Pentingnya Meluruskan dan Merapatkan Shaf Shalat Berjama’ah

Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyiapkan shaf shalat berjama’ah dengan memerintahkan,
“Rapatkanlah shaf kalian, rapatkan barisan kalian, luruskan pundak dengan pundak, Demi Allah Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, sungguh aku melihat setan masuk di sela-sela shaf seperti anak kambing.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Hibban)
Dalam riwayat yang lain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Luruskan shaf agar kalian bisa meniru shafnya malaikat, luruskan pundak-pundak, tutup setiap celah, dan buat bahu kalian luwes untuk teman kalian, serta jangan tinggalkan celah-celah untuk setan. Siapa yang menyambung shaf maka Allah subhanahu wa ta’ala akan menyambungnya dan siapa yang memutus shaf, Allah akan memutusnya.” (HR. Ahmad)
Merapatkan shaf merupakan jalan untuk menghindari masuknya setan di dalam barisan shalat. Salah satu setan yang kerap mengganggu seseorang yang sedang shalat bernama Khinzib, sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu pernah mendatangi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau mengadukan gangguan yang terjadi ketika shalat kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Itu adalah setan, namanya Khinzib jika kamu diganggu mintalah perlindungan kepada Allah dari gangguannya dan meludahlah ke kiri tiga kali.” (HR. Muslim)
Di dalam shaf yang longgar, ada banyak bentuk godaan setan ketika shalat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Ketika adzan dikumandangkan, setan menjauh sambil terkentut-kentut sehingga tidak mendengarkan adzan. Setelah adzan selesai, dia datang lagi. Ketika iqamah dikumandangkan, ia pergi. Setelah iqamah selesai, setan akan balik lagi lalu membisikkan dalam hati orang yang shalat “ingat ini ingat itu” mengingatkan sesuatu yang terlintas dalam ingatan hingga ia lupa berapa jumlah raka’at yang ia kerjakan.” (HR. Bukhari)
Selain munculnya ingatan-ingatan akan perkara-perkara tertentu, setan juga akan menggoda konsentrasi orang yang sedang shalat sehingga telah merasa berhadats atau tidak suci. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu memberikan nasihat kepada seseorang yang senantiasa was-was dengan hadats ketika sedang shalat,
“Sesungguhnya setan mendatangi kalian ketika kalian shalat lalu dia basahi tempat keluarnya kencing hingga kalian merasa berhadats, merasa ada kencing yang keluar, ia juga datang dan menabok dubur kalian sehingga kalian merasa telah kentut karena itu janganlah kalian batalkan shalat sampai mencium bau kentut atau ada yang basah di celana.”
Meluruskan dan merapatkan shaf shalat merupakan hal penting. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu memeriksa barisan shaf para sahabatnya sebelum shalat. Beliau mendatangi setiap shaf dari satu sudut ke sudut lainnya. Beliau mengusap setiap pundak atau dada-dada kami dengan berkata,
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang-orang yang menyambung shaf-shaf terdepan.”
Konon di masa kekhalifahan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, beliau sangat tegas dalam masalah ini. Beliau mempunyai petugas khusus yang menyatakan shaf sudah lurus atau belum bahkan beliau pernah meluruskan barisan shaf dengan menggunakan pedangnya. Wallahu a’lam bishshawab.