Siapakah Yang Harus Mengangkat Hingga Menguburkan Jenazah Ke Liang Kubur?

Ketika mengantar jenazah yang posisi pemakamannya dekat dengan rumah, haruskah yang mengangkat keranda dari pihak keluarga? Begitu pula yang menurunkan jenazah ke liang kubur, apakah harus dari pihak keluarga juga?

Para ulama berpendapat bahwa tidak harus keluarga yang melakukannya. Sebaliknya, setiap muslim dianjurkan untuk mengantar jenazah saudaranya sesama muslim. Hal ini seperti tersebut dalam hadits Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam,
“Barangsiapa yang menyaksikan jenazah hingga menshalatkannya maka dia akan mendapatkan satu qirath pahala dan barangsiapa menyaksikannya hingga dikubur maka dia akan mendapatkan pahala dua qirath.” Ada yang bertanya “Dua qirath itu seberapa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab “Seukuran dua gunung besar.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu juga menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
“Hak seorang muslim terhadap sesama muslim itu ada enam, yaitu: (1) Jika kamu bertemu dengannya maka ucapkanlah salam, (2) Jika dia mengundangmu maka penuhilah undangannya, (3) Jika dia meminta nasihat kepadamu maka berilah dia nasihat, (4) Jika ia bersin dan mengucapkan “Alhamdulillah” maka doakanlah dia dengan mengucapkan “Yarhamukallah artinya mudah-mudahan Allah memberikan rahmat kepadamu”, (5) Jika ia sakit maka jenguklah, dan (6) Jika ia meninggal dunia maka antarlah jenazahnya.” (HR. Muslim)
Dengan demikian, mengiringkan jenazah seorang muslim dianjurkan kepada siapapun. Tidak hanya kepada kerabatnya saja tetapi juga tentunya termasuk karib kerabat. Dan secara logika, mereka lebih layak untuk melakukan itu.

Lalu bagaimana yang meninggal adalah seorang perempuan? Siapa yang berhak mengantarnya ke liang kubur?

Bila yang meninggal adalah seorang perempuan, ulama sepakat bahwa yang boleh memasukkan jenazahnya ke liang kubur adalah mahramnya. Ibnu Qudamah dalam kitabnya mengatakan,
“Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama bahwa orang yang paling diprioritaskan untuk memasukkan mayat perempuan ke dalam kuburnya adalah mahramnya yaitu orang yang dibolehkan memandang wanita tersebut sewaktu ia masih hidup sebagaimana juga dibolehkan bepergian dengannya.”
Al Khallal telah meriwayatkan dari Umar radhiyallahu ‘anhu, saat Zainab binti Jahsy wafat, Umar mengutus seseorang yang dibolehkan masuk ke dalam rumah wanita yang meninggal tersebut semasa ia masih hidup dan Umar pun menganggap keputusan yang mereka sepakati mengutus orang tersebut adalah sikap yang benar.

Manakala istri Umar meninggal dunia, beliau berkata kepada keluarganya “Kalian adalah orang yang lebih berhak” dan karena orang yang paling berhak menjadi wali bagi seorang wanita sewaktu ia masih hidup adalah mahramnya maka begitu pula hukumnya ketika wanita tersebut telah meninggal dunia. Namun tindakan Umar ini bukan satu-satunya yang pernah dilakukan oleh para sahabat. Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu misalnya saat istrinya meninggal dunia, dia sendiri yang memasukkannya ke dalam liang kubur.

Masalahnya sekarang, bila suami atau mahramnya tidak ada di tempat pemakaman lalu siapa yang seharusnya memasukkannya ke liang kubur?

Menjawab pertanyaan ini, Ibnu Qudamah radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa jika mahram mayat perempuan tersebut tidak ada maka yang seharusnya memakamkan adalah orang laki-laki yang sudah tua sebab mereka lah yang paling rendah nafsunya dan paling jauh dari fitnah.

Dan jika mereka ini juga tidak ada, maka urutan selanjutnya adalah orang-orang shalih dan memiliki ketaatan beragama yang tinggi sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyuruh Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu untuk menguburkan putri beliau padahal disana masih banyak sahabat lain.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu pernah berkata,
“Kami pernah menyaksikan pemakaman putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sementara beliau duduk di atas kubur. Saya melihat kedua matanya mengalirkan air mata lalu beliau berkata “Apakah diantara kalian ada orang yang tadi malam tidak menggauli istrinya?” Maka Abu Thalhah menjawab “Saya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata “Turunlah ke dalam liang lahatnya!” Maka Abu Thalhah pun turun lalu menguburkannya.” (HR. Bukhari)