Jenazah Dishalati Oleh Orang Yang Jumlahnya Kurang Dari 40 Atau 100 Orang

Sebagian masyarakat beranggapan bahwa diantara ciri-ciri orang yang meninggal dengan husnul khatimah adalah apabila banyak orang yang menshalatkan jenazahnya. Ada yang mengatakan banyaknya minimal 40 orang dan ada juga yang mengatakan banyaknya minimal 100 orang. Jika yang meshalatkan mencapai jumlah tersebut, orang yang meninggal itu husnul khatimah dan semasa hidupnya dinilai baik. Benarkah anggapan ini?

Memang sebagian ulama menjelaskan bahwa jenazah seorang mukmin jika dishalati oleh 40 orang maka ia akan mendapatkan syafa’at dari orang-orang yang menshalati. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:
“Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Tidaklah ada seorang muslim meninggal dunia lalu ada 40 orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun kemudian menshalatkan jenazahnya melainkan Allah akan memberikan syafa’at kepadanya melalui mereka”.” (HR. Muslim, Abu Dawud, Ahmad, dan Al Baihaqi)
Namun masalahnya, apakah angka 40 yang disebutkan dalam hadits ini merupakan batas minimal bagi jenazah yang mendapatkan syafa’at?

Ulama kontemporer menjelaskan bahwa meski disyariatkan 40 orang yang bisa mensyafa’ati mayit namun angka 40 ini tidak seluruhnya bisa memberi syafa’at kepada si mayit. Mereka yang diterima syafa’atnya dan dikabulkan doanya adalah mereka yang bertauhid dengan benar dan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun.

Berdasarkan riwayat lain dari Ibnu Abbas, ia mengatakan:
“Seorang anak telah meninggal di kawasan Qudaid atau ‘Usfan maka ia berkata “Wahai Kuraib, lihatlah berapa orang yang berkumpul untuk menshalatkannya” Kuraib berkata “Maka aku keluar ternyata orang-orang telah berkumpul untuk menshalatkannya lalu aku memberitahukannya kepada Ibnu Abbas dan ia bertanya “Apakah jumlah mereka mencapai 40 orang?” Kuraibmenjawab “Ya” kemudian Ibnu Abbas berkata “Keluarkanlah mayit itu karena aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Tidaklah seorang muslim meninggal dunia dan dishalatkan oleh lebih dari 40 orang yang mana mereka tidak menyekutukan Allah niscaya Allah akan mengabulkan doa mereka untuknya ”.” (HR. Muslim)
Namun menurut sebagian ulama lainnya bahwa jumlah minimal orang yang menshalatkan jenazah agar mayit mendapatkan syafa’at dan ampunan karena sebab mereka adalah apabila jumlah mereka mencapai 100 orang. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Tidaklah suatu jenazah dishalatkan oleh kaum muslimin yang mencapai 100 orang kecuali seluruhnya memberi syafa’at kepadanya dengan shalat itu dan diampuni dengan sebab syafa’at shalat orang-orang tersebut.” (HR. Muslim)
Lalu bagaimana jika orang yang menshalatkan jenazah tidak mencapai 40 orang? Apakah ia berarti tidak mendapatkan syafa’at dari shalatnya mereka?

Syarat 40 orang yang harus ikut serta dalam shalat jenazah agar mayit mendapatkan syafa’at ini menunjukkan syafa’at khusus dari mereka yang menshalatkan namun ia bukan berarti tidak mendapatkan syafa’at dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para malaikat, dan orang-orang mukmin lainnya. Demikian juga dengan jumlah jama’ah shalat yang mencapai 100 orang maka itu khusus syafa’at dari mereka yang menshalatkan jenazah.

Oleh karena itu, jika jumlah orang yang menshalatkan kurang dari 40 atau 100 orang maka shalatnya tetap bermanfaat bagi mayit dengan syarat mereka yang menshalatkannya itu dari kalangan orang-orang yang bertauhid secara murni dan tidak melakukan kemusyrikan sedikitpun.

Lalu apa yang dimaksud dengan syafa’at disini? Apakah syafa’at itu bisa didapat dari selain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Selain Allah dan Rasul-Nya, ada beberapa kriteria orang yang dapat memberikan syafa’at kepada orang lain dan semua itu tidak akan terjadi kecuali karena izin Allah subhanahu wa ta’ala dan mutlak bukan karena diri mereka sendiri. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafaat mereka sedikitpun tidak berguna, kecuali sesudah Allah mengijinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai (Nya).” (QS. An Najm: 26)
“Pada hari itu tidak berguna syafa'at, kecuali (syafa'at) orang yang Allah Maha Pemurah Telah memberi izin kepadanya, dan dia Telah meridhai perkataannya.” (QS. Thaahaa: 109)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Di hari kiamat, para nabi, malaikat, dan kaum mukminin memberikan syafa’at mereka lalu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman “Ini hanya syafaat-Ku yang tersisa”.” (HR. Al Bukhari)
Jadi yang dimaksud dengan syafa’at disini adalah pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala yang datang kepada mayit berkat doa orang-orang yang menshalatkan jenazahnya. Jika orang yang menshalatkan jenazah, para ulama menganjurkan agar shalat jenazah itu dilakukan dengan tiga shaf. Disunnahkan bagi mereka agar sedikitnya membuat tiga shaf shalat atau lebih karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidak ada seorang muslim yang meninggal dunia kemudian dishalatkan oleh tiga shaf kaum muslimin kecuali ia wajib mendapatkan surga.” (HR. Abu Dawud, At Tirmidzi, dan Ibnu Majah)
Para ulama menjelaskan bahwa anjuran shalat jenazah dilakukan dengan tiga shaf artinya itu adalah jumlah minimal membuat shaf. Jika semakin banyak jama’ah dan shafnya bertambah melebihi tiga shaf maka akan semakin baik.

Namun begitu, berapapun jumlah minimal yang tercapai, janji Allah kepada mayit itu tergantung dari kualitas orang-orang yang menshalatinya selama itu mereka tidak pernah menyekutukan Allah dengan suatu apapun, Insya Allah doa mereka untuk mayit dikabulkan. Wallahu a’lam bishshawab.