Tata Cara Pelaksanaan Shalat Sunnah Dhuha

Tidak ada manusia yang sempurna tanpa dosa. Berbuat salah merupakan tabiat alami manusia sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam sebuah hadits qudsi,
“Wahai hamba-hamba-Ku sesungguhnya kalian berbuat salah pada malam dan siang dan aku mengampuni semua dosa maka minta ampunlah kepada-Ku niscaya Aku akan mengampuni kalian.” (HR. Muslim)
Setelah bertaubat, dosa dan kesalahan bisa dihapuskan oleh sedekah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan dosa layaknya kobaran api, sedangkan sedekah berfungsi seperti air. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi)
Masalahnya, tidak semua orang mampu bersedekah secara rutin karena keterbatasan ekonomi. Orang yang rizkinya pas-pasan memilih merutinkan shalat dhuha. Ada anggapan amalan sedekah bisa didapatkan dari mengerjakan shalat dhuha sehingga tidak perlu bersedekah dengan hartanya. Benarkah anggapan semacam ini?

Para ulama menjelaskan bahwa shalat dhuha memang mampu menggantikan sedekah. Hal ini berdasarkan teks hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu,
“Tiap pagi ada kewajiban sedekah bagi tiap ruas tulang kalian, setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, memerintahkan untuk melakukan kebaikan adalah sedekah, melarang dari kemungkaran adalah sedekah, dan semua itu dapat tercukupi dengan melakukan dua raka’at shalat dhuha.” (HR. Muslim)
Para ulama menjelaskan bahwa sedekah yang dimaksud hadits ini bukanlah mengeluarkan sebagian harta kepada fakir miskin atau membelanjakan harta di jalan Allah. Anggapan yang meyakini mendirikan shalat dhuha sama nilainya dengan sedekah harta sebenarnya kurang tepat.

Sedekah yang setara dengan mendirikan shalat dhuha sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah perbuatan atau amalan yang mendekatkan diri atau taqarrub antara manusia dengan Rabbnya. Bentuknya bisa bermacam-macam, seperti tasbih dengan membaca “Subhanallah”, tahmid dengan membaca “Alhamdulillah”, dan talkbir dengan membaca “Allahu akbar”, bisa juga dengan memerintahkan amalan kebaikan serta melarang kepada keburukan, dan sebagainya.

Anjuran untuk bersedekah senantiasa disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada para sahabatnya,
“Dalam tubuh manusia itu ada 360 ruas tulang, ia harus dikeluarkan sedekahnya untuk tiap ruas tulang tersebut.” Ketika mendengarkan hal ini, para sahabat kemudian bertanya kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam “Siapakah yang mempu melaksanakan seperti itu, wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab ”Dahak yang ada di masjid lalu dipendam ke tanah dan membuang sesuatu gangguan dari tengah jalan maka itu berarti sebuah sedekah akan tetapi jika tidak mampu melakukan itu semua, cukuplah engkau mengerjakan dua raka’at shalat dhuha.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Ibnu Daqiq Al ‘Id mengatakan bahwa semua sedekah yang dilakukan oleh anggota badan tersebut dapat diganti dengan dua raka’at shalat dhuha karena shalat merupakan amalan semua anggota badan. Jika seseorang mengerjakan shalat maka setiap anggota badan menjalankan fungsinya masing-masing. perbuatan-perbuatan baik seperti menyingkirkan gangguan di tengah jalan atau membersihkan kotoran di masjid termasuk dalam amalan sedekah dan seharusnya dikerjakan setiap hari, tetapi jika tidak mampu konsisten melaksanakannya bisa diganti dengan shalat dhuha dua raka’at.

Ibnu Umar berkata,
“Barangsiapa memiliki harta maka bersedekahlah dengan hartanya. Barangsiapa yang punya kekuatan maka bersedekahlah dengan kekuatannya. Barangsiapa yang memiliki ilmu maka bersedekahlah dengan ilmunya.”
Sedekah dengan harta maupun bukan dengan harta masing-masing memiliki keutamaan tersendiri. Namun begitu, sedekah tersebut akan tetap mendapat ganjaran dari Allah subhanahu wa ta’ala,
“Orang memberikan (menyumbangkan) dua harta di jalan Allah maka ia akan dipanggil oleh salah satu dari pintu surga. Wahai hamba Allah, kemarilah untuk menuju kenikmatan! Jika ia berasal dari golongan orang-orang yang suka mendirikan shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat. Yang berasal dari kalangan mujahid maka ia akan dipanggil dari pintu jihad. Jika ia berasal dari golongan yang gemar bersedekah, akan dipanggil dari pintu sedekah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bagi kebanyakan orang, shalat dhuha ini dikenal dengan shalat pembuka rizki. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Allah ta’ala berfirman: “Wahai Anak Adam, janganlah engkau tinggalkan empat raka’at shalat di awal siang (di waktu dhuha) maka Aku akan mencukupimu di akhir siang”.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi)
Pertanyaannya, kapan waktu yang tepat untuk melaksanakan shalat dhuha ini?

Shalat dhuha adalah shalat sunnah yang dikerjakan pada saat hari mulai beranjak siang. Hal ini sesuai dengan kata dhuha yang bermakna waktu siang hari di kala sinar matahari mulai terik.

Imam Ar Rafi’i dan Ibnu Rifa’ serta sebagian ulama dalam madzhab Syafi'i lainnya berpendapat bahwa shalat dhuha dimulai ketika bayangan benda sudah setinggi kurang lebih satu tombak dan menurut Imam Al Albani, jarak satu tombak adalah 2 meter sesuai standar ukuran sekarang.

Menurut sebagian ulama, waktu dimulainya shalat dhuha kurang lebih 15 menit setelah terbitnya matahari. Batas akhir waktu shalat dhuha sebelum masuk waktu larangan shalat yaitu ketika bayangan tepat berada di atas benda, tidak condong ke timur atau ke barat.

Selama bayangan benda masih condong ke arah barat meskipun sedikit berarti waktu dhuha masih ada. Ketika bayangan benda lurus dengan bendanya tidak condong ke barat maupun ke timur maka waktu shalat dhuha telah habis dan masuk waktu terlarang untuk mengerjakan shalat.

Mayoritas atau jumhur ulama memberikan patokan sederhana, waktu shalat dhuha berakhir kira-kira 15 menit sebelum waktu dzuhur.

Lalu bagaimana dengan anggapan bahwa orang yang ingin mengerjakan shalat dhuha harus membaca surah Adh Dhuhaa dan Asy Syams? Benarkah hafalan kedua surah tersebut menjadi bagian dari rukun shalat dhuha?

Pendapat yang menyatakan bahwa mengerjakan shalat dhuha harus membaca surah Asy Syams dan Adh Dhuhaa berasal dari sebuah hadits yang berbunyi,
“Shalatlah dua raka’at dhuha dengan membaca dua surah dhuha yaitu surah “Wasysyamsi wadhukaaha” dan Adh Dhuhaa.”
Ibnu Hajar Al Asqalani dalam kitab Fathul Bari mengutip hadits ini berdasarkan riwayat Ad Dailami dan Ar Ruyani, beliau menyatakan ada kesesuaian antara isi surah Asy Syams dan Adh Dhuhaa dengan shalat yang dikerjakan.

Namun beberapa ulama ahli hadits termasuk Imam Ibnu Hibban menyatakan bahwa hadits tersebut derajatnya lemah sehingga tidak ada anjuran atau kewajiban membaca surah Asy Syams dan Adh Dhuhaa di saat shalat dhuha baik itu pada raka’at pertama maupun kedua.

Syaikh Ibnu Baz menjelaskan bahwa disunnahkan untuk membaca surah yang mudah dan dihafal setelah membaca surah Al Fatihah. Dalam shalat dhuha tidak ada ketentuan membaca surah tertentu karena yang wajib hanya Al Fatihah dan surah tambahannya merupakan sunnah. Jika setelah Al Fatihah membaca surah Asy Syams, Al Lail, Adh Dhuhaa, Alam Nasyrah, dan surah-surah yang lainnya maka itu adalah sebuah perkara yang baik.

Lalu bagaimana dengan doa yang dipanjatkan seusai shalat dhuha? Apakah ada doa khusus yang harus diamalkan?

Secara umum tidak ada riwayat khusus dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terkait doa khusus setelah shalat dhuha. Adapun doa masyhur yang sering kita dengar adalah:
“Allahumma in kana rizqi fis samai fa-ahbith-hu, wa in kana fil ardhi fa-azhhirhu, wa in kana ba'idan faqarribhu wa in kana qariban fayassirhu, wa in kana qalilan fakatstsirhu, Ya Allah, jika rizki hamba berada di langit maka turunkanlah, jika berada di bumi maka keluarkanlah, jikapun ia jauh maka dekatkanlah, dan jika dia dekat maka mudahkanlah.”
Namun doa ini diyakini bukanlah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian ulama menilai bahwa redaksi doa tersebut masyhur di Arab dan tidak jelas juga siapa yang memulai. Tapi secara isi tidak ada masalah dengan redaksi doa tersebut sehingga jika ingin dipakai sebagai doa setelah shalat sunnah dhuha juga diperbolehkan.

Namun jika ingin meniru redaksi doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terutama yang kaitannya dengan kelapangan rizki maka ada banyak doa yang bisa dipanjatkan. Dalam kitab Al Adzkar karangan Imam An Nawawi disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap selesai shalat selalu berdoa:
“Allahumma inni a'udzubika minal kufri wal faqri, wa a'udzubika min 'adzabil qabri. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran, harta dan dari siksa kubur.”
Selain itu ada pula riwayat lain dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap selesai shalat shubuh sering berdoa:
“Allahumma inni as’aluka ilman nafi’a wa ‘amalammutaqabbala warizqan thayyiba. Ya Allah, aku bermohon kepada-Mu diberikan ilmu yang bermanfaat, dan diterimanya segala amal kebaikan, serta rizki yang baik.”
Jadi tidak ada doa khusus yang wajib dipanjatkan setelah shalat dhuha, asalkan doa tersebut bermakna baik maka tidak mengapa untuk dipanjatkan. Wallahu a’lam bishshawab.