Jenis-Jenis Jin Menurut Syariat Agama Islam

Di masyarakat Indonesia, jin dan setan ini dikenal dengan banyak nama ada genderuwo, kuntilanak, dan lain-lain. Masing-masing dianggap memiliki karakteristik tersendiri bahkan kuntilanak dipercaya mampu menculik bayi. Masalahnya, apakah jin itu bermacam-macam seperti yang dikenal masyarakat Indonesia?

Dilihat dari bentuk fisiknya, jin memang terdiri dari berbagai jenis tapi nama-nama dan bentuknya bukan sebagaimana yang dikenal dalam cerita-cerita di masyarakat atau di film-film. Sebagai kaum muslim tentu kita harus percaya bahwa jin itu memang termasuk makhluk Allah subhanahu wa ta’ala. Jenisnya pun bermacam-macam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya menyebutkan bahwa ada tiga jenis jin,
“Jin ada tiga macam: (1) Jin yang mempunyai sayap, mereka biasa terbang di udara, (2) Jin berupa ular dan anjing, dan (3) Jin yang bertempat tinggal dan pindah-pindah serta berpetualang.” (HR. Thabrani dan Hakim)
Dalam kitab Al Qaulul Mubin Fi ‘Alamil Jin disebutkan bahwa jin yang bisa terbang cenderung lebih ringan. Jin ini cenderung gampang keluar masuk tubuh manusia sehingga apabila seseorang terkena gangguan jin ini maka proses penyembuhannya cenderung lebih sulit karena jin disebut cukup kuat menahan serangan ayat dan dzikir ruqyah dari si peruqyah. Jenis jin ini juga diyakini sebagai jin yang naik ke angkasa dan mencoba mencuri berita langit sebelum diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hal ini sebagaimana yang tertera dalam Al Qur’an surah Al Jin,
“Dan Sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya).” (QS. Al Jin: 9)
Jenis jin lainnya adalah yang berbentuk ular dan anjing karena memang mayoritas jin di kelompok ini berparas seperti ular dan anjing yang kita kenal (bukan jelmaan), hanya saja mereka berakal seperti manusia. Jin ini diyakini lebih lemah dari kelompok jin yang bisa terbang, meskipun begitu ia tetap mampu merasuki tubuh manusia. Manusia yang dirasuki biasanya bergerak layaknya ular dan anjing atau bisa juga seperti binatang darat lainnya bahkan hal seperti ini memang kerap ditemukan oleh para praktisi ruqyah syari’iyah.

Lalu jenis jin yang ketiga adalah jenis jin yang tinggal dan mengembara seperti cara hidup manusia. Namun tidak disebutkan jin tersebut bisa merasuki manusia atau tidak. Adapun macam-macam hantu yang dikenal di masyarakat seperti genderuwo, kuntilanak, dan sebagainya tidak dikenal dalam syariat agama.

Lalu bagaimana dengan jin atau setan yang suka mengganggu dan menculik anak atau yang dikenal di masyarakat Indonesia dengan sebutan kuntilanak? Apakah memang ada?

Memang ada satu riwayat yang menyebutkan bahwa ada jenis jin dengan nama Ummu Shibyan atau jenis jin yang mengikuti anak kecil dan mengganggu mereka. Mungkin jenis ini yang dikenal masyarakat di Indonesia dengan sebutan kuntilanak. Disebutkan,
“Siapa yang melahirkan anak kemudian dia mengadzankannya di telinga kanan dan mengiqamahkan di telinga kiri maka ia tidak akan tertimpa bahaya Ummu Shibyan.” (HR. Ibnu Sunni)
Akan tetapi hadits tentang Ummu Sibyan ini dinilai dhaif atau lemah oleh para ahli hadits, bahkan ada yang mengatakan hadits ini palsu.

Akan tetapi anak-anak memang luput dari gangguan setan dari golongan jin, bahkan tidak hanya sekedar diganggu tapi memungkinkan untuk diculik. Ada beberapa riwayat yang bisa dijadikan dasar dalam hal ini, salah satunya apa yang pernah terjadi di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau sedang dalam perjalanan.
Seorang wanita mengadu kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa anaknya mendapatkan gangguan berkali-kali dalam sehari-hari. Rasulullah berkata “Dekatkan bayi itu kemari!” Wanita itu mendekatkan anaknya hingga ke dekat pelana Rasulullah, kemudian beliau mengusap bayi tersebut dan meniupnya tiga kali dan berkata “Bismillah, saya adalah hamba Allah, pergilah wahai musuh Allah.” Beliau kemudian mengembalikan bayi tersebut kepada ibunya dan berkata “Ketika kami kembali nanti, temui lagi kami di tempat ini dan beritahu kami apa yang terjadi!” Kami pun melanjutkan perjalanan dan ketika perjalanan pulang kami bertemu lagi dengannya di tempat tersebut. Kali ini ia membawa tiga ekor kambing. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada wanita tersebut “Bagaimana bayimu?” Ia menjawab “Demi Allah, hingga saat ini tidak pernah kami merasa kondisinya sebaik ini. Bawalah kambing-kambing ini!” Lalu Nabi berkata kepada sahabatnya “Ambillah seekor saja dan kembalikan sisanya!” (HR. Ahmad)
Pada dasarnya, jin bisa mengganggu siapapun dan kapanpun. Bahkan sejak bayi lahir, jin atau setan tersebut sudah mengganggu. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tiada seorang bayi pun yang dilahirkan kecuali setan menyentuhnya saat ia dilahirkan, lalu ia mengeluarkan suara jeritan karena sentuhan setan padanya, kecuali Maryam dan anak laki-lakinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Selain mengganggu anak-anak, setan pun bisa menculiknya. Oleh karena itu, Rasulullah senantiasa berpesan,
“Ketika malam datang, tutuplah bejana kalian, ikatlah tempat-tempat penyimpanan air, dan tutuplah pintu, dan tahanlah anak-anak kalian! Sesungguhnya itu adalah waktunya setan menyebar dan menculik.” (HR. Bukhari)
Imam Ibnu Abdil Barr menafsirkan penculikan tersebut dalam arti yang sebenarnya. Selain itu juga ada beberapa riwayat lain yang terjadi di masa para sahabat yang menceritakan terjadinya penculikan oleh jin terhadap manusia. Imam Ibnu Hajar menyebutkan bahwa ada dua alasan anak rentan terhadap gangguan setan:
  1. Mereka terkadang belum bisa membersihkan dirinya dari najis karena setan sangat suka dengan kotoran dan najis.
  2. Anak kecil juga belum bisa membentengi dirinya dengan dzikir kepada Allah.
Dua hal inilah yang menjadikan mereka rentan menjadi objek gangguan setan. Orang tualah yang seharusnya melindungi dan menjaga anak-anaknya yang masih kecil dan lemah. Maka dari itu, penting untuk mendoakan anak agar terhindar dari gangguan jin dan setan sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah ketika mendoakan kedua cucunya,
“A’udzubika li kalimaatilahit taammah min kulli syaithanin wa haammatin wamingkulli ‘aiinin laammah. Aku memohon perlindungan dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari semua godaan setan dan binatang pengganggu serta dari pandangan mata buruk.” (HR. Abu Dawud)