka’bah.” (HR. Ahmad)
Hadits ini dengan tegas menyebutkan,
“Tidak ada yang memakmurkannya setelah itu selama-lamanya.”
Ia adalah tanah haram yang aman sentosa selama penduduknya belum menghalalkannya atau mencabut keharaman dan kesuciannya, sementara didalam ayat sama sekali tidak ada isyarat adanya keamanan untuk selamanya.

Dahulu saat pasukan gajah menyerang Ka’bah, penduduk Makkah memang masih kafir dan belum beriman namun mereka tetap menghormati dan memuliakan Ka’bah serta tidak menistakan maupun melecehkannya sehingga Allah pun melindungi Ka’bah dari Abrahah dan pasukannya.

Adapun Dzussuwaiqatain dari Habasyah menghancurkan Ka’bah setelah orang-orang yang memiliki Ka’bah sudah menistakannya dan berani melecehkannya serta mengabaikannya. Bila mereka sudah mengabaikan Ka’bah, Allah pun tidak akan menolong mereka.