Benarkah Jika Belum Diaqiqahi Sampai Dewasa Akan Tetap Tergadai?

Banyak orang muslim yang pada masa kecilnya belum diaqiqahi. Ada yang memang karena orang tuanya kurang mampu atau sedang kesulitan ekonomi saat sang anak dilahirkan. Adapula karena alasan lain sehingga orang tuanya tidak mengaqiqahinya pada masa kelahirannya.

Masalahnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyampaikan kepada kita bahwa setiap anak tergadai dengan aqiqahnya. Maka tak sedikit kaum muslim yang mengganggap jika belum diaqiqahi di masa bayi sekalipun sudah dewasa maka sang anak tetap akan tergadai. Benarkah demikian?

Dalah hadits shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelih pada hari ke tujuh, dicukur gundul rambutnya, dan diberi nama.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
Hadits ini memang banyak mengundang tanya, khususnya kalimat “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya” oleh karena itu perlu dipahami dahulu makna dari kalimat ini. Makna dari “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya” adalah bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan aqiqah bagi bayi sebagai sarana untuk membebaskan bayi dari kekangan setan karena setiap bayi yang lahir akan diikuti setan dan dihalangi untuk melakukan usaha kebaikan bagi akhiratnya.

Maka aqiqah menjadi sebab yang membebaskan bayi dari kekangan setan dan bala tentaranya. Mengapa demikian? Karena setan telah bersumpah kepada Allah subhanahu wa ta’ala bahwa dia akan menghancurkan keturunan Adam kecuali sedikit diantara mereka, maka setan selalu berada di tempat pengintaian terhadap si anak yang dilahirkan itu semenjak keluar ke dunia.

Sewaktu anak lahir, setan bersegera mendatanginya, berusaha menjadikannya dalam genggamannya dan berusaha agar anak itu menjadikan rombongan pengikut dan tentaranya. Oleh karena itulah, Allah subhanahu wa ta’ala mensyariatkan bagi orang tua untuk melepaskan gadaian setan itu dengan menyembelih kambing sebagai tebusannya.

Jika orang tua belum menyembelih untuknya, si anak masih tergadai dengannya. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Seorang bayi tergadai dengan aqiqahnya maka alirkan darah sembelihan aqiqah untuknya, dan singkirkan kotoran, cukurlah rambut darinya.” (HR. Bukhari, Abu Dawud, dan Tirmidzi)
Kalimat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “bayi tergadai dengan aqiqahnya” juga ada makna lain yang disampaikan Imam Ahmad. Menurutnya, kalimat hadits ini berbicara mengenai syafa’at. Artinya, jika anak tidak diaqiqahi kemudian ia meninggal masih bayi maka anak itu tidak bisa memberikan syafa’at bagi kedua orang tuanya.

Namun pendapat ini dibantah oleh Ibnu Qayyim, kalimat “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya” tidak ada hubungannya dengan syafa’at karena syafa’at anak untuk bapak tidak lebih utama dari syafa’at bapak untuk anaknya di akhirat. Padahal seorang bapak tidaklah berhak memberikan syafa’at untuk anak, demikian juga semua kerabat.

Allah azza wa jalla berfirman:
“Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun.” (QS. Luqman: 33)
Demikian pula firman Allah subhanahu wa ta’ala:
“Dan jagalah dirimu dari (azab) hari (kiamat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikitpun; dan (begitu pula) tidak diterima syafa'at dan tebusan dari padanya, dan tidaklah mereka akan ditolong.” (QS. Al Baqarah: 48)
Maka pada hari kiamat, siapa saja tidak bisa memberikan syafa’at kepada seorang pun kecuali setelah Allah subhanahu wa ta’ala memberikan izin bagi orang yang dikehendaki dan diridhai oleh-Nya dan izin Allah itu tergantung kepada amalan orang yang dimintakan syafa’at yaitu amalan tauhidnya dan keikhlasannya. Demikian pula syafa’at itu tergantung kepada kedekatan dan kedudukan pemohon syafa’at di sisi Allah subhanahu wa ta’ala, bukan diperoleh dengan sebab kekerabatan.

Oleh karena itu, anak tergadai oleh aqiqahnya tidak terkait dengan syafa’at karena Allah subhanahu wa ta’ala telah memberitakan bahwa seorang hamba itu tergadai dengan usahanya sendiri sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:
“Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang Telah diperbuatnya,” (QS. Al Muddatstsir: 38)
Lalu bagaimana jika sang anak belum diaqiqahi hingga dewasa? Apakah dia harus tetap diaqiqahi?

Ketetapan syariat, aqiqah adalah kambing disembelih pada hari ke tujuh dari kelahirannya sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ke tujuh, digundul rambutnya, dan diberi nama.” (HR. Abu Dawud, Nasa'i, Ibnu Majah, dan Ahmad)
Hari ke tujuh inilah waktu yang disepakati oleh para ulama untuk aqiqah. Jika luput pada hari ke tujuh, ulama madzhab Maliki berpendapat bahwa aqiqah jadi gugur. Namun ulama Hanbali berpendapat, jika luput pada hari ke tujuh maka aqiqah boleh dilaksanakan pada hari ke 14, jika belum juga ada kesempatan boleh juga dilaksanakan pada hari ke 21. Akan tetapi menurut ulama madzhab Syafi'i, aqiqah masih menjadi tanggung jawab seorang ayah hingga waktu si anak itu baligh. Jika sudah dewasa, aqiqah jadi gugur namun anak punya pilihan: boleh mengaqiqahi diri sendiri.

Ulama masa kini kemudian memberikan solusi hukumnya bahwa anjuran aqiqah menjadi tanggung jawab ayah yang menanggung nafkah anak. Apabila ketika waktu dianjurkannya aqiqah pada hari ke 7 dari hari kelahiran, orang tua dalam keadaan fakir atau tidak mampu maka ia tidak diperintahkan untuk aqiqah karena Allah ta’ala berfirman:
“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu” (QS. At Taghaabun: 16)
Namun ketika apabila waktu dianjurkannya aqiqah orang tua dalam keadaan berkecukupan maka aqiqah masih tetap menjadi perintah bagi sang ayah, bukan ibu, bukan pula anaknya.

Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa aqiqah ketika dewasa tidak perlu lagi diadakan karena aqiqah menjadi gugur ketika sang bayi sudah dewasa. Demikian pula mengaqiqahi diri sendiri tidaklah perlu karena tidak ada hadits yang mendukungnya apalagi aqiqah adalah tanggung jawab orang tua dan bukan tanggung jawab anak.

Maka jika ingin mengaqiqahi ketika dewasa maka tetap menjadi tanggungan orang tua, itupun harus dilihat apakah saat kelahiran, orang tuanya dalam keadaan mampu ataukah tidak. Jika saat itu tidak mampu maka tidaklah perlu ada aqiqah karena aqiqah tidaklah bersifat memaksa. Akan tetapi jika saat anak dilahirkan, kondisi orang tua saat itu mampu maka hendaklah orang tua menunaikan aqiqah untuk anaknya meskipun sudah dewasa. Wallahu a’lam bishshawab.