Setiap Orang Tidak Dibebani Oleh Dosa Orang Lain

Banyak yang beranggapan ketika anak berbuat dosa maka orang tua turut menanggung dosa anaknya, misalnya apabila anaknya berbuat zina, terlibat penyalahgunaan narkoba, atau berbuat kejahatan yang lain maka orang tua juga ikut menanggung dosa sang anak. Lalu bagaimana jika ada orang tua yang gemar bermaksiat, apakah sang anak ikut menanggung dosa orang tuanya?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidaklah seseorang berbuat dosa kecuali menjadi tanggung jawabnya sendiri. Tidaklah orang tua berbuat dosa menjadi tanggung jawab anaknya dan tidak pula anak berbuat dosa menjadi tanggung jawab orang tuanya.” (HR. Tirmidzi)
Ayat-ayat Al Qur’an pun banyak menyebutkan bahwa setiap orang menanggung amalannya sendiri-sendiri. Tidak seorang pun yang dibebani dosa orang lain. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain,” (QS. An Najm: 38)
Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman:
“Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang Telah kamu kerjakan.” (QS. Yaasiin: 54)
Sementara dalam ayat lain disebutkan dengan tegas bahwa,
“Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang Telah diperbuatnya,” (QS. Al Muddatstsir: 38)
Dengan demikian, maka orang tua tidak bertanggung jawab atas dosa anaknya begitupun sebaliknya anak juga tidak bertanggung jawab atas dosa orang tuanya. Hanya saja orang tua berkewajiban untuk mendidik anak-anaknya agar taat kepada perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Apabila orang tua sengaja tidak mendidik anaknya dengan baik saat masih kecil lalu ketika dewasa sang anak berbuat dosa dan maksiat maka orang tua juga ikut berdosa sebab mereka telah melalaikan tanggung jawab untuk memelihara keluarganya dari api neraka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu;” (QS. At Tahriim: 6)
Tentang ayat ini, Qatadah mengatakan bahwa perintahkan mereka untuk taat kepada Allah dan laranglah mereka dari perbuatan maksiat kepada-Nya, bantulah mereka untuk mengerjakan perintah Allah, apabila kamu melihat mereka melakukan kemaksiatan maka tegurlah.

Ibnu Umar juga menuturkan,
“Didiklah anakmu karena kamu akan ditanya tentang pendidikan dan pengajaran seperti apa yang telah kamu berikan kepada anakmu. Anakmu juga akan ditanya tentang bagaimana dia berbakti dan berlaku taat kepadamu.”
Berdasarkan surah At Tahriim ayat 6 tersebut maka orang tua wajib mengajarkan agama kepada anak-anaknya serta menegur dan menasihati mereka apabila melakukan maksiat sebab anak adalah amanah yang dititipkan kepada orang tua dan setiap amanah ada pertanggung jawabannya kelak di akhirat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
“Kalian semua adalah pemimpin dan kalian akan dimintai pertanggung jawaban tentang kepemimpinan kalian. Laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan dia akan dimintai pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya. Istri adalah pemimpin dalam rumah tangga serta anak-anak suaminya dan dia akan dimintai pertanggung jawaban tentang mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Lalu bagaimana jika orang tua telah mengajarkan agama tetapi anaknya masih suka berbuat maksiat? Apakah yang demikian, orang tua dianggap gagal mengemban tanggung jawab?

Apabila orang tua telah mengajarkan agama kepada anak-anaknya serta menegur mereka ketika berbuat dosa tetapi sang anak masih saja gemar bermaksiat maka orang tua tidak dianggap gagal sebab mereka telah melaksanakan kewajiban dan tanggung jawab sebagai orang tua. Hanya saja orang tua dianjurkan untuk tetap berusaha menasihati anaknya sesuai kemampuan mereka. Jika sudah tidak mampu maka hendaknya mendoakan sang anak agar bertaubat dan mendapat petunjuk dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Didikan dan teguran orang tua yang tidak berpengaruh kepada anak biasanya disebabkan faktor lain seperti karena lingkungan atau pergaulan dengan teman-temannya. Kalau ternyata yang menyebabkan sang anak berbuat dosa adalah teman-temannya maka merekalah yang ikut terciprat dosa. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Dan Sesungguhnya mereka akan memikul beban (dosa) mereka, dan beban- beban (dosa yang lain) di samping beban-beban mereka sendiri,” (QS. Al ‘Ankabuut: 13)
Artinya, apabila seseorang mencontohkan perbuatan maksiat serta mengajak orang lain untuk melakukan maksiat itu maka dia mendapatkan dosa yang berlipat. Pertama, dia berdosa karena melakukan maksiat. Kedua, dia terciprat dosa ketika orang lain yang diajaknya melakukan maksiat tersebut.

Dengan demikian apabila seorang anak berbuat maksiat karena ajakan teman-temannya maka sang anak berdosa dan temannya pun turut menanggung dosanya. Akan tetapi jika sang anak berbuat dosa karena terjerumus godaan setan atau karena nafsunya sendiri maka dia menanggung dosanya sendiri dan orang lain tidak ikut menanggung dosa yang ia perbuat. Wallahu a’lam.