Rumah Seperti Kuburan Jika Tidak Pernah Dibacakan Al Qur’an

Al Qur’an merupakan pedoman hidup bagi tiap muslim. Karenanya, membaca Al Qur’an memiliki keutamaan yang begitu besar. Namun ada anggapan bahwa rumah yang tidak dibacakan Al Qur’an akan menjadi seperti kuburan. Orang-orang yang tinggal di dalamnya tidak ubahnya seperti mayat-mayat penghuni makam. Rumah yang seperti itu juga akan terasa sempit, tidak dikunjungi malaikat rahmat, dan akan menjadi sarang setan. Benarkah anggapan seperti itu? Bagaimana seharusnya?

Memang benar bahwa rumah yang tidak pernah dibacakan Al Qur’an akan menjadi seperti kuburan. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah berpesan agar kondisi seperti ini tidak pernah menimpa seorang pun dari umatnya. Beliau bersabda:
“Jangan jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan. Sesungguhnya setan akan lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan surah Al Baqarah.” (HR. Muslim)
Jika rumah kita menjadi tempat singgahan setan, pasti membuat penghuninya gelisah dan tidak suka karena Allah ta’ala telah menetapkan setan sebagai musuh yang sebenarnya bagi manusia maka agar terhindar dari gangguan setan di rumah, perbanyaklah membaca Al Qur’an di rumah.

Jika orang yang  tidak biasa membaca Al Qur’an diibaratkan dengan penghuni kuburan lantas berdosakah seorang muslim yang tidak bisa membaca Al Qur’an?

Bila orang yang tidak bisa membaca Al Qur’an itu memiliki kecerdasan yang cukup bahkan termasuk orang yang berpendidikan namun enggan memperhatikan Al Qur’an dan tidak mau untuk belajar maka dia berdosa karena ketidakmampuannya itu. Sebaliknya, bila sudah berusaha belajar dengan semaksimal mungkin akan tetapi takdir Allah menghendakinya tidak mampu membaca Al Qur’an maka dia tidak berdosa.

Jika demikian, apa yang harus dilakukan untuk menutupi kekurangan ini?

Bila seseorang sudah belajar semaksimal mungkin namun masih tidak bisa membaca Al Qur’an maka sering-seringlah mendengarkan Al Qur’an baik saat ada pengajian atau dari rekaman sekalipun karena di zaman sekarang sangat mudah ditemukan rekaman Al Qur’an baik dalam bentuk cakram padat, DVD, atau aplikasi dalam telepon seluler, atau kalau ada rizki bisa mengundang Qari atau Hafidz Al Qur’an untuk membaca Al Qur’an di rumahnya. Selain itu bisa juga dengan berusaha menghafal surah-surah pendek seperti Al Fatihah dan surah-surah yang terdapat dalam Juz Amma. Wallahu a’lam.

Al Qur’an adalah sumber pertama dan acuan utama dalam ajaran Islam, sesuai namanya Qur’an berarti bacaan yang sempurna. Kitab ini dapat dibaca oleh orang yang mengerti artinya dan bisa pula dibaca oleh orang yang tidak memahami dan tidak mengerti atau yang bahasa ibunya bukan bahasa Arab. Ada yang lebih mahir membacanya daripada orang Arab.

Banyak sekali anjuran tentang perlunya membaca Al Qur’an, Imam Bukhari misalnya meriwayatkan sebuah hadits dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)
Dalam hadits ini terdapat dua amalan seorang muslim yang membuatnya menjadi yang terbaik diantara saudara-saudaranya sesama muslim yaitu belajar Al Qur’an dan mengajarkan Al Qur’an, tentu baik belajar maupun mengajar yang dapat membuat seseorang menjadi yang terbaik disini tidak bisa lepas dari keutamaan Al Qur’an itu sendiri.

Jika sudah belajar Al Qur’an hingga mengerti maknanya maka sudah seharusnya Al Qur’an diamalkan dan jangan diabaikan. Dalam Al Qur’an ada ayat yang menjelaskan bahwa pada hari kiamat kelak ketika langit pecah mengeluarkan kabut putih dan para malaikat diturunkan secara bergelombang, Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wa sallam akan mengadukan kaumnya kepada Allah karena menelantarkan Al Qur’an,
“Ya Tuhanku, Sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran ini diabaikan.” (QS. Al Furqaan: 30)
Secara konteks, objek pengaduan Nabi ini memang terhadap orang kafir Quraisy namun menurut sebagian ulama hal tersebut juga bisa mencakup setiap orang yang mengabaikan Al Qur’an dengan tingkatan yang berbeda-beda misalnya ada yang menelantarkan Al Qur’an dengan cara tidak mengindahkan Al Qur’an sama sekali, tidak mengimaninya, dan justru mengingkarinya. Bentuk inilah yang dilakukan oleh orang-orang kafir.

Namun ada pula yang mengimaninya tapi menelantarkan Al Qur’an dengan cara tidak mempelajarinya dan tidak membacanya. Bahkan ada juga yang sudah rajin membaca dan merenungi namun belum mengamalkan Al Qur’an dengan masih melanggar perintah Allah subhanahu wa ta’ala yang terkandung dalam Al Qur’an.

Dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dijelaskan bahwa orang yang suka membaca Al Qur’an di rumah-rumah Allah secara bergantian dan mengajarkannya kepada sesama akan dilimpahi ketenangan, ketenteraman, dan rahmat Allah subhanahu wa ta’ala dari langit serta akan dijaga oleh malaikat.

Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam juga pernah berpesan,
“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al Qur’an maka baginya satu kebaikan dan setiap kebaikan akan dilipatgandakan hingga sepuluh kebaikan. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf namun Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf.” (HR. Tirmidzi)
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah maka Allah subhanahu wa ta’ala akan menyempurnakan pahala mereka dan menambah karunia-Nya pada mereka.