Gerhana Adalah Peristiwa Luar Biasa Menakutkan

Mungkin banyak dari kita yang menganggap peristiwa gerhana hanyalah fenomena alam biasa, apalagi sudah bisa diprediksi sebelumnya. Tapi bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, peristiwa gerhana bukan peristiwa biasa tapi peristiwa dahsyat yang luar biasa dan menakutkan. Mengapa demikian? Apa yang terlintas dibenak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat terjadi gerhana? Lalu apa yang kemudian dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat peristiwa alam ini terjadi?

Saat terjadi gerhana, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merasakan takut, bukan karena mitos yang berkembang di masyarakat tentang gerhana tapi yang terlintas dibenak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kiamat. Ketakutan yang seakan kiamat didepan mata. Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Abu Musa menceritakan,
“Saat itu terjadi gerhana matahari dan Nabi segera bangkit, takut bahwasanya itulah saatnya kiamat. Beliau pergi ke masjid dan melakukan shalat dengan berdiri, ruku’, dan sujud yang panjang, yang tidak pernah kulihat beliau seperti itu sebelumnya. Setelah itu beliau berkata “Tanda-tanda yang diberikan Allah ini tidaklah terjadi akibat kelahiran maupun kematian seseorang. Akan tetapi Allah membuat hamba-hamba-Nya merasa takut dengan gerhana itu maka apabila kalian melihatnya, ingatlah Allah, serulah Dia dan mohonlah pengampunan-Nya”.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ketika terjadi gerhana, Rasulullah merasa khawatir karena gerhana merupakan salah satu tanda terjadinya hari kiamat. Jika yang terjadi gerhana matahari maka yang hilang dari penglihatan adalah cahaya matahari. Jika yang terjadi gerhana bulan maka yang hilang adalah cahaya bulan. Hilangnya cahaya bulan kemudian dikumpulkannya matahari dan bulan merupakan salah satu tanda kiamat yang disebutkan oleh Allah ta’ala di dalam kitab-Nya,
“Ia berkata: "Bilakah hari kiamat itu?" Maka apabila mata terbelalak (ketakutan), Dan apabila bulan Telah hilang cahayanya, Dan matahari dan bulan dikumpulkan,” (QS. Al Qiyaamah: 6-9)
Keempat ayat ini menjelaskan salah satu tanda-tanda kiamat yang berhubungan dengan matahari dan bulan. Jika dikaitkan dengan hadits Abu Musa, bukankah fenomena gerhana itu matahari bumi dan bulan dikumpulkan? Itulah gambaran kiamat seperti yang disebutkan Allah subhanahu wa ta’ala dalam Al Qur’an.

Hal ini pula yang ditegaskan oleh Imam An Nawawi mengenai maksud Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam takut/khawatir terjadi hari kiamat, karena gerhana merupakan tanda yang muncul sebelum tanda-tanda kiamat, seperti terbitnya matahari dari barat, atau keluarnya Dajjal, atau mungkin gerhana tersebut merupakan sebagian tanda kiamat.

Kita tidak tahu, peristiwa gerhana bisa saja menjadi tanda datangnya bencana atau azab atau tanda semakin dekatnya hari kiamat, misalnya dengan semakin lemahnya tembok yang mengurung Ya’juj dan Ma’juj, atau akan semakin keringlah sungai Eufrat di Irak maka tidak patut bagi umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menyambut matahari atau bulan dengan suka cita, mengabadikannya dengan berfoto ria karena tuntunan Rasulullah menyuruh kita untuk menghadapi gerhana dengan mempertebal keimanan dan terus menerus berdzikir mengingat Allah.

Peristiwa gerhana memberikan pelajaran bagi kita bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mampu mengendalikan seluruh makhluk-Nya. Apa saja, bahkan matahari atau bulan yang dianggap makhluk yang luar biasa, bahkan banyak manusia yang menyembahnya. Itu sebabnya Nabi menganjurkan untuk memperbanyak dzikir, istighfar, takbir, sedekah, dan bentuk ketaatan lainnya. A’isyah radhiyallahu ‘anha menuturkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda diantara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat, dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari)
Selain itu jika peristiwa ini terjadi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kita agar melaksanakan shalat gerhana sebanyak dua raka’at. Berbeda dengan shalat biasa, shalat gerhana dilakukan tanpa adzan dan iqamah sebelum shalat gerhana. Yang ada hanyalah seruan untuk shalat berjama’ah sesuai dengan hadits dari Abdullah bin Amr bin Al Ash radhiyallahu ‘anhuma,
“Ketika terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka diserukan “Asshalaatu Jaami’ah. Shalat secara berjama’ah”.” (HR. Bukhari)
Shalat ini disunnahkan untuk dikerjakan berjama’ah di masjid. Shalat sunnah gerhana dikerjakan dalam dua raka’at yang sama seperti shalat dua raka’at lainnya tapi yang berbeda adalah bacaan surah, ruku’, dan sujudnya sangat lama, dan setiap raka’at terdiri dari dua kali ruku’ sehingga dua raka’at terdiri dari 4 kali ruku’ dan 4 kali sujud.

Hal ini berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dituturkan oleh A’isyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata:
“Pernah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mendirikan shalat bersama orang banyak. Beliau berdiri dalam shalatnya dengan memanjangkan lama berdirinya, kemudian ruku’ dengan memanjangkan ruku’nya, kemudian berdiri dengan memanjangkan lama berdirinya namun tidak selama yang pertama, kemudian beliau ruku’ dan memanjangkan lama ruku’nya namun tidak selama ruku’nya yang pertama, kemudian beliau sujud dengan memanjangkan lama sujudnya, beliau kemudian mengerjakan raka’at kedua seperti apa yang beliau kerjakan pada raka’at yang pertama. Saat beliau selesai melaksanakan shalat, matahari telah nampak kembali kemudian beliau menyampaikan khutbah kepada orang banyak.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam shalat gerhana juga disunnahkan pula khutbah setelah shalat gerhana, sedangkan waktu pelaksanaannya sejak mulai gerhana hingga bulan atau matahari kembali terlihat normal.