Ragu Menasihati Teman Karena Merasa Diri Sendiri Masih Belum Benar

Teman yang baik adalah teman yang senantiasa membantu dan saling mengingatkan. Namun terkadang seseorang ragu untuk menasihati temannya yang melakukan kemungkaran. Keraguan ini biasanya karena merasa dirinya belum cukup baik untuk memberikan nasihat dan mengajak orang lain untuk berbuat kebaikan, misalnya tidak jadi menasihati teman yang gemar berjudi karena merasa dirinya masih belum sempurna dalam melaksanakan shalat.

Pertanyaannya, jika ragu menasihati teman karena merasa belum benar juga lalu apa yang harus dilakukan?

Berikut penjelasan Ustadz Sarwat: Menegur kemaksiatan atau kemungkaran yang pada diri orang lain sementara kita sendiri pun juga masih bergelimang dengan kemaksiatan yang sama atau mungkin pada bidang yang berbeda tapi sama-sama maksiat juga memang merupakan sebuah dilema. Ada ancaman dari Allah subhanahu wa ta’ala:
“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan..” (QS. Ash Shaff: 2-3)
Yang harus kita lakukan adalah:
  1. Kita sendiri harus memulai dari diri kita jangan nyinyir/mengurusi urusan orang lain. Buat apa kita ingat-ingatkan orang lain kalau kita belum memulai dari diri kita sendiri?
  2. Bukan berarti kalau kita masih melakukan kemungkaran maka kemudian kita membiarkan saja orang lain melakukan kemungkaran. Hanya saja ada seni/tekniknya bagaimana agar pesan kita sampai kepada yang kita tuju tapi orangnya tidak tersinggung, tidak marah, malah berterima kasih. Seninya ini agak sulit karena kita harus punya hubungan yang baik dulu kepada orang tersebut. Kalau dia berada pada posisi musuh/saingan kita lalu kita kritisi maka bukannya dia terima pesan kita malah dia akan mencari-cari kesalahan kita dan kemudian kita mencari keributan.
Yang harus kita lakukan adalah:
  1. Membuat hubungan yang sangat baik.
  2. Menyampaikannya harus pada kondisi yang paling tepat.
  3. Menyampaikannya tidak harus menggurui/menceramahi tetapi dengan bahasa yang lebih segar, bersenda gurau dan kritik itu tidak kita tujukan kepada orang tersebut saja tetapi pada diri kita juga sehingga orang yang diberikan pesan itu dia bisa tangkap pesan kita tanpa dia harus merasa tersinggung seperti kita menunjuk maka telunjuk kita kepada orang itu tapi jari yang lain malah kepada diri kita sendiri lalu kita bisa menertawai kebodohan kita bersama.
Ini semacam otokritik yang disampaikan dengan suasana yang segar ibarat orang yang mancing ikan, dapat ikannya tanpa harus membuat airnya jadi keruh, yang sering terjadi adalah airnya diobok-obok sampai keruh semua, ikannya satupun tidak dapat maka itu berarti gagal komunikasinya.

Kalau tidak yakin berkomunikasi dengan baik sebaiknya jangan dulu mengurusi urusan orang lain, kita mulai dulu dari diri kita yang lebih baik sehingga kita bisa memotivasi orang lain tanpa harus kita merasa ketakutan bahwa diri kita sendiri malah belum melakukannya.