Cara Berbakti Kepada Orang Tua Yang Telah Meninggal Dunia

Bakti kepada kedua orang tua merupakan jalan termudah menuju surga. Bagaimana jika orang tua telah meninggal? Terkadang sebagian kita beranggapan bahwa kewajiban berbakti kepada kedua orang tua telah usai ketika orang tua telah wafat. Jika memang demikian, alangkah bakhil dan pelitnya kita, alangkah ruginya kita. lalu bagaimana cara berbakti kepada kedua orang tua yang telah meninggal dunia?

Setelah orang tua wafat dan telah memasuki alam barzakh justru saat itulah kedua orang tua paling membutuhkan bakti anak-anaknya. Bagaimana caranya?

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita bahwa orang tua yang telah tiada sangat membutuhkan doa yang baik dan permohonan ampun dari anak-anaknya. Seseorang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya,
“Wahai Rasulullah, apakah masih tersisa sesuatu sebagai baktiku kepada kedua orang tuaku setelah keduanya wafat?” Beliau bersabda “Ya, engkau mendoakan keduanya, memohonkan ampunan untuk keduanya, menunaikan janji keduanya, memuliakan teman keduanya, dan silaturahmi yang tidak tersambung kecuali dengan keduanya.” (HR. Al Hakim)
Begitulah bakti seorang anak kepada kedua orang tua, senantiasa menjadi hutang manusia selama ruh masih dikandung badan. Oleh karena itu, sangat keliru jika ada orang yang beranggapan bahwa baktinya telah usai ketika orang tua telah wafat. Bakti seorang anak kepada orang tua senantiasa menjadi hutang yang harus ditunaikan sampai ia bertemu dengan Allah ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat seorang hamba yang shalih di surga. Lantas ia bertanya “Wahai Rabb, mengapa aku mendapatkan ini?” Allah menjawab “Karena permohonan ampunan anakmu untukmu”.” (HR. Ahmad)
Abu Usaid Malik bin Rabi’ah As Sa’idi juga menuturkan,
“Suatu saat kami pernah berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika itu ada datang seseorang dari Bani Salimah, ia berkata “Wahai Rasulullah, apakah masih ada bentuk berbakti kepada kedua orang tuaku ketika mereka telah meninggal dunia?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab “Iya, dengan cara mendoakan keduanya, meminta ampun untuk keduanya, memenuhi janji mereka setelah meninggal dunia, menjalin hubungan silaturahim/kekerabatan dengan keluarga kedua orang tua yang tidak pernah terjalin, dan memuliakan teman dekat keduanya”.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)
Dalam hadits yang lain, kita dapat melihat bagaimana bentuk berbakti pada orang tua yang meninggal dunia lewat berbuat baik kepada keluarga dari teman dekat orang tua.
Anak dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu bernama Abdullah bin Umar pernah bertemu dengan seseorang laki-laki Badui di tengah perjalanan menuju Makkah kemudian Abdullah bin Umar memberi salam dan mengajak orang Badui itu untuk naik ke atas keledainya serta memberikan sorban yang dipakai di kepalanya. Melihat itu, Ibnu Dinar berkomentar terhadap Ibnu Umar “Semoga Allah memberikan kebaikan kepadamu. Sesungguhnya orang itu adalah orang Badui dan sebenarnya ia diberi sedikit saja sudah senang. Mengapa engkau beri dia sesuatu yang berharga?” Abdullah bin Umar menjawab “Sesungguhnya ayah Badui tersebut adalah kenalan baik ayahku Umar bin Al Khattab, sedangkan saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Sesungguhnya sebaik-baik bentuk berbakti berbuat baik adalah seseorang menyambung hubungan dengan keluarga dari kenalan baik ayahnya”.” (HR. Muslim)
Cara lain untuk berbakti kepada orang tua yang telah meninggal adalah dengan bersedekah atas nama ayah atau ibu yang telah meninggal. Cara ini pernah dilakukan seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu dibenarkan oleh Nabi.
Ketika sang ibunda meninggal dunia, waktu itu Sa’ad bin Ubadah sedang tidak di rumah dan tidak mendampinginya sehingga ia merasa menyesal lalu menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal sedangkan aku pada saat itu tidak berada di sampingnya. Apakah bermanfaat jika aku menyedekahkan sesuatu untuknya?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab “Iya, bermanfaat.” Kemudian Sa’ad mengatakan pada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam “Kalau begitu aku bersaksi padamu bahwa kebun yang siap berbuah ini aku sedekahkan untuknya.” (HR. Bukhari )
Berdasarkan hadits ini, para ulama sepakat bahwa sedekah untuk mayit akan bermanfaat baginya. Selama orang tua masih hidup, itulah kesempatan terbaik untuk berbakti karena berbakti kepada keduanya adalah jalan termudah untuk masuk surga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Orang tua adalah pintu surga paling tengah, kalian bisa sia-siakan pintu itu atau kalian bisa menjaganya.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)
Oleh karenanya selagi orang tua kita masih hidup, manfaatkanlah kesempatan berbakti kepadanya walau sesibuk apapun kita bahkan sekalipun telah meninggal dunia tetaplah berbakti dengan cara-cara yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wallahu a’lam bishshawab.