Pentingnya Menjaga Amanah

Kehidupan manusia di dunia sejatinya tidak pernah lepas dari amanah yang harus senantiasa dijaga. Amanah mencakup seluruh hak-hak Allah subhanahu wa ta’ala atas seseorang, karenanya amanah menjadi tugas yang diberikan Allah kepada manusia sebagai hamba-Nya dan berkewajiban untuk menunaikannya. Amanah yang diberikan Allah kepada seorang manusia juga mencakup hak-hak atas orang lain, hak-hak yang harus senantiasa dijaga agar selalu ditunaikan bukan dilalaikan.

Oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala tegas mengingatkan pentingnya menjaga amanah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu Mengetahui.” (QS. Al Anfaal: 27)
Begitu besar karunia Allah yang dilimpahkan kepada hamba-hamba-Nya umat manusia. Anugerah itu meliputi segala aspek kehidupan mulai dari anugerah yang nyata hingga yang kasat mata. Dari anugerah keimanan, kesehatan, sampai harta benda yang mengandung banyak kenikmatan.

Harta benda dan kekayaan adalah mutlak milik Allah subhanahu wa ta’ala, harta benda juga merupakan ujian keimanan sekaligus sebagai bekal ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Ini semua adalah titipan dan semua itu adalah amanah Allah subhanahu wa ta’ala kepada umat-Nya. Begitu beratnya menjaga amanah, harta, dan kekayaan yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala pun menjanjikan pahala besar bagi mereka yang selalu menjaga dan memanfaatkan amanah itu.
“Berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah Telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.” (QS. Al Hadid: 7)
Menjadi keharusan bagi kita untuk selalu bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Takwa ini merupakan bekal terbaik bagi seorang hamba dalam mengarungi kehidupan.

Jabatan atau kekuasaan itu adalah amanah sekaligus tanggung jawab yang diberikan Allah subhanahu wa ta’ala. Dalam amanah jabatan atau kekuasaan yang diberikan kepada seorang pemimpin, Allah mengingatkan agar senantiasa berbuat adil dalam mengemban tanggung jawab seperti tersurat dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An Nisaa’: 58)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan bahwa setiap manusia adalah pemimpin. Besarnya tanggung jawab pemimpin dalam mengatur kemaslahatan umat kelak akan dijanjikan surga Allah apabila bisa bertanggung jawab dalam mengemban amanah dan sebaliknya, pemimpin yang zalim termasuk ke dalam tiga golongan manusia yang hina di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala.
“Tiga orang yang Allah enggan berbicara dengan mereka pada hari kiamat kelak, Dia tidak sudi memandang muka mereka, Dia tidak akan membersihkan mereka daripada dosa dan noda, dan bagi mereka disiapkan siksa yang sangat pedih. Mereka adalah (1) Orang tua yang berzina, (2) Penguasa yang suka berdusta, dan (3) Fakir miskin yang takabur.” (HR. Muslim)
Amanah penting yang dititipkan Allah azza wa jalla kepada manusia adalah amanah memelihara anak dan keturunan. Anak keturunan adalah cobaan yang diberikan Allah kepada orang tua. Anak bisa menjadi musuh, anak bisa pula menjadi fitnah atau ujian, dan anak bisa menjadi perhiasan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Dan Ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. Al Anfaal: 28)
Menerima, menjaga, dan mengamalkan amanah Allah subhanahu wa ta’ala merupakan tugas berat yang dipikul manusia. Begitu beratnya amanah yang dititipkan Allah hingga langit dan bumi serta gunung enggan memikul amanah itu karena khawatir akan mengkhianatinya. Hal ini jelas tertuang dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya kami Telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,” (QS. Al Ahzab: 72)
Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan kita sebagai manusia yang senantiasa menjaga amanah titipan Allah subhanahu wa ta’ala. Aamiin.