Samakah Keberkahan dan Keutamaan Seseorang Yang Belajar Agama Langsung Ke Majelis Ilmu Dengan Belajar Dari Media Digital?

Berkat perkembangan internet, televisi, dan telepon seluler sekarang orang dapat langsung mengikuti kajian dan belajar pada seorang guru yang berbeda jarak dan waktu. Bahkan dengan teknologi internet sekarang ini, banyak sekali ditemukan para ustadz atau ulama lain berceramah atau memberikan kajian secara live streaming sehingga jama’ah bisa menontonnya langsung meski tidak berada di tempat yang sama dengan sang ustadz bahkan hingga memungkinkan terjadi tanya jawab langsung.

Permasalahannya, apakah hal ini dibenarkan? Apakah cukup jika seseorang mendalami ilmu agama hanya melalui sarana-sarana elektronik atau media sosial? Lalu bagaimana dengan keberkahan dan keutamaannya? Apakah sama seperti bila datang langsung ke majelis ilmu tersebut?

Belajar ilmu agama melalui internet pada dasarnya sah-sah saja bahkan hal tersebut akan sangat membantu bila guru atau ustadznya berbeda kota atau jauh dari tempat dia berada. Namun harus dipertimbangkan bahwa belajar ilmu agama itu harus lewat guru sebab kalau tanpa guru bisa saja membuat seseorang tersesat karena salah paham atau salah mengerti.

Internet yang bisa diakses melalui telepon seluler atau televisi hanyalah merupakan media sedangkan guru atau ustadz yang memberikan kajian haruslah kita pilih-pilih sesuai keilmuan di bidangnya, apakah ia seorang ahli fiqih, ahli hadits, ataupun ahli sejarah. Orang-orang yang berniat belajar dan mendalami ilmu agama akan mendapat berbagai kebaikan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Mujaadilah: 11)
Bahkan dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Siapa saja yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan pahamkan dia dalam agama.” (Muttafaqun ‘alaih)
Namun demikian, menonton ceramah para ulama di internet lewat YouTube atau membaca ribuan kitab tidak akan menjamin kita paham ilmu agama. Tidak cukup seseorang menuntut ilmu syariat hanya bersandarkan kepada internet atau alat elektronik lainnya. Bahkan tidak memastikan kita bisa langsung menjadi ulama seketika sebab bila kita tidak berada di kelas bersama sang guru maka kita tidak secara langsung akan ditegur kalau keliru dalam memahami karena seseorang bisa saja mempunyai interpretasi yang tidak sesuai dengan apa yang dimaksud oleh gurunya. Oleh karena itu, belajar secara langsung kepada guru tetap menjadi sebuah keharusan sebab guru akan menegur kita bila kita salah paham.

Lalu bagaimana dengan manfaat keberkahan dan keutamaannya? Apakah belajar melalui internet memiliki keutamaan yang sama dengan belajar langsung kepada sang guru atau ulama tersebut?

Belajar ilmu agama di mana pun tetaplah sama, apakah ia hadir langsung di majelis ilmu ataupun ia menontonnya melalui internet secara live streaming maka tidak ada masalah asalkan niatnya memang untuk belajar dan memperdalam ilmu agamanya bahkan selain mendapatkan keberkahan dan ketenangan juga akan mendapatkan naungan malaikat bagi orang-orang yang senantiasa belajar ilmu-ilmu yang ada.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidaklah suatu kaum duduk untuk mengingat Allah kecuali para malaikat rahmah mengelilinginya, rahmat Allah menyelimutinya dan turun kepada mereka ketenangan serta Allah memuji mereka di hadapan makhluk yang berada di sisinya.” (HR. Muslim)
Seorang ulama kontemporer menjawab pertanyaan muridnya tentang apakah belajar ilmu agama melalui media lain akan mendapatkan keberkahan atau keutamaan seperti saat datang langsung ke majelis ilmu. Beliau menjawab,
“Iya, dengan izin Allah, Allah itu Maha Pemurah. Orang itu sedang melakukan kebaikan dan amal shalih kami harap ia mendapatkan keutamaan demikian yaitu dikelilingi malaikat rahmah.”
Menurut beliau bahwa sekarang ini majelis ilmu menjadi lebih luas sejak adanya banyak sarana-sarana misalkan adanya pengeras suara dan sarana belajar yang lain membuat majelis ilmu menjadi luas dan tersebar luas diantara manusia maka kami harap mendapatkan keutamaan bagi orang yang ikut mendengarkan dan ikut serta dalam majelis ilmu tersebut. Artinya, begitu banyak keutamaan ilmu yang diperoleh penuntut ilmu dimanapun dan kapanpun berada.

Namun jika keutamaannya sama, apakah pahalanya juga sama seperti orang-orang yang sengaja hadir dalam kajian-kajian dan majelis ilmu?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya besarnya pahala tergantung dengan besarnya ujian.” (HR. At Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Dalam hadits ini dijelaskan bahwa kadar dan banyaknya dari suatu ganjaran yang akan didapatkan oleh seseorang tergantung sebanyak dan sesusah apa cobaan yang ia dapatkan ketika ia melaksanakannya.

Begitu pula seseorang yang sedang mendalami ilmu agama maka tentu pahalanya menjadi berbeda antara yang bersusah payah hadir langsung di majelis ilmu dengan yang hanya menonton melalui internet. Namun berapa besar pahalanya hanya Allah subhanahu wa ta’ala yang tahu dan yang menentukan.

Imam Syafi'i mengatakan dalam sebuah syairnya,
“Bersikap sabarlah pada kerasnya sikap seorang guru. Sesungguhnya gagalnya mempelajari ilmu karena memusuhinya. Siapa saja yang belum pernah merasakan pahitnya belajar meski hanya sebentar, ia akan merasakan hinanya kebodohan sepanjang hayatnya.”