Perempuan Harus Taat Orang Tua Atau Taat Suami?

Al Qur’an sebagai pedoman hidup umat muslim banyak memberikan tuntunan dalam kehidupan. Salah satunya tentang hubungan antara anak dan orang tua. Begitu banyak dalil yang mewajibkan seseorang berbuat baik dan berbakti kepada orang tua. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Dan kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu- bapaknya. dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan.” (QS. Al ‘Ankabuut: 8)
Namun ada riwayat dalam hadits agar wanita wajib mentaati suaminya. Hal ini pernah terjadi ketika sahabat menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci.” (HR. An Nasa’i)
Jika demikian, siapa yang harus diutamakan bagi seorang perempuan, mentaati orang tua ataukah mentaati sang suami? Manakah yang harus didahulukan?

Menurut kebanyakan para ulama bahwasanya bagi seorang wanita yang belum menikah maka orang tua lebih berhak untuk ditaati namun ketika ia telah menikah pada dasarnya taat kepada suami merupakan kewajiban yang harus diutamakan melebihi orang tuanya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu Fatawa mengatakan bahwa seorang perempuan jika telah menikah maka suami lebih berhak terhadap dirinya dibandingkan kedua orang tuanya dan mentaati suami itu lebih wajib daripada taat orang tua.

Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain niscaya aku akan memerintahkan istri untuk sujud kepada suaminya.” (HR. At Tirmidzi)
Berdasarkan hadits tersebut maka pada dasarnya seorang istri berkewajiban untuk lebih mendahulukan hak suami daripada orang tuanya, jika tidak mungkin menyelaraskan dua hal ini. Bahkan karena tingginya kedudukan suami, sang istri pun harus selalu izin kepada suami setiap kali melakukan sesuatu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidak diperbolehkan bagi wanita untuk berpuasa, sedangkan suaminya ada di sisinya kecuali dengan izinnya, istri juga tidak boleh memasukkan orang ke dalam rumahnya kecuali dengan izin suaminya, dan harta yang ia nafkahkan bukan dengan perintahnya maka setengah pahalanya diberikan untuk suaminya.” (HR. Bukhari)
Bila demikian, muncul pertanyaan bagaimana bila sang ibu yang sudah menjadi janda, sakit-sakitan, dan membutuhkan bantuan anak perempuannya? Apakah sang anak perempuan tetap harus mentaati suami yang melarangnya bertemu ibunya?

Menurut sebagian ulama, ketaatan kepada suami bukanlah mutlak karena yang diutamakan adalah mematuhi suami dalam hal ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, sementara bila dalam hal kemaksiatan maka tidak wajib untuk ditaati. Hal ini berdasarkan pada sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Tidak ada kewajiban taat kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Al Khalik (Maha Pencipta).” (HR. Bukhari, Muslim, An Nasa’i)
Apabila ada seorang ibu yang sudah tua dan menjanda serta sakit-sakitan maka ia memiliki hak-hak yang sangat banyak yang harus ditunaikan oleh putrinya meskipun anak perempuannya sudah bersuami. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al Israa: 23)
Sedangkan sang suami pun hendaknya tidak melarang istrinya menjenguk sang ibu yang sudah tua dan sakit-sakitan apalagi bila tidak ada orang lain yang merawatnya karena Rasulullah menyebutkan seorang muslim yang sedang sakit untuk dijenguk oleh muslim lainnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada lima: (1) Menjawab salam, (2) Mengunjungi orang sakit, (3) Mengikuti jenazah-jenazah, (4) Memenuhi undangan, dan (5) Menjawab orang yang bersin.” (Muttafaqun ‘alaih)
Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menegaskan pentingnya berbuat baik kepada orang tua terutama sang ibu. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu beliau mengatakan,
“Seseorang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengatakan “Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab “Ibumu.” Dan orang tersebut kembali bertanya “Kemudian siapa lagi?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab “Ibumu.” Orang tersebut bertanya kembali “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab “Ibumu.” Orang tersebut bertanya kembali “Kemudian siapa lagi?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab “Kemudian ayahmu”.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Masalah lainnya adalah jika ada konflik antara ibu dan suaminya, bagaimana sang istri harus bersikap?

Saat adanya konflik antara ibu dengan suaminya maka seorang istri berusaha semaksimal mungkin untuk mendamaikan keduanya. Namun jika tidak dapat didamaikan juga maka menurut ulama tidak diragukan bahwa seorang anak hukumnya wajib memenuhi hak ayah atau ibunya sebagai hak yang ditekankan.

Apabila menghadapi perselisihan antara ibunya dengan suaminya, sementara sang istri tidak tahu harus berada di pihak yang mana maka ia wajib berpihak pada kebenaran. Apabila suami berada di pihak yang benar maka wajib berpihak kepada suami dan menasihati ibu, sebaliknya bila ibu dalam posisi yang benar sedangkan suami di pihak yang salah maka sudah pasti wajib berpihak pada ibu serta berupaya menasihati sang suami.

Dengan demikian, kewajiban seorang istri bila mengalami masalah tersebut adalah berpihak kepada kebenaran dan menasihati yang salah diantara keduanya. Selanjutnya, berusaha untuk memperbaiki hubungan keduanya dan menyelesaikan permasalahan diantara ibu dan suami semampunya adalah yang lebih baik untuk dilakukan.

Dengan demikian sang istri tersebut akan memperoleh pahala karena memperbaiki hubungan sesama manusia terlebih lagi hubungan karib kerabat. Karena hal ini, termasuk amalan ketaatan yang paling besar. Allah ta’ala berfirman:
“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. dan barangsiapa yang berbuat demikian Karena mencari keredhaan Allah, Maka kelak kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (QS. An Nisaa’: 114)