Posisi Imam Lebih Tinggi Daripada Makmum Saat Shalat Berjama’ah

Terkadang ditemui di masyarakat, saat melaksanakan shalat berjama’ah baik di masjid maupun di lapangan, posisi imam dan makmum berbeda ketinggian. Mihrab imam dibuat lebih tinggi dibanding lantai makmum sehingga saat shalat posisi imam lebih tinggi daripada makmumnya. Apakah hal ini diperbolehkan? Lalu apakah shalat jama’ahnya sah?

Pada dasarnya, syariat melarang posisi imam ketika shalat berjama’ah lebih tinggi dibandingkan posisi makmum, kecuali ada tujuan khusus untuk mengajari makmumnya. Imam Syafi'i rahimahullah dalam kitab Al Umm menjelaskan bahwa kalau imam pernah mengajari orang shalat yakni berdiri di tempat yang tinggi satu kali saya menyukai baginya setelah itu untuk shalat sejajar dengan makmum.

Hal ini tidak pernah diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau shalat di atas mimbarnya melainkan hanya satu kali, tempat beliau selain waktu itu adalah di atas tanah bersama para makmum. Oleh karena itu yang dipilih adalah imam sejajar dengan makmum, seandainya lebih tinggi shalat mereka tidak rusak atau tetap sah.

Sebuah riwayat mengisahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat di atas mimbar. Sahabat Sahl bin Sa’ad As Sa’idi radhiyallahu ‘anhu menceritakan,
“Saya pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami di atas mimbar, beliau takbiratul ihram dan jama’ah pun ikut takbir di belakang beliau, sementara beliau di atas mimbar kemudian ketika beliau I’tidal beliau mundur ke belakang untuk turun sehingga beliau sujud di tanah lalu beliau kembali lagi ke atas mimbar hingga beliau menyelesaikan shalatnya, kemudian beliau menghadap kepada para sahabat dan bersabda “Wahai para sahabat, aku lakukan ini agar kalian bisa mengikutiku dan mempelajari shalatku”.” (Muttafaqun ‘alaih)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami shalat dengan posisi lebih tinggi karena beliau ingin para sahabat yang menjadi makmum belajar gerakan shalat sehingga berdasarkan hadits ini para ulama menjelaskan bahwa imam boleh berada di posisi yang lebih tinggi daripada makmum jika ada kebutuhan, misalnya agar bisa dilihat makmum atau agar suaranya bisa didengar oleh makmum.

Lalu bagaimana jika yang terjadi sebaliknya, posisi makmum lebih tinggi daripada sang imam apalagi sekarang ini banyak masjid yang lantainya bertingkat dua hingga tiga lantai? Bagaimana syariat mengaturnya?

Secara ringkas, tempat makmum boleh lebih tinggi dari imam. Imam Syafi'i dalam kitab Al Umm menjelaskan tidak mengapa makmum mengerjakan shalat di atas masjid lantai satu dan seterusnya dan imam shalat di dalam masjid apabila ia dapat mendengar suaranya atau melihat sebagian orang yang ada di belakang imam. Hal ini juga pernah dilakukan oleh Abu Hurairah dan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhuma,
“Abu Hurairah shalat di lantai atas masjid dengan shalatnya mengikuti imam.”
Riwayat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menyebutkan,
“Beliau melakukan shalat jum’at di rumah Abu Nafi’ radhiyallahu ‘anhu di sebelah kanan masjid, di sebuah ruangan setinggi postur tubuh manusia, ruangan yang pintunya mengarah ke masjid di kota Basrah. Anas radhiyallahu ‘anhu mengikuti shalat jum’at di tempat tersebut dan menjadi makmum.”
Ibnu Rajab rahimahullah berkata,
“Shalat pada tempat yang dibangun di atas tanah semacam sebuah ruangan di masjid atau di atas loteng masjid semuanya boleh dan tidak ada kemakruhan dalam hal ini.”
Wallahu a’lam.