Shalat Di Masjid Secara Terpisah [Membuat Jama’ah Sendiri-Sendiri]

Fenomena orang shalat di masjid-masjid besar setelah shalat berjama’ah bersama imam rawatib biasanya banyak jama’ah yang membuat shalat gelombang berikutnya. Tak jarang, jama’ah laki-laki dan perempuan yang berada di ruang terpisah masing-masing membuat jama’ah sendiri-sendiri.

Apakah yang demikian dibolehkan lalu mengapa ada pula anggapan tidak boleh membuat jama’ah seperti gelombang pertama?

Berikut penjelasan Ustadz Sarwat: Kalau yang tidak boleh ada dua jama’ah itu adalah jama’ah yang bersama imam rawatib masjid tersebut. Sebutlah kita shalat di Masjidil Haram, di Masjid Nabawi, imam masjid yang resminya itu kemudian untuk gelombang yang pertama memang tidak boleh ada jama’ah yang berbeda, semua harus ikut bergabung dengan imam rawatib.

Tapi kalau shalat berjama’ah itu sudah selesai/paripurna maka seandainya ada satu atau dua orang yang datang terlambat dan belum shalat lalu mereka sepakat shalatnya mau berjama’ah maka itu tidak mengapa/dibolehkan, kalau ternyata misalnya di sebelah sana ada dua orang, di sebelah sini ada tiga orang, di tempat wanita ada juga mungkin ada jama’ah yang berbeda-beda shalat bersama-sama maka itu tidak menjadi masalah karena yang harusnya dikerjakan itu sebenarnya adalah shalat gelombang pertama bersama imam rawatib yang pada saat itu tidak boleh ada shalat-shalat yang lain kecuali bersama imam saja.

Adapun untuk gelombang yang kedua, ketiga, dan seterusnya sebenarnya di masa Rasulullah juga tidak ada semacam gelombang kedua, ketiga, dan seterusnya itu, yang ada adalah shalat bersama imam rawatib sudah selesai ditunaikan lalu ketika sebagian besar jama’ah sudah pulang, ada satu orang datang terlambat yang mau shalat lalu kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Siapa diantara kalian (jama’ah yang tersisa) ada yang mau bersedekah kepada orang itu?” Bersedekah maksudnya menemani orang itu shalat jadi shalatnya menjadi berjama’ah.

Dari situlah para ulama mengatakan boleh saja ada gelombang kedua dan seterusnya tapi dengan syarat dia berdua saja tidak boleh membuat shaf yang besar bahkan dalam madzhab Hanafi boleh saja shalat tapi harus di pojokan masjid itu agar tidak seperti gelombang kedua dan seterusnya.

Dalam hal ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan adanya shalat berjama’ah gelombang kedua dan seterusnya. Hikmahnya yaitu shalat berjama’ah itu hanya sekali saja yaitu shalat berjama’ah dengan imam rawatib kalaupun terlambat satu atau dua raka’at maka ikutlah bergabung dengan jama’ah itu, kalaupun terlambatnya sudah tidak dapat sama sekali raka’at maka ada beberapa pilihan:

  • Shalat sendiri-sendiri, itu yang dilakukan Nabi bersama para sahabat.
  • Pulang, Nabi juga pernah melakukannya yaitu shalat di rumah.

Kalaupun mau shalat di masjid juga silakan karena Nabi juga pernah memerintahkan kepada satu orang sahabat yang sudah shalat untuk menemani orang yang datang terlambat sama sekali tidak dapat berjama’ah. Artinya tidak menjadi gelombang kedua, mau shalat sendiri-sendiri silakan, mau pulang juga silakan, tapi kalau mau berjama’ah di masjid berdua/bertiga silakan tapi di pojokan tidak membuat shalat gelombang kedua, ketiga, dan seterusnya karena itu tidak sesuai dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adapun untuk shalat yang berbeda-beda jama’ahnya, larangan yang tidak membolehkan ada dua atau lebih jama’ah dalam masjid itu hanya berlaku untuk gelombang yang pertama (yang bersama imam rawatib) saja hingga selesai dikerjakan. Setelah itu maka tidak mengapa shalat berbeda-beda jama’ahnya (saling terpisah).