Hanya Mengusap Sepatu Atau Kaos Kaki Saat Membasuh Kaki Dan Mengusap Kerudung Saja Saat Mengusap Kepala Dalam Berwudhu

Ada bagian-bagian tubuh yang wajib dibasuh saat berwudhu, seperti wajah, tangan hingga siku, kepala, dan kaki, hingga mata kaki. Namun ada fenomena orang berwudhu dengan mengusap sepatunya tanpa dilepas, orang menyebutnya dengan Al Mashu ’Ala Khuffaini.

Sebenarnya bagaimana Islam mengatur syariat ini? Apakah hal ini bisa diterapkan di Indonesia? Lalu bagaimana dengan perempuan berhijab yang tempat wudhunya bercampur dengan laki-laki? Bolehkah ia hanya mengusap kain jilbabnya saja? tanpa membasuh kepalanya?

Berikut penuturan Ust. Sarwat: Buat kita orang Indonesia, Al Mashu ’Ala Khuffaini (mengusap dua sepatu) ini bukannya tidak disyariatkan tetapi kurang dibutuhkan karena masyarakat kita tidak terlalu butuh untuk selalu mengenakan sepatunya terus-terusan, sementara syariat ini dibutuhkan oleh masyarakat yang misalnya mereka tinggal di daerah yang ada musim dinginnya sehingga memang sangat butuh untuk selalu terus menerus memakai sepatu.

Kalau setiap hari lima kali harus berwudhu mencuci kaki, ini agak sedikit menjadi masalah maka ada keringanan yaitu boleh kalau berwudhu tidak usah dilepas sepatunya itu, cukup diusap saja bagian depan ke atas sepatu dimana ini sudah sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam syariat Al Mashu ’Ala Khuffaini.

Adapun mengusap kaos kaki, sebenarnya tidak masuk dalam kategori keringanan karena:
  1. Khuf itu kriterianya adalah dia tidak boleh tembus air, sedangkan kaos kaki kita itu kalau kita tuangkan air di atasnya maka kaki kita akan basah,
  2. Khuf itu adalah sepatu yang bisa dipakai untuk berjalan jauh, didalam hadits yang lain disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan keringanan untuk tidak mencopot selama tiga hari dalam perjalanan.
Maka kalau hanya pakai kaos kaki saja (tidak pakai sepatu) kita gunakan untuk jalan lama-lama kaos kakinya pun akan rusak maka tidak sah kalau orang hanya mengusap kaos kaki saja.  Artinya dia shalat itu tidak melepas kaos kaki hanya diusap-usap saja, itu tidak memenuhi syarat yang dimaksud dalam Al Mashu ’Ala Khuffaini.

Oleh karena itu maka, syariat ini harus kita pelajari dengan benar. Ketika orang mau berwudhu dengan tidak melepas sepatu, syaratnya adalah sebelum dia mengenakan sepatunya dia harus sudah wudhu dengan mencuci kakinya dan sepanjang itu pula ia tidak boleh melepas sepatunya. Artinya, dia shalat dan aktivitas lainnya tetap harus pakai sepatunya karena begitu dia melepas sepatunya maka syariat ini menjadi gugur/tidak berlaku lagi. Kalau dia berwudhu harus dengan mencuci kakinya.

Jadi Al Mashu ’Ala Khuffaini adalah keringanan untuk tidak mencuci kaki pada saat wudhu tapi dengan berbagai macam persyaratan dan persyaratan ini harus terpenuhi agar sekedar mengusap saja sudah bisa mengganti cuci kaki dalam wudhu. Tapi kalau persyaratan itu tidak terpenuhi, misalnya bukan sepatu tapi kaos kaki yang mana bisa robek dan kemasukan air maka ini tidak termasuk hal yang dibolehkan untuk diusap.

Demikian juga dengan masalah hijab (wanita yang pakai kerudung) yang berwudhu tidak melepaskan kerudungnya (hanya mengusap kerudungnya) maka sebenarnya tidak boleh karena itu bertentangan dengan Al Qur’an yang menyebutkan bahwa ada empat bagian tubuh kita yang harus kena air,
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki,” (QS. Al Maaidah: 6)
Kepala yang disapu/diusap bukan kerudungnya, topinya, atau sorbannya. Adapun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengusap sorban ketika beliau sedang berwudhu itu benar. Tapi ingat, hadits itu kalau kita teliti ternyata posisi sorban beliau itu tidak menutupi rambut seluruhnya, masih ada sebagian rambutnya yang keluar maka beliau mengusap rambutnya kena air (basah) dan kemudian beliau usap sorbannya.

Sehingga dalam konteks itu, para ulama mengatakan boleh saja yang penting sebagian rambutnya tetap kena air ketika diusap. Tapi kalau satu pun (sehelai pun) tidak terkena air, hanya ditutup dengan kerudung atau sorban saja maka itu belum sah sebagai sebuah wudhu yang sesuai dengan Al Qur’an.

Maka dari itu kita harus hati-hati dalam menerima masukan-masukan dari orang yang tidak pernah belajar ilmu fiqih/syariah, dia hanya melihat globalnya saja tapi detailnya itu harus tahu bahwa mengusap kepala itu minimal harus terkena rambutnya maka para wanita kalau dia tidak mau melepas kerudung, boleh-boleh saja tapi dia masukkan jari-jarinya yang basah itu ke dalam kerudungnya atau ke bagian belakang tapi terkena rambutnya.

Ini bisa dilakukan ketika misalnya di tempat wudhu itu dicampur antara laki-laki dan perempuan dan tidak mungkin untuk melepas kerudung. Silakan tidak usah dilepas kerudungnya tapi rambutnya harus basah terkena air sebagaimana perintah Allah dalam Al Qur’an bahwa yang diusap adalah kepalanya (bukan kerudungnya). Khusus untuk kepala, asalkan sebagian rambutnya sudah basah maka wudhunya sudah sah.