Jika Bacaan Ayat Dilafadzkan Dalam Hati Dan Bacaan Ayat Makmum Yang Belum Selesai Dibacakannya Dalam Shalat Berjama’ah

Ketika shalat berjama’ah ada yang bacaan ayatnya dilafadzkan dengan keras atau jahr, namun ada pula yang suaranya dilirihkan atau yang disebut sirr. Pertanyaannya, ketika shalat dzuhur dan ashar yang bacaannya lirih, apakah makmum juga melirihkan bacaan atau hanya membaca dalam hati saja? Bagaimana pula dengan shalat jama’ah yang sirr ketika makmum belum selesai membaca ayat namun imam sudah ruku’ apakah makmum harus menyempurnakan bacaan ayat itu atau mengejar ruku’ agar tidak ketinggalan imam?

Berikut pemaparan Ustadz Sarwat: Melafadzkan bacaan shalat itu memang adalah bagian dari kewajiban shalat, karena shalat itu pada dasarnya adalah ucapan dan gerakan. Yang dikatakan ucapan itu berarti lidahnya dan semua titik artikulasi itu harus bekerja memberikan hak kepada masing-masing huruf itu.

Tinggal nanti bedanya apakah suaranya mau dikeraskan (jahr) misalnya pada shalat maghrib, isya, shubuh ataukah mau dikecilkan (sirr) biasanya kita gunakan pada shalat dzuhur dan ashar?

Tapi mengucapkan/melafadzkan dengan titik-titik artikulasi dari masing-masing huruf itu adalah sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan. Artinya, orang tidak boleh shalat hanya membaca didalam batin atau didalam hati, sementara lidahnya kelu, mulutnya diam (tidak bergerak) maka sebenarnya shalat yang seperti ini belum sah disisi Allah subhanahu wa ta’ala karena shalat itu adalah ibadah, ibadah itu ada dua:
  1. Ibadah yang berbentuk ucapan/perkataan.
  2. Ibadah yang bebentuk gerakan.
Bacaan itu memang ada yang sifatnya rukun, misalnya kita takbiratul ihram kemudian kita baca surah Al Fatihah kemudian baca tasyahud akhir dan salam. Semuanya itu harus dibaca. Ada juga bacaan yang sifatnya sunnah seperti membaca ayat-ayat Al Qur’an, doa, dzikir pada saat kita ruku’, I’tidal, sujud, dan doa-doa yang lain seandainya tidak dibaca maka shalatnya tetap sah tapi kalau yang rukun maka mau tidak mau harus dibaca.

Pada prinsipnya, mau shalat kita jahr atau sirr pada dasarnya shalat itu adalah bacaan yang harus memberikan hak kepada masing-masing huruf sebagaimana bunyi, sifat, karakter masing-masing hurufnya.

Sebagai makmum ketika imamnya tidak mengeraskan bacaan, tentu saja kita tidak mengeraskan bacaan tapi walaupun begitu tetap saja kita harus membaca dengan menggerakkan lidah, bibir, dan semua titik-titik artikulasi kita ketika menyebutkan masing-masing huruf hijaiyah itu harus ada sifat dan karakter huruf karena setiap huruf itu adalah bagian dari ritual peribadatan yang harus dikerjakan. Tetapi jika tidak dilakukan maka tidak mengapa asalkan itu bukan yang wajibnya tapi yang sunnahnya.

Kalau sudah yang wajibnya: takbiratul ihram, baca surah Al Fatihah, baca tasyahud akhir, dan salam maka ini adalah rukun. Jadi kalau sampai kita diam saja (tidak menggerakkan mulut kita atau memberikan hak kepada masing-masing huruf) maka shalat kita belum sah atau belum sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya.

Kaitannya dengan seorang makmum ketika dia agak terlambat dari mengikuti imam artinya dia baru membaca surah Al Fatihah tetapi belum sampai tujuh ayat tiba-tiba imam sudah ruku’. Apakah si makmum ini harus ikut ruku’ mengikuti imam ataukah dia tetap meneruskan sisa ayatnya itu?

Secara umum memang logikanya shalat setiap raka’atnya itu harus selesai bacaan surah Al Fatihah karena ada hadits yang menyebutkan bahwa tidak sah shalatnya seseorang kalau dia tidak membaca Ummul Kitab (Surah Al Fatihah) dimana ada tujuh ayatnya kalau misalnya baru baca dua ayat lalu yang lima sisanya tidak dibaca berarti belum menyelesaikan bacaan surah Al Fatihah tetapi karena ini adalah shalat berjama’ah maka ada hadits lain yang menjadi kontra dari hadits yang awal. Paling tidak menjadi pengkhususan kecuali pada shalat jama’ah dimana imam bisa menanggung bacaannya di makmum.

Haditsnya itu menyatakan bahwa orang yang shalatnya berjama’ah berarti dia punya imam maka bacaannya imam menjadi qira’ah buat si makmum. Artinya sudah dicover/ditanggung bacaannya itu oleh imam sehingga kalau makmum baru dapat dua ayat lalu dia ruku’ dengan mengikuti imam maka lima ayat yang belum dibacanya itu sudah ditanggung bacaannya oleh imam sehingga kalau memang terpaksanya dia harus ikut ruku’ bersama imam maka ruku’lah bersamanya karena bacaan imam mengcover bacaan makmum (bacaan imam menjadi bacaan untuk makmum).