Bisakah Shalat Shubuh Diqadha Karena Bangun Kesiangan [Terlambat]?

Bangun kesiangan menjadi fenomena tersendiri pada masyarakat modern karena tak sedikit aktivitas dan pekerjaan yang bisa dilakukan di malam hari. Akibatnya, bangun kesiangan menjadi fenomena yang banyak terjadi di masyarakat. Lalu bagaimana shalat shubuhnya? Apakah karena shalat shubuhnya sudah lewat, bisakah diqadha di lain waktu ataukah harus dilaksanakan di saat itu juga?

Jika seseorang tertidur pulas dan tak terasa sudah lewat waktu shubuh atau sampai matahari terbit maka dia wajib untuk segera melakukan shalat shubuh saat itu juga tanpa menundanya. Kondisi ini pernah terjadi dan dialami Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu menuturkan,
“Pada suatu malam, kami menempuh perjalanan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian orang mengatakan “Ya Rasulullah, sebaiknya kita beristirahat menjelang pagi ini.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab “Aku khawatir kalian tidur nyenyak sehingga melewatkan shalat shubuh.” Bilal berkata “Saya akan membangunkan kalian.” Di saat semua terlelap, Bilal berusaha tetap terjaga dengan bersandar pada hewan tunggangannya namun ia justru ikut tertidur dengan pulasnya sehingga tidak sadar jika waktu sudah menunjukkan lewat shubuh. Nabi yang bangun lebih dulu kaget karena melihat busur tepian matahari sudah muncul. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata “Hai Bilal, mana bukti ucapanmu?” Bilal menjawab “Saya tidak pernah tidur sepulas malam ini.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Sesungguhnya Allah mengambil nyawamu kapanpun ia mau dan mengembalikannya kapanpun ia mau. Hai Bilal, bangunlah dan suarakan adzan!” Kemudian Rasulullah dan rombongan mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat meski matahari agak meninggi sedikit dan bersinar putih.” (HR. Bukhari)
Dengan begitu, shalat shubuh sekalipun telah lewat waktunya tetap harus dilaksanakan begitu dia bangun atau begitu dia ingat. Anas radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa yang lupa atau tertidur dari shalat maka kafarah (tebusannya) adalah dia shalat ketika dia ingat.” (Muttafaqun ‘alaih)
Dalam kondisi ini, dia tidak berdosa karena terjadi tanpa disengaja maka hal ini pun tidak termasuk melalaikan shalat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan dalam sabdanya:
“Jika seseorang tertidur, itu bukanlah berarti lalai dari shalat. Yang disebut lalai adalah jika seseorang dalam keadaan sadar (sudah terbangun). Jika seseorang itu lupa atau tertidur maka segeralah dia shalat ketika dia ingat karena Allah ta’ala berfirman “Tunaikanlah shalat ketika seseorang itu ingat.” (QS. Thaahaa: 14)” (HR. Muslim)
Dengan demikian, orang yang terbangun pagi kesiangan tidak boleh mengqadha shalat shubuhnya di lain waktu tapi harus langsung melakukannya secepatnya setelah bangun atau ingat.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah bukankah shalat di saat matahari terbit itu dilarang dalam syariat?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memang melarang umatnya shalat saat matahari terbit sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim karena pada waktu itu matahari terbit pada dua tanduk setan. Tak perlu dipahami bahwa larangan yang dimaksudkan adalah larangan mengerjakan shalat sunnah yang tidak memiliki sebab. Hal ini  tidak berlaku bagi shalat wajib yang terlambat karena kesiangan.

Oleh karena itu, dalam kondisi ini banyak ulama kontemporer yang memfatwakan jika seseorang tertidur sehingga luput dari shalat shubuh, dia terbangun ketika matahari terbit atau beberapa saat sebelum matahari terbit atau beberapa saat sesudah matahari terbit maka wajib baginya mengerjakan shalat shubuh ketika dia terbangun, baik matahari terbit ketika dia sedang shalat atau ketika mau memulai shalat matahari sedang terbit ataupun memulai shalat ketika matahari sudah terbit.

Dalam kondisi ini, hendaklah dia menyempurnakan shalatnya sebelum matahari memanas dan yang perlu dipahamkan hendaknya seseorang tidak menunda-nunda shalat shubuh hingga matahari meninggi atau memanas.

