Seorang Anak Yang Lahir Tidak Diakui Oleh Ayahnya

Ketika seorang anak lahir ke dunia maka perasaan haru, senang, dan bangga bercampur aduk menjadi satu didalam hati sanubari kedua orang tua. Namun tidak semua anak terkadang lahir dalam suasana yang dianggap sangat menyenangkan. Pada sebagian kasus, ada juga kelahiran anak yang justru tidak diinginkan oleh orang tuanya atau bahkan diragukan oleh ayahnya sebagai anak kandungnya.

Lantas bagaimana jika ada seorang anak yang lahir tidak diakui oleh ayahnya? Bagaimana menurut pandangan syariat agama?

Para ulama sepakat bahwa selain Adam dan Hawa serta Isa ‘alaihi salam, tidak ada seorang pun yang lahir ke dunia ini tanpa peran seorang laki-laki yang bercampur dengan ibunya. Jika ayah tidak mengakui anaknya karena sejak kecil telah meninggalkannya padahal ia anak kandungnya yang hilang atau sengaja ditelantarkan maka para ulama sepakat bahwa tindakan ayahnya adalah salah dan berdosa karena ia telah memutus hubungan kekerabatan selama bertahun-tahun dan tidak menafkahi anak-anaknya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda menjelaskan bahaya memutus silaturahim:
“Sesungguhnya kata ‘rahim’ diambil dari nama Allah ‘Ar Rahman’ maka Allah berkata “Barangsiapa yang menyambungmu (rahim), Aku akan menyambungnya. Barangsiapa yang memutuskanmu maka Aku akan memutuskannya”.” (HR. Bukhari)
Lalu bagaimana jika ayah tidak mengakui anaknya karena ragu ia bukan anak biologisnya? Apa yang harus dilakukan?

Seorang suami bisa saja meragukan cinta dan kasih sayang istrinya jika istri bergaul terlalu bebas, bahkan bila demikian suami juga bisa meragukan anak yang dikandung istrinya. Lalu bagaimana jika ayah meragukan anak biologisnya dan tidak mau mengakuinya?

Menurut para ulama jika seorang suami tidak mengakui anak biologis dari istrinya maka dengan meragukan anaknya berarti ia telah menuduh istrinya berzina. Oleh karena itu, suami wajib mendatangkan empat orang saksi untuk membuktikan tuduhannya tersebut. Akan tetapi jika ia tidak mampu mendatangkan saksi-saksi itu maka hendaknya ia melakukan ‘li’an’ yaitu bersumpah empat kali atas nama Allah bahwa dia benar. Adapun sumpah yang kelima adalah Laknat Allah akan menimpa dirinya jika berdusta.
“Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, Maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, Sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar. Dan (sumpah) yang kelima: bahwa la'nat Allah atasnya, jika dia termasuk orang-orang yang berdusta.” (QS. An Nuur: 6-7)
Adapun istri, maka dia harus melakukan sumpah juga agar dirinya terhindar dari rajam. Namun apabila ia dalam sumpahnya maka Laknat Allah akan menimpa dirinya juga.
“Istrinya itu dihindarkan dari hukuman oleh sumpahnya empat kali atas nama Allah Sesungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta. Dan (sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah atasnya jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar.” (QS. An Nuur: 8-9)
Menurut para ulama, hukuman rajam jauh lebih ringan daripada jika laknat Allah ditimpakan kepada dirinya bila berdusta atau zina yang dilakukannya sebab laknat Allah berlaku di dunia dan di akhirat, sedangkan rajam hanya di dunia saja.

Namun lebih dari sekedar sumpah Mula’anah atau saling melaknat yang ditetapkan dalam Islam, ada usaha lain untuk memastikan apakah anak yang dikandung istrinya adalah anak biologisnya atau bukan yaitu dengan melakukan tes DNA untuk mencocokkan DNA dirinya dengan DNA anaknya. Hingga saat ini, tes DNA atau Deoxyribo Nucleic Acid masih menjadi media paling akurat untuk menentukan hubungan darah antara orang tua dan anaknya sehingga kecil kemungkinan ayah yang mengerti akan menghindar dari kebenaran ini. Adapun jika kebenaran ini masih diabaikan maka ia akan menanggung dosa yang akan sangat besar akibat menelantarkan anak dan tidak memenuhi kewajiban-kewajibannya. Wallahu a’lam bishshawab.