Hukum Memegang Binatang Babi Menurut Syariat Agama Islam

Babi adalah binatang najis. Apakah memegangnya juga najis dan harus mencuci tujuh kali salah satunya menggunakan tanah?

Babi adalah salah satu jenis binatang yang diharamkan dalam Islam. Ada sejumlah ayat dalam Al Qur’an yang secara tegas menyatakan keharaman binatang yang kata sebagian orang tidak punya leher ini. Salah satunya adalah firman Allah:
“Katakanlah: "Tiadalah Aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi - Karena Sesungguhnya semua itu kotor - atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah.” (QS. Al An’am: 145)
Lalu apakah keharaman itu secara otomatis menjadikan babi juga najis?

Mayoritas ulama menganggapnya najis berdasarkan surah Al An’am ayat 145 ini karena Allah menyifatinya dengan rijsun artinya najis. Namun memutuskan kenajisan babi berdasarkan dalil ini masih bisa diperdebatkan karena najis disini bisa dipahami sebagai najis hukmi (non fisik) yakni haram dimakan.

Najis memang tidak selalu bersifat fisik tapi ada juga yang bersifat hukmi (non fisik) misalnya kaum musyrik dinyatakan najis dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala:
“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, Maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini.” (QS. At Taubah: 28)
Namun tidak ada seorang pun yang menyatakan bahwa jika kita bersentuhan dengan orang musyrik maka bagian tubuh kita yang tersentuh harus dicuci karena najisnya bersifat hukmi (non fisik) bukan tubuh mereka yang najis tetapi aqidah dan kepercayaan merekalah yang najis dan menyimpang.

Demikian pula dengan khamr atau minuman keras, berqurban untuk berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah rijsun atau najis namun najisnya bersifat hukmi yakni haram dilakukan bukan fisiknya yang benar-benar najis. Allah berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al Maaidah: 90)
Demikianlah surah Al An’am ayat 145 tidak menunjukkan secara pasti dan meyakinkan bahwa babi najis secara fisik. Oleh karena itu, ada sebagian ulama yang menganalogikannya dengan kenajisan anjing sebagaimana ditegaskan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Apabila anjing menjilati wadah atau bejana salah satu diantara kalian maka tumpahkanlah dan cucilah tujuh kali salah satunya dengan debu.” (HR. Muslim)
Menurut mereka keadaan babi bahkan lebih buruk daripada anjing karena tidak boleh diambil manfaatnya, sementara anjing masih bisa diambil manfaatnya (seperti berburu dan menjaga keamanan). Oleh karena itu, air liur babi adalah najis mughaladzah (najis berat) sehingga apapun yang dikenainya harus dicuci tujuh kali, salah satunya dicampur dengan debu.

Terkait dengan ini, seorang ulama dari madzhab Syafi'i mengatakan,
“Adapun babi adalah binatang najis karena kondisinya lebih buruk daripada anjing. Disamping itu juga dianjurkan untuk dibunuh bukan karena membahayakan serta telah dinyatakan haram secara tegas. Jika anjing saja najis maka babi lebih najis.”
Seorang ulama kontemporer kemudian menyimpulkan,
“Para ahli hukum Islam menyamakan najis babi dengan najis anjing karena babi lebih kotor daripada anjing maka ia lebih layak memiliki hukum tersebut namun ini adalah analogi yang kurang kuat karena babi sudah disebutkan secara langsung dalam Al Qur’an dan di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sementara itu tidak pernah ada riwayat yang menyamakan status kenajisan babi dengan kenajisan anjing.”
Maka pendapat yang kuat menurut pendapat ulama kontemporer ini adalah bahwa najis babi sama dengan najis-najis yang lain. Untuk menghilangkannya juga cukup dicuci layaknya mencuci najis-najis lain. Wallahu a’lam bishshawab.