Lalu bagaimana jika orang yang bangun kesiangan itu bukan tanpa sengaja tapi memang sengaja mengatur waktu bangun paginya sehingga mayoritas waktunya dia selalu bangun setelah matahari terbit? Apakah dia juga harus shalat shubuh setelah matahari terbit?

Semua orang muslim wajib menunaikan shalat wajib pada waktu yang telah ditentukan sebagaimana Allah ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An Nisaa’: 103)
Perlu diperhatikan bahwa waktu shalat shubuh adalah mulai dari terbit fajar kedua (Fajar Shadiq) hingga terbit matahari. Artinya, waktu shalat sudah ditentukan waktunya, sudah bisa ditakar, dan diperkirakan bahkan dengan mudah direncanakan sehingga mengatur shalat shubuh tentunya terkait erat dengan pembiasaan waktu tidur malamnya.

Oleh karena itu, aktivitas di malam hari yang menyebabkan bangun pagi terlambat bukan menjadi alasan untuk mengundur waktu shubuh. Bahkan sekalipun seseorang selalu bekerja hingga larut malam atau lembur, atau selalu bekerja di shift malam tidak juga bisa menjadi alasan. Maka haram hukumnya orang yang selalu atau membiasakan bangun shubuh terlambat hingga matahari terbit sehingga mengakhirkan shalat sampai keluar waktunya.

Demikian pula penyebab orang bangun terlambat misalnya karena lembur. Jika lembur selalu menjadi penghalang atau penyebab bangun siang hingga shalat shubuhnya terlambat maka lembur itu bisa terlarang. Perlu diketahui pula bahwa setiap amalan yang dapat menyebabkan kita mengakhirkan shalat dari waktunya maka amalan tersebut menjadi terlarang untuk dilakukan kecuali jika amalan tersebut dikecualikan oleh syariat agama.

Orang yang lalai dari shalat shubuh mungkin banyak sebabnya, mungkin karena ingin mengulang pelajaran, atau mungkin karena ada pekerjaan yang harus dilembur hingga larut malam, atau mungkin pula karena malamnya diisi dengan menikmati hiburan, atau mungkin pula hal tersebut menjadi kebiasaannya apalagi kebiasaan ini sudah disetting atau diatur dengan alarm untuk bangun setelah terbit matahari dan ini menjadi rutinitasnya.

Jika memang alasan-alasannya seperti ini tanpa memperhatikan sebab untuk bangun pagi maka hal ini sama saja dengan meninggalkan shalat. Padahal meninggalkan shalat bukanlah perkara sepele, dosanya bukan dosa yang biasa-biasa saja, dosa meninggalkan shalat termasuk dosa besar yang paling besar. Ibnu Qayyim menjelaskan,
“Kaum muslimin tidaklah berselisih pendapat (sepakat) bahwa meninggalkan shalat wajib (shalat lima waktu) dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, zina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.”
Menukil penjelasan Ibnu Hazm, Adz Dzahabi dalam kitabnya Al Kabair menjelaskan bahwa tidak ada dosa setelah kejelekan yang paling besar daripada dosa meninggalkan shalat hingga keluar waktunya dan membunuh seorang mukmin tanpa alasan yang bisa dibenarkan.

Orang yang mengakhirkan shalat hingga keluar waktunya termasuk pelaku dosa besar dan yang meninggalkan shalat secara keseluruhan atau salah satu shalat wajib dianggap seperti orang yang berzina dan mencuri karena meninggalkan shalat atau luput darinya termasuk dosa besar.

Oleh karena itu, orang yang meninggalkannya sampai berkali-kali termasuk pelaku dosa besar sampai dia bertaubat. Sesungguhnya orang yang meninggalkan shalat termasuk orang yang merugi, celaka dan termasuk pelaku dosa.

Dari Jabir bin Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Pembatas antara seorang muslim dan kesyirikan serta kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim)
Buraidah bin Hushaib Al Islami menuturkan,
“Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir”.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, An Nasa'i, dan Ibnu Majah)
Nauman radhiyallahu ‘anhu yang pernah menjadi budaknya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Pemisah antara seorang hamba dengan kekufuran dan keimanan adalah shalat. Apabila dia meninggalkannya maka dia melakukan kesyirikan.” (HR. Ath Thabrani)
Oleh karena itu, orang-orang yang meninggalkan shalat seperti kasus-kasus ini hendaknya bertaubat dengan penuh penyesalan, bertekad tidak akan mengulanginya lagi, dan dia harus kembali menunaikan setiap shalat pada waktunya.