Orang Yang Shalat Sunnah Di Mushala Sempit Sehingga Mengganggu Jama’ah Lain Yang Akan Shalat Fardhu

Jamak dipahami di Indonesia bahwa mushala adalah tempat shalat yang lebih kecil dari masjid, sementara di negara-negara Arab, mushala atau tempat shalat lain yang lebih kecil dari masjid disebut Zawiyah. Pada saat ini, perkantoran rata-rata memiliki mushala kecil sehingga ketika shalat fardhu harus bergantian.

Lalu bagaimana dengan jama’ah yang ingin melaksanakan shalat sunnah ba’diyah setelah shalat wajib sementara banyak orang yang antri untuk shalat wajib? Bolehkah ia tetap melaksanakan shalat sunnahnya ataukah sebaiknya tidak usah?

Tentang orang yang shalat sunnah ba’diyah atau qabliyah di mushala kantor yang sempit sehingga mengganggu jama’ah lain yang akan shalat fardhu maka sebaiknya tidak usah dilakukan demi memberi kesempatan kepada yang lain. Disini berlaku skala prioritas yang wajib harus didahulukan dari yang sunnah.

Imam Suyuthi membawakan kaidah dalam masalah ini,
“Amalan wajib lebih utama daripada amalan sunnah.”
Lebih tegas lagi Ibnu Hajar mengatakan,
“Barangsiapa yang disibukkan oleh yang wajib dari yang sunnah maka patut dimaklumi. Sedangkan orang yang disibukkan oleh yang sunnah sehingga melalaikan yang wajib maka dia adalah orang yang tertipu.”
Selain itu, shalat sunnah ba’diyah atau qabliyah bisa dilakukan di tempat lain bahkan bisa dilakukan dengan posisi duduk di kursi kerjanya. Wallahu a’lam.

Lalu bagaimana dengan shalat berjama’ah bagi wanita di kantor yang mushalanya sempit? Apakah jika mushala sempit maka lebih baik shalat munfarid atau sendirian di sekitar meja kerjanya?

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Shalat seorang wanita di ruang tengah lebih afdhal daripada shalatnya di ruang depan rumahnya. Shalat wanita di kamarnya lebih utama daripada shalatnya di ruang tengahnya.” (HR. Abu Dawud)
Artinya, tempat shalat wanita di dalam rumah semakin tidak terlihat dan jauh dari akses kaum laki-laki akan semakin utama. Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sebaik-baik masjid bagi para wanita adalah di bagian dalam rumah mereka.” (HR. Ahmad)
Sementara baik shalat di mushala kantor atau shalat di dekat meja kerja, kaum wanita sudah tidak bisa mendapatkan keutamaan ini. Jika demikian, lalu bagaimana? Dimanakah para pekerja wanita ini harus shalat di kantornya?

Bila para wanita yang bekerja di kantor ini mau shalat maka tempatnya harus dipilih mana yang lebih melindungi seperti telah disebutkan semakin tidak terlihat dan jauh dari akses laki-laki maka akan semakin utama. Dari sini, bila ruang kantor terbuka sehingga apabila shalat di dekat meja bisa terlihat dari segala penjuru (depan, belakang, kanan, dan kiri) maka shalat di mushala kantor Insya Allah lebih baik karena meskipun berjubel saat shalat, mereka akan mengambil tempat di bagian belakang. Berbeda bila kantornya tertutup atau memiliki ruang kerja sendiri, jika demikian maka shalat di ruang kerja akan lebih baik. Wallahu a’lam.