Tata Cara Pelaksanaan Shalat Jama’ dan Qashar Menurut Syariat Agama Islam

Banyak warga kota-kota besar di Indonesia yang asalnya merantau dari kampung atau desa sehingga saat musim libur banyak yang mudik pulang ke kampungnya masing-masing. Hal ini akhirnya menimbulkan pertanyaan, saat sedang berada di kampung halaman bolehkah menjama’ dan mengqashar shalat wajib? Bagaimana syariat mengatur hal ini?

Kebanyakan ulama berpendapat bahwa seseorang boleh mengqashar shalat jika ia bepergian sejauh 89km, jika perjalanan pulang kampung menempuh jarak lebih dari 89km maka seseorang boleh mengqashar shalat wajib. Mengqashar atau meringkas jumlah raka’at shalat wajib merupakan keringanan yang diberikan kepada setiap muslim terkait dengan kegiatan safar atau bepergian.

Hal ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh sahabat, Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu beliau mengatakan,
“Saya sering menyertai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perjalanan dan beliau melaksanakan shalat tidak lebih dari dua raka’at.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Penetapan jarak sejauh 89km ini didasarkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Wahai penduduk Makkah, janganlah kalian mengqashar shalat bila kurang dari 4 burud dari Makkah ke Usfan.” (HR. Ad Daruquthni)
Masalah ini diawali ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat dari Madinah dan berbagai negeri di luar kota Makkah melaksanakan ibadah haji di tahun ke 10 Hijriyah, saat itu Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam selalu mengqashar shalat dan sekaligus menjama’ shalat-shalat ruba’iyah yaitu shalat dzuhur-ashar dan shalat maghrib-isya. Setidaknya empat hari lamanya beliau melakukannya yaitu sejak tanggal 9, 10, 11, 12 Dzulhijjah.

Perbuatan Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ini tentu saja diikuti oleh para jama’ah haji lainnya. Akan tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang penduduk lokal Makkah untuk mengqashar shalat dengan dasar karena mereka tidak sedang dalam safar atau bepergian. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengatakan kalau mau mengqashar atau menjama’ shalat minimal jaraknya antara Makkah dan Usfan sejauh 89km.

Namun yang penting untuk diketahui bahwa jarak ini tidak diukur untuk pergi dan pulangnya. Hitungan jarak ini diukur untuk jarak tempuh perginya saja atau sekali perjalanan. Sebagai contoh, jika seseorang tinggal di Jakarta dan ia memiliki kampung di Bogor maka ia tidak boleh mengqashar shalat wajibnya karena jarak Jakarta ke Bogor hanya 60km. Lain halnya bila ia memiliki kampung di Bandung yang jaraknya mencapai 150km maka ia mendapatkan keringanan untuk mengqashar atau meringkas shalatnya.

Jika demikian lalu muncul pertanyaan,ketika seseorang sudah dikampung halamannya apakah ia termasuk musafir? Apakah boleh dia mengqashar atau meringkas shalat terus menerus sampai ia pulang kembali ke rumah? Lalu berapa lama waktu yang ditetapkan syariat bagi seseorang boleh mengqashar shalatnya?

Para ulama menjelaskan bahwa seseorang berstatus sebagai musafir atau orang yang sedang dalam perjalanan bila ia bepergian sejauh 89km dari rumah tinggalnya dan menginap kurang dari 4 hari. Jika liburan di kampung halaman kurang dari 4 hari maka ia dibolehkan mengqashar shalatnya tapi bila ia tinggal lebih dari 4 hari hingga misalnya 1 atau 2 minggu maka pada hari ke-4 hingga kepulangan tidak diperbolehkan mengqashar shalat. Ia harus mengerjakan shalat seperti shalatnya penduduk setempat. Inilah pendapat yang disampaikan oleh Syaikh Muhammad bin Umar Bazmul.

Pendapat ini berdasarkan kisah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau datang ke Makkah untuk haji. Ketika itu Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menetap di Makkah selama 4 hari dan selalu mengqashar shalat kemudian beliau ke luar kota Makkah menuju Mina. Selain itu juga ada larangan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabatnya dari kalangan Kaum Muhajirin, beliau melarang Kaum Muhajirin menetap di Makkah lebih dari tiga hari agar hijrah mereka tidak batal.

Hal ini menunjukkan bahwa menetap lebih dari empat hari, mengeluarkan seorang muslim dari batasan safar menjadi iqamah atau penduduk yang bermukim di sebuah wilayah. Namun ada kalangan ulama yang membolehkan seorang musafir terus menerus meringkas shalat ketika ia bersafar maksimal selama 19 hari. Hal ini didasarkan dari riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu,
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menetap selama 19 hari dengan mengqashar shalat dan kami jika menetap selama 19 hari, kami mengqashar shalat jika lebih dari itu kami menyempurnakan shalat.” (HR. Bukhari)
Riwayat-riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjama’ dan mengqashar shalat lebih dari empat hari seperti 19 hari dan sebagainya, kasusnya berbeda dengan kondisi saat ini sebab saat itu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menetap di desa atau kota atau tempat yang lazim dihuni manusia.

Rasulullah saat itu berkemah di padang pasir di luar pemukiman sehingga wajar kalau statusnya tetap musafir terus seperti tentara yang masuk hutan atau awak kapal laut yang berlayar di lautan berbulan-bulan. Wajar kalau status mereka tetap musafir terus karena tidak masuk ke wilayah pemukiman masyarakat dan tinggal secara wajar sebagai warga kota.

Jika demikian timbul pertanyaan, bagaimana dengan orang yang memiliki rumah pribadi di kampung halaman yang statusnya bukan rumah orang tua? Ada anggapan ketika pulang kampung, ia tidak boleh mengqashar shalatnya karena termasuk penduduk yang memiliki rumah di situ, benarkah demikian?

Orang yang merantau biasanya tetap merasa punya kampung halaman yang selalu dirindukan. Penetapan seseorang disebut seorang musafir sehingga mendapat keringanan untuk menjama’ atau mengqashar shalat bukan didasarkan atas kepemilikan rumah namun berdasarkan syarat dari tempat bermukim dia sehari-hari. Bila rumah pribadinya di kampung itu bukan tempat dia mukim sehari-hari maka ia boleh shalat dengan dijama’ atau diqashar, lalu shalat apa saja yang boleh dijama’ dan diqashar dan bagaimana pelaksanaannya?

Ada dua bentuk keringanan shalat ketika safar atau saat bepergian:
  1. Shalat Jama’ Qashar yaitu menggabungkan dua shalat sekaligus meringkas jumlah raka’atnya.
  2. Shalat Jama’ hanya menggabungkan dua shalat tapi tidak meringkas atau tidak mengurangi jumlah raka’atnya.
Namun menggabung shalat ini ada pasangan tetapnya yaitu shalat dzuhur dengan ashar serta maghrib dengan isya. Tidak boleh menggabung atau menjama’ shalat selain pasangan tersebut misalnya menggabung shalat ashar dengan maghrib atau menggabung isya dengan shubuh.

Seorang musafir boleh menjama’ dan mengqashar shalat wajib sekaligus, misalnya di waktu dzuhur mengerjakan shalat dzuhur dua raka’at kemudian salam lalu dilanjutkan dengan shalat ashar dua raka’at, atau sebaliknya di waktu ashar terlebih dahulu mengerjakan shalat dzuhur sebanyak dua raka’at dan dilanjutkan shalat ashar dua raka’at.

Namun, shalat maghrib tidak boleh diringkas atau diqashar. Artinya, seorang musafir boleh mengerjakan shalat maghrib tiga raka’at kemudian dilanjutkan dengan dua raka’at shalat isya. Atau di waktu isya mengerjakan shalat maghrib tiga raka’at terlebih dahulu baru kemudian mengerjakan dua raka’at shalat isya.

Shalat Jama’ Qashar boleh dikerjakan secara berjama’ah atau sendiri sendiri. Dengan catatan, imam dan makmum sama-sama berstatus sebagai seorang musafir. Lalu bagaimana jika seorang musafir bermakmum kepada imam yang statusnya penduduk setempat? Apakah ia masih diperbolehkan menjama’ dan mengqashar shalat?

Ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa seorang musafir masih memiliki kewajiban untuk mengikuti shalat berjama’ah di masjid. Seorang musafir yang bermakmum kepada penduduk setempat harus mengikuti imam termasuk jumlah raka’atnya. Setelah imam mengucap salam, musafir bisa langsung berdiri dan bertakbiratul ihram untuk menjama’ shalat berikutnya, misalnya seorang musafir berjama’ah shalat maghrib, setelah imam mengucap salam ia bisa menjama’ dan mengqashar shalat isya sebanyak dua raka’at.

Para ulama menjelaskan bahwa jika shalat jama’ dan qashar secara berjama’ah, adzan hanya dikumandangkan sekali saja kemudian setelah salam untuk memulai shalat selanjutnya cukup dikumandangkan iqamah. Wallahu a’lam bishshawab